Kamis, 17 April 2008

PIALA DUNIA

0 komentar

Saat ini hampir separo penduduk dunia mengarahkan perhatiannya ke Jerman. Bukan disana Hitler bangkit kembali, tetapi ada pertandingan sepak bola piala dunia. Acara empat tahunan ini mampu menyedot perhatian manusia di dunia. Membawa banyak orang dari aneka negara terutama negara yang masuk dalam finalis ke Jerman. Banyaknya pendatang membuat ekonomi Jerman bergerak lebih baik lagi. Menurut sebuah harian di Jawa Timur, piala dunia sepak bola mampu membuat ekonomi negara yang ketempatan menjadi lebih baik. Korea dan Jepang ekonominya juga semakin bergerak ketika ada piala dunia.Sepak bola sudah bergeser dari sebuah olah raga menjadi sebuah ajang bisnis yang menganggumkan. Tidak ada cabang olah raga yang menyedot perhatian manusia sedemikian besar seperti sepak bola. Kecintaan manusia pada sepak bola membuat mereka setia untuk datang di stadion atau menonton di TV. Moment itu digunakan oleh para pebisnis untuk mendongkrak produksinya. Mulai dari bisnis jasa seperti hotel, angkutan, restoran dan sebagainya sampai produk-produk yang ditawarkan dalam iklan sepak bola, baik itu di stadion maupun dalam iklan di TV atau media lain.Beberapa tahun lalu Paus Yohanes Paulus II pernah prihatin ketika mengetahui bahwa Christian Vieri ditransfer 50 juta dollar dari AC Milan ke Inter Milan pada tahun 1999. Paus prihatin bagaimana uang sedemikian besar hanya digunakan untuk membayar pemain sepak bola, padahal di dunia masih banyak orang yang sangat membutuhkan uang. Padahal sekarang saja biaya transfer seorang pemain sudah jauh dari yang diterima oleh Vieri. Bila dollar pada tahun itu sekitar Rp 10.000 maka Vieri harga transfer Vieri sebesar Rp 50 Milyard. Sekarang pemain gelandang Argentina Rodriguez sudah ditawari Rp 308 Milyard oleh AC Milan. Hal itu belum lagi pemasukan dari sponsor dan sebagainya. Bila kita bisa matematika maka kita dapat menghitung sendiri berapa gajinya per hari atau bahkan perjamnya. Lebih gila lagi presiden Nigeria, Olesgum Abasanjo rela mengeluarkan dana dari kas negara sebesar 1 Milyard dollar atau Rp 9 Trilyun untuk membangun sebuah stadion. Padahal Nigeria adalah negara miskin yang masih diancam perang saudara dan pemberontakan.Dari sini kita dapat merenungkan betapa sepak bola sudah sedemikian mempengaruhi manusia. Bila dipikirkan dengan kepala jernih apakah dana-dana transfer seorang pemaian yang sedemikian besar sudah wajar bagi dunia saat ini? Dimana sebagian dunia masih diliputi kemiskinan, kelaparan, bencana dan sebagainya? Dalam olah raga bola basket yang paling menghebohkan yaitu NBA ada batasan tingginya transfer seorang pemain, tapi dalam sepak bola tidak ada batasan. Siapa yang mempunyai uang banyak dapat membeli pemain yang bagus.Iming-iming uang yang banyak membuat banyak orang bermimpi menjadi pemain sepak bola yang hebat. Sebab selain mendapat uang mereka juga mendapatkan popularitas dan fasilitas lain yang tidak dapat dimiliki oleh orang lain pada umumnya. Tampaknya sepak bola menjadi janji yang menggiurkan banyak orang.Bagaimana dengan di Indonesia? Sepak bola di negara ini memang masih sangat memprihatinkan. Prestasi di lapangan sangat minim tapi prestasi di luar lapangan memang sangat membuat heboh. Menonton sepak bola di sini mendapat tambahan atraksi yaitu perkelahian antar pemain, antar pemain dengan wasit, antar penonton, penonton dengan masyarakat dan sebagainya. Memang sepak bola di sini belum sehebat dan semengagumkan di negara Eropa atau beberapa Asia lainnya. Tidak ada transfer pemain yang sangat bombastis. Semua masih dalam taraf dapat dipahami. Tapi melihat transfer pemain di Eropa kita dapat bertanya-tanya. Sedemikian besarkah jurang antar negara kaya dan negara miskin? Apakah tidak ada solidaritas diantara kita?Padahal sepak bola Eropa atau negara maju berkembang juga didukung oleh masyarakat dari dunia ketiga atau negara tidak berkembang. Sebuah klub bisa kaya raya sebab setiap mereka bertanding akan diliput dan liputan itu dijual ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam setiap tayangan juga ada iklan yang membuat banyak masyarakat dunia ketiga membeli produk yang ditawarkan. Jadi mereka juga didukung oleh dunia ketiga. Tapi apakah adil bila mereka mendapatkan puluhan milyard sedangkan masih banyak orang yang kelaparan? Inilah yang perlu ditanyakan.

silakan baca selanjutnya "PIALA DUNIA" ...

CHICO

0 komentar

Sore itu kami sedang duduk di ruang tamu rumah ibu. Diluar hujan turun dengan derasnya. Tiba-tiba adikku masuk dengan tubuh basah kuyup sambil menggendong Chiko. Dia mengomel panjang lebar mengenai Chiko yang nakal suka main air hujan. Tidak lama kemudian sudah terdengar dengkingan Chiko dari kamar mandi. Chiko adalah seekor anjing kecil. Aku tidak tahu jenis apa. Tinggi tubuhnya tidak lebih dari 25 cm. Bulunya putih dan panjang. Sangat lucu. Chiko suka main air hujan. Maka ketika hujan turun langsung adikku mencarinya, ketika tidak diketemukan di rumah, dia segera keluar rumah mencarinya di tengah guyuran hujan.

Tidak berapa lama kemudian adikku sudah keluar dari kamar mandi dan mulai mengeringkan tubuh Chiko dengan handuk. Dia lalu menyuruh Chiko duduk dekat kami berkumpul. Tidak sampai 5 menit Chiko sudah lari keluar dan berguling-guling di teras. Padahal lantai teras masih berupa tanah, akibatnya tubuh Chiko kotor kembali. Penuh dengan tanah. Melihat hal itu adikku langsung berteriak-teriak memarahi Chiko. Aku hanya tertawa dan menggodanya, sebab percuma memarahi anjing yang tidak mampu memahami bahasa manusia.

Hujan sudah reda. Aku segera pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang dari rumah ibu, aku membayangkan kembali peristiwa adikku dengan Chiko. Aku bisa memahami kejengkelannya. Dia sudah susah-susah mencari sampai basah kuyup lalu ketika menemukan dia menggendongnya. Dia memandikan dengan sampho yang dia biasa gunakan. Setelah itu dia mengeringkan dengan handuk, tapi tidak lama kemudian Chiko sudah berguling-guling di tanah yang kotor lagi. Jelas hal ini membuat jengkel saja. Maka ketika jengkel adikku mengambil rantai dan merantai Chiko. Katanya sebagai pelajaran. Apakah Chiko akan faham akan hukuman yang diberikan oleh adikku? Apakah besok kalau setelah dimandikan dia tidak akan berguling kembali di tanah? Apakah kalau hujan dia tidak akan main-main di luar lagi? Aku tidak bisa memberikan jaminan sebab Chiko bukanlah adikku. Dia juga bukan manusia yang mempunyai pikiran soal kebersihan dan sebagainya.

Lamunanku membawa peristiwa adikku dengan Chiko pada hubunganku dengan Tuhan. Aku pikir ternyata Chiko adalah gambaran diriku. Aku tidak jarang masuk dalam sebuah bahaya dosa. Aku menikmati bermain-main dalam dosa seperti Chiko menikmati main-main air hujan. Aku tidak menyadari bahaya akan tindakanku. Aku yakin Allah mengetahui dan kuatir akan keselamatan jiwaku, namun aku tidak. Aku tetap bermain dan menikmati apa yang aku anggap menyenangkan.

Dosa pada umumnya sangat menyenangkan meski akibat dari dosa seringkali menimbulkan sakit dan luka yang dalam. Bahkan tidak jarang dosa menghantui seumur hidupku. Menimbulkan penyesalan yang panjang. Namun meski aku tahu akibatnya pun aku tetap melakukan dosa. Aku tidak pernah berhenti melakukan dosa dalam aneka bentuk tindakan. Chiko lebih baik, sebab dia main air hujan tanpa tahu akibatnya. Dia hanya ingin bermain. Sedangkan aku tahu akibat dosa. Tuhan telah memberiku akal budi yang cukup sehingga membuatku bisa mempertimbangkan sebuah tindakan. Aku bisa memilih sebuah tindakan dosa atau bukan. Namun aku tetap memutuskan untuk melakukan. Ini lebih parah dari Chiko.

Seringkali aku membuat aneka alasan untuk berbuat dosa. Melakukan pembenaran diri atau memaafkan diri dengan alasan banyak orang yang melakukan atau itu hal biasa dalam hidup. Sebuah warna lain dari hidup. Namun jika jujur aku tahu bahwa aku salah dalam mengambil keputusan. Tidak ada dosa yang terjadi secara tidak sengaja. Semua sudah aku pertimbangkan dan dengan kesadaran penuh. Chiko lari ke jalanan yang hujan aku yakin tidak didasari oleh pertimbangan kesadaran yang penuh dan akal budi yang cukup. Chiko tidak mempunyai kesadaran seperti yang aku miliki.

Namun dosa-dosaku tidak menyurutkan Allah untuk menyelamatkan. Dia mengutus PutraNya untuk datang ke dunia dan menyelamatkan aku. Dia masuk dalam lingkungan yang penuh dengan dosa dan mencariku. Ketika ditemukan aku digendongnya, seperti adikku menggendong Chiko. Namun bedanya Yesus tidak semarah adikku. Dia tidak pernah ngomel ketika menggendongku. Bahkan Dia mengatakan bersukacita seperti seorang janda yang menemukan satu keping dinarnya yang hilang. Allah bersuka cita ketika menemukan aku yang berdosa.

Aku disucikan oleh Allah dengan baptisan. Sama seperti adikku membersihkan Chiko dari segala lumpur dengan shampo yang digunakannya. Yesus menyelamatkan aku dengan tetesan darahNya. Ini lebih dari shampo. Dia mengurbankan diriNya demi membersihkan diriku sehingga aku layak dan pantas untuk duduk dan bersamanya di dalam kerajaanNya. Namun aku sering tidak menyadari hal ini. Maka seperti Chiko setelah baptis pun aku lalu lari kembali pada kesenanganku. Berguling-guling dalam dosa. Aku tidak mampu mempertahankan kebersihan diri dan jiwaku. Gereja menyediakan sakramen tobat, dimana aku memohon ampun atas segala dosa dan membangun niat ingin kembali kepada Allah. Namun buah sakramen tobat tidak berlangsung lama. Aku masuk kembali dalam dosa. Seolah denda belum aku laksanakan sudah ada dosa lagi yang aku lakukan.

Allah tidak seperti adikku yang langsung marah ketika melihat Chiko berlari kembali ke teras yang kotor. Allah memberikan aku kebebasan. Dia membiarkan aku memilih sebuah pilihan hidup. Dia tidak merantaiku sehingga aku tidak bisa bergerak. Alalh memberiku kebebasan untuk memilih apa yang hendak aku lakukan. Allah adalah bapa yang baik. Dia menungguku dan menyosongku ketika aku pulang kembali padaNya setelah mengecewakanNya. Gereja senantiasa terbuka bagi orang berdosa yang ingin kembali. Namun sayang ada orang yang arogan sehingga menutup pintu Gereja bagi orang berdosa yang ingin bergabung kembali. Banyak orang yang merasa berdosa tidak mau masuk kembali dalam Gereja sebab dia merasa ditolak oleh sesamanya. Padahal Allah tidak pernah menolak, bahkan Dia sangat bersuka cita dan berharap orang berdosa akan kembali lagi dalam pangkuanNya.

Aku tidak ubahnya seperti Chiko yang lebih suka menuruti kesenanganku sendiri daripada taat pada kehendak Allah. Padahal Allah sudah berbicara dengan bahasa yang aku mengerti. Bertindak yang bisa aku lihat. Allah sudah menjadi bagian dari manusia. Ini berbeda antara adikku dengan Chiko. Adikku berbicara dalam bahasa manusia yang tidak dimengerti seekor anjing. Dia tidak menjadi anjing agar Chiko melihat keteladanannya. Jika Chiko tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh adikku hal ini wajar, sebab ada perbedaan besar antara keduanya. Sedangkan aku dengan Yesus tidak ada bedanya. Dia juga manusia yang berbicara dalam bahasa manusia. Aku faham apa yang dikehendakiNya. Aku bisa melihat keteladananNya. Namun aku masih tidak taat.

Melihat Chiko mengotori tubuhnya kembali, adikku kecewa. Dia merasa apa yang sudah dilakukannya menjadi sia-sia. Jika aku berguling dalam dosa, aku yakin Yesus kecewa melihat keputusanku. Namun Dia tidak mengomel. Dia mungkin hanya menatapku dengan sedih sama seperti ketika Dia menatap Petrus yang mengkhianatiNya. Sama dengan ketika Dia mempersilakan Yudas menjalankan segala rencananya. Aku bayangkan ada nada getir ketika Yesus mempersilahkan Yudas.

Allah sudah sering kecewa dengan pilihan tindakanku. Aku pun sadar akan hal itu, namun aku lemah dan sering jatuh. Apakah keyakinan kasih Allah yang tidak menghukumku ini membuatku tidak takut berbuat dosa? Apakah Allah sengaja membiarkan aku berbuat dosa? Aku yakin tidak. Sama seperti ketika Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang mempersoalkan perceraian. Dia mengatakan bahwa akibat kekerasan hati merekalah maka Musa memberikan surat cerai. Ya ketegaran hatilah yang membuatku berulang kali jatuh dalam dosa. Ketegartengkukkanlah yang membuatku masuk dalam dosa. Tanggung jawab ini tidak bisa dilemparkan pada Allah, melainkan aku harusnya bersyukur bahwa Allah masih memberiku kesempatan untuk bertobat dan tetap memberiku kebebasan untuk memilih apa yang hendak aku lakukan. Allah tidak seperti adikku yang membawa rantai dan memberikan hukuman atas segala tindakanku. Aku hanya harus menanggung konsekwensi atau akibat dari apa yang aku lakukan. Aku harus memetik buah dari dosa.

Pengalaman sore ini menyadarkan aku bahwa aku tidak lebih baik dari Chiko, seekor anjing kecil yang suka main air hujan.

silakan baca selanjutnya "CHICO" ...

AKU DAN KECOAK

1 komentar

Aku memandang seekor kecoak yang berlarian di kamar mandiku. Sebentar-sebentar dia berhenti. Aku tidak tahu apakah dia hanya mengendus sesuatu atau makan sesuatu. Tapi apa yang dimakan? Di kamar mandi hanya ada sisa air, sisa busa sabun, sisa busa shampo dan sisa abu rokok. Apakah kotoran itu bisa dijadikan makanan? Ataukah dia makan dakiku yang berjatuhan dari tubuhku ketika tersiram air? Entahlah. Tapi kalau tidak makan, bagaimana dia bisa hidup di sini?

Allah itu memang Mahakuasa. Bagaimana kecoak yang kupikir tidak mempunyai makanan, ternyata masih bisa hidup. Bagaimana sampah dari diriku masih bisa memberikan suatu kehidupan, meski hanya untuk seekor kecoak. Pernah aku berpikir untuk tidak ke kamar mandi sama sekali. Aku ingin tahu apakah kecoak itu masih bisa bertahan hidup atau akan mati. Tapi akhirnya aku berpikir mengapa aku bisa begitu jahat? Mengapa aku sayang membuang sampahku? Padahal aku tidak merasa kehilangan sama sekali. Bahkan tubuhku menjadi lebih bersih setelah mandi. Memang kadang aku terlalu egois. Aku tidak ingin orang lain atau hewan lain menikmati apa yang aku miliki bahkan sampai apa yang sebetulnya tidak pernah aku rasakan sekalipun jika aku melepasnya. Misalnya di dalam lemariku ada beberapa helai baju bahkan beberapa sudah sangat lama, sebab kubeli beberapa tahun yang lalu. Aku sudah tidak memakainya selain sudah tidak mampu menampung tubuhku yang semakin membesar juga sudah ada yang lebih baru. Karena tidak pernah kupakai, maka aku tidak pernah memperhatikan baju-baju itu lagi. Tapi ketika ada yang mengambilnya, aku merasa kehilangan. Padahal selama ini aku tidak pernah memperhatikannya. Kalau kecoak itu makan dakiku, kenapa aku tidak rela memberinya? Apakah aku merasa kehilangan daki?

Semula aku jijik melihat kecoak, maka ketika pertama melihatnya aku langsung membawa pemukul. Tapi dia memang gesit. Begitu kupukul dia lari masuk ke lubang air. Lama tidak muncul. Dia akan muncul lagi ketika aku tidak ada, sebab setiap masuk kamar mandi pasti kecoak itu sedang berkeliaran. Lama-lama aku biarkan saja. Toh dia tidak mengganggu kehidupanku. Dia hanya membuatku jijik saja, tapi tidak membahayakan diriku. Dia juga tahu diri sehingga tidak masuk kamar. Hanya berkutat di kamar mandi. Mengapa aku tidak bisa berbagi ruangan sedikit saja dengannya? Toh aku juga jarang masuk kamar mandi.

Mengapa aku jijik pada kecoak? Jika kulihat warnanya yang coklat tua dan mengkilat, mengapa bisa menimbulkan kejijikan? Bukankah warna itu indah? Mungkin kejijikan itu muncul dari cerita ibuku bahwa kecoak itu kotor. Hidupnya di got-got dan tempat kotor lainnya. Kini dia hidup di kamar mandiku apakah masih menjijikan? Temanku lebih parah lagi, jangankan melihat kecoak, mendengar kata kecoak saja dia sudah ketakutan, karena jijik. Jika kecoak itu sejak kecil kupelihara di tempat yang bersih apakah dia akan tetap menjijikan? Pasti tetap menjijikan. Dengan demikian kejijikan itu bukan karena asal tempat tinggal kecoak, tapi karena pikiranku sendiri yang sudah menuduhnya menjijikan.

Di masyarakat juga ada orang yang dianggap menjijikan sebab status dan pekerjaannya. Beberapa orang dengan secara implisit menyatakan bahwa pekerja seks kelas teri yang mangkal di stasiun dan terminal adalah orang yang menjijikan. Pemulung dan anak jalanan juga menjijikan. Aku teringat pernah ketika bersama teman-teman hampir saja diusir oleh satpam rumah makan, sebab di dalamnya sedang ada pesta. Padahal kami diundang dan diminta untuk mengisi acara. Kami semua saat itu sudah mandi dan bersih, hanya pakaian kami bukan pakaian pesta, sebab memang tidak punya. Satpam itu mau mengusir sebab mengetahui dari penampilan kami bahwa kami adalah anak jalanan yang suka bikin onar, mencuri dan tuduhan lainnya, yang membuat kami jadi masyarakat yang menjijikan. Untung aku ingat nomor HP orang itu sehingga dia sendiri keluar dan mempersilahkan kami masuk. Kalau aku lupa jelas satpam itu akan tetap mengusir kami.

Beberapa orang pun enggan aku ajak untuk berteman dengan teman-temanku. Aku tahu bahwa alasan mereka adalah mereka jijik. Mereka jijik bukan karena melihat penampilan temanku yang sudah mandi, tapi dari pikirannya sendiri yang terbentuk dari lingkungannya bahwa anak jalanan, pekerja seks kelas teri dan pemulung adalah orang yang menjijikan. Orang Yahudi pun sempat terheran-heran dan mengkritik Yesus ketika Dia datang dan makan bersama orang-orang yang dianggap menjijikan. Mereka dianggap menjijikan sebab orang Yahudi merasa lebih bersih. Aku pun bisa melihat kecoak menjijikan sebab aku merasa lebih bersih dibandingkan kecoak. Padahal kecoak itu selalu di kamar mandi. Dia pasti selalu terkena air, sedangkan aku hanya dua kali sehari mandi. Itupun kalau di rumah.

Aku akhirnya senang dengan kecoak itu sebab dia bisa menjadi hiburan di saat aku tengah duduk sambil menikmati rokokku di kloset. Aku bisa melihatnya berlarian dan penasaran jika melihatnya mengendus-endus. Aku teringat Ktut Tantri seorang Amerika yang membantu perjuangan rakyat Bali melawan Belanda yang ingin menduduki Indonesia kembali setelah Jepang kalah. Ketika di penjarakan Ktut Tantri merasa kesepian, sebab dia sendiri dalam satu sel dan tidak boleh berkomunikasi dengan siapapun. Maka dia berteman dengan kecoak yang berkeliaran di selnya. Ternyata kecoak pun bisa menjadi teman yang menyenangkan. Apakah setelah keluar dari penjara dan kembali ke Amerika Ktut Tantri masih suka berteman dengan kecoak? Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah melupakan teman-temannya itu. Atau bahkan mungkin sudah menyemprot kecoak yang ada di rumahnya dengan pestisida.

Memang ketika orang sedang kesepian dia bisa saja berteman dengan siapa saja dan apa saja. Namun ketika dia menemukan dunianya kembali dia mulai meninggalkan teman-temannya. Aku pun hanya berteman dengan kecoak ketika di kamar mandi. Di luar kamar mandi aku sudah lupa dengan mereka. Jangankan dengan kecoak, dengan sesamaku saja aku bisa lupa. Memang dalam kesepian aku bisa berteman dengan siapa saja. Dengan orang yang masih mau denganku. Tapi jika sudah punya banyak teman, aku pun mulai memilih mana yang bisa kuanggap teman. Aku pun pernah mengalami nasib seperti kecoak. Ketika orang sedang dalam kesepian dan kesulitan dia senantiasa datang padaku, bahkan sampai menyita banyak waktuku. Tapi setelah dia aman dan nyaman, dia melupakanku. Jangankan datang, telpon saja tidak pernah.

Dari sini kusadar bahwa perteman ternyata sangat rentan. Saat ini aku punya banyak teman sebab aku jadi imam, suatu status yang tidak menjijikan. Banyak orang senang bisa mengenalku bahkan mau bersusah payah menolongku. Padahal dulu aku merupakan bagian dari orang yang dilupakan dan tidak diperhitungkan. Tidak ada seorangpun yang bangga berteman denganku. Kini semuanya berubah, sebab statusku. Bukan diriku, sebab aku sama dengan yang dulu. Seandainya nanti suatu saat aku menyatakan mengundurkan diri dari imamatku, aku yakin akan menjadi orang yang dihindari lagi. Aku akan jadi kecoak di masyarakat. Padahal aku tetap menjadi diriku sendiri.

Kecoak di kamar mandiku yang berukuran 1X2,5 m masih berlari kian kemari. Apakah dia bangga hidup sebagai kecoak? Apakah dia bahagia sebagai kecoak? Aku tidak tahu. Kalau toh kecoak itu menangis atau tertawa aku juga tidak tahu. Atau dia tidak bisa menangis dan tertawa? Ataukah memang aku tidak peduli apakah kecoak itu menangis atau tertawa? Ataukah aku memang tidak bisa membedakan antara tangis dan tertawanya kecoak? Dalam masyarakat saat ini banyak sekali kecoak. Orang yang dianggap menjijikan. Orang yang disingkiri. Orang yang hidup dari sisa-sisa orang lain. Orang yang bisa hidup dari makanan yang tidak pernah kita duga bisa menghidupinya. Orang yang sudah sulit membedakan antara tangis dan ketawa, sebab dia tertawa dalam tangisan. Dalam kesedihan dan kesepiannya. Mereka berkeliaran di sekitarku hanya aku saja tidak peduli padanya, sehingga aku lebih memperhatikan kecoak di kamar mandi daripada mereka yang ada di sekitarku.

silakan baca selanjutnya "AKU DAN KECOAK" ...

AKU HANYALAH ANAK SEORANG PSK

2 komentar

Malam semakin larut. Radio tetangga sebelah yang sepanjang siang sangat keras mendendangkan lagu-lagu dang dhut sudah lama tidak berbunyi. Lorong rumah yang sehari-hari ramai oleh suara tangis anak, jeritan atau tawa mereka ditengah suara keras dari ibu-ibu yang marah sudah lama menghilang. Saat ini hanya sesekali terdengar suara derungan mesin sepeda motor yang melintasi jalan depan lorong.

Aku berusaha tidur. Mataku sudah kupejamkan sejak sore, tapi masih belum bisa terlelap juga. Dua adikku sudah sejak tadi tertidur. Bahkan adikku yang paling kecil sudah ngompol sehingga aku harus menggantikan celananya dan membersihkan plastik alas tidur agar air kencing itu tidak mengalir kemana-mana. Rumahku hanyalah sebuah kamar ukuran 3X3 m. Aku tinggal bersama ibu dan kedua adikku yang masih kecil. Dulu sebelum ayah pergi entah kemana, kami harus menempati kamar ini berlima. Kami semua tidur di lantai dengan beralaskan plastik. Tidak ada tempat tidur atau meja. Kalau toh kami punya maka semua itu pasti tidak akan cukup untuk diletakan dalam ruang yang sempit ini. Kami hanya mempunyai satu buah lemari kecil tempat pakaian dan rak tempat aku menyimpan semua buku pelajaran dan alat-alat rumah tangga lain. Tidak jarang bukuku basah kena air yang menetes dari piring yang masih basah. Ibu selalu melarangku untuk meletakan piring yang baru selesai dicuci di luar rumah, sebab kemungkinan besar akan hilang.

Rumah ini sempit dan pengap. Tidak ada jendela. Hanya ada sebuah pintu. Rumahku adalah salah satu dari 5 rumah lain yang berderet. Antar rumah hanya dibatasi oleh sebuah dinding triplek tipis, sehingga apa yang terjadi di sebuah rumah pasti akan didengar dan ketahui oleh tetangga sebelah. Di hadapan rumahku juga ada 5 rumah lain yang berderet. Kami dipisahkan oleh sebuah lorong sempit. Perumahan ini tidak bedanya dengan kandang ayam yang pernah aku lihat di rumah tetangga yang mempunyai banyak ayam jantan. Kurangnya ventilasi dan banyaknya barang yang berjejal dalam rumah membuat rumahku menjadi pengap. Ini juga terjadi pada rumah para tetangga. Semuanya pengap. Bau ompol, asap kompor, pakaian kotor, dan keringat semua bercampur menjadi satu. Apek.

Kulihat jam kecil di atas lemari pakaian sudah menunjukan hampir pukul 2 dini hari. Jam itu merupakan pemberian dari seseorang sebab aku bisa menggambar dengan bagus. Katanya aku mempunyai bakat menggambar. Padahal menurutku gambaranku biasa saja. Mungkin orang itu ingin memberi tapi menggunakan cara lomba. Ah terserahlah! Yang penting aku mempunyai jam, sehingga bisa tahu waktu. Biasanya jam segini ibu pulang. Aku kadang terbangun ketika ibu membuka pintu yang tidak terkunci. Kadang wajah ibu tampak tersenyum melihat kami tidur berdesakan diantara lemari dan peralatan dapur. Tapi tidak jarang juga wajah ibu terlihat lelah dan suntuk.

Ibu memang bekerja malam hari. Dia berangkat ketika adzan mahgrib di mushola sebelah mulai berkumandang. Aku tidak tahu apa pekerjaan ibu yang sesungguhnya. Jika aku bertanya apa yang dilakukan ibu pada malam hari, dia tidak pernah menjawab dengan memuaskan. Ibu hanya mengatakan bahwa dia bekerja untuk menghidupi kami. Tidak perlu tanya apa pekerjaannya! Bagi ibu yang penting ada uang untuk bertahan hidup. Aku tidak berani bertanya lagi. Aku akan melanjutkan bermain atau belajar. Tetapi sudah sering kudengar dari para tetangga bahwa ibuku bekerja sebagai pekerja seks di tepi jalan. Katanya pernah ada tetangga yang melihat ibu sedang berdiri di tepi jalan bersama dengan pekerja seks yang lain.

Pekerjaan ibu ini membuat banyak tetangga mencibirkan bibir melihat keluarga kami. Kadang kalau adikku bertengkar dengan anak tetangga, maka orang tuanya marah dan mengatakan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya adalah seorang pelacur.” Atau kalimat pedas lainnya. Kenakalan adikku atau kenakalanku selalu dikaitkan dengan pekerjaan ibu sebagai seorang pelacur. Aku sakit hati kalau mendengar perkataan itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Kadang aku bertengkar dengan anak tetangga bukan akibat kesalahanku, tapi mereka selalu menyalahkan aku, sebab aku anak seorang pelacur. Apakah seorang anak pelacur selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Apakah akibat ibu bekerja sebagai pekerja seks maka aku dan adikku menjadi nakal? Apakah kalau orang tuanya bekerja sebagai buruh anaknya tidak akan nakal? Masih banyak pertanyaan yang tidak mampu kujawab dalam usiaku saat ini.

Aku jarang bertemu dengan ibu, sebab ketika ibu di rumah aku dan adikku sekolah. Siang hari kebanyakan ibu tidur, sebab kecapekan kerja malam dan mempersiapkan makanan untuk hari ini. Aku tidak mau mengganggu jika ibu sedang tidur. Aku sering membayangkan belajar malam hari dibantu oleh ibu. Aku ingin bermain seperti teman-teman yang lain tanpa harus diganggu oleh adikku yang paling kecil. Saat ini aku tidak bebas bermain sebab harus mengasuh dan merawat adikku yang baru berusia 3 tahun. Kata ibu aku sudah besar maka harus bertanggungjawab terhadap isi rumah termasuk menjaga adik-adikku. Kadang aku jengkel dengan situasi hidup ini. Jika sudah demikian maka aku akan menyalahkan bapakku yang pergi begitu saja. Pergi meninggalkan kami dalam keadaan miskin sehingga hanya menjadi bahan ejekan para tetangga.

Aku benci pada bapakku, tapi sering kali aku juga merindukan kehadirannya. Bapak dulu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Kehidupan kami tidak seburuk seperti saat ini. Meski rumah kami tetap kontrakan seperti ini, tapi tidak ada tetangga yang mengejekku. Aku masih mempunyai harga diri. Aku bisa bermain dan belajar dengan tenang, sebab ada ibu yang menjaga adik. Kalau aku bertengkar dengan anak tetangga masih ada bapak yang membelaku. Tapi kini semua itu sudah berlalu. Sejak di PHK bapak tampak kalut. Dia suka mabuk dan main judi dengan harapan akan menang besar. Kadang bapak menang judi, tapi uang itu akan cepat habis di meja judi lagi. Akhirnya ibu dan bapak sering bertengkar. Hingga suatu saat bapak pergi dan tidak kembali lagi. Kepergiaan bapak menjadi bahan gunjingan para tetangga. Semua tetangga menyalahkan ibu yang suka marah. Apalagi setelah ibu menjadi pekerja seks, maka semua tetangga semakin menyalahkan ibu sebagai perempuan nakal. Perempuan yang tidak baik, sehingga ditinggalkan bapak. Padahal bagiku bapaklah yang salah. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu.

Dulu pernah ibu diberi modal oleh seseorang untuk membuat kue. Tapi hasil jualan tidak cukup untuk hidup. Untuk makan kami bertiga dan biaya sekolah. Apalagi bila kue itu tidak laku, maka ibu tidak mempunyai uang sama sekali. Hal ini sering terjadi. Pernah ada orang mengatakan ibu kurang bersemangat berjualan dan hanya mencari enaknya saja. Aku tidak setuju pendapat ini! Aku lihat sendiri ibu selalu bangun pada dini hari lalu membuat kue dan memasarkan di pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Siang hari baru ibu pulang dengan membawa bahan untuk membuat kue dan bahan makan kami. Pekerjaan ibu belum selesai. Sore hari ibu mulai membuat kue sampai malam, sehingga esok pagi tinggal menggoreng. Maka tidak jarang ibu mengeluh sangat capek sekali. Tapi perjuangan ibu untuk menghidupi kami bertiga masih tidak dihargai oleh tetangga. Mereka masih mencap bahwa ibu seorang pemalas yang hanya ingin hidup enak tanpa berjuang.

Aku bangga dan sangat mencintai ibu, meski ibu bekerja sebagai pekerja seks. Tanpa ibu aku dan kedua adikku sudah lama kelaparan. Siapa yang akan peduli dengan kami? Para tetangga yang mencela pekerjaan ibu pun tidak pernah memberi kami barang semangkuk sayur, meski mereka melihat kami hanya makan nasi dan kerupuk. Mereka memang hanya mencela saja, tapi tidak peduli dengan kami. Oleh karena itu ibu sering menasehati agar aku tidak perlu mendengarkan omongan para tetangga, sebab mereka hanya bisa berbicara dan mencela.

Jam sudah menunjukan hampir pukul 3 dini hari. Pintu rumah berderit pelan. Kulihat ibu masuk dengan berhati-hati agar tidak membangunkan kami. Ibu tersenyum ketika melihat aku memandangnya. Ibu keluar lagi ke kamar mandi. Tidak lama ibu sudah tidur disisiku. Aku peluk ibu dengan penuh kasih. Bau wangi parfum yang menyengat masih melekat bercampur bau rokok. Aku tidak peduli. Dia adalah ibuku meski seorang pekerja seks.

silakan baca selanjutnya "AKU HANYALAH ANAK SEORANG PSK" ...
 
langkah peziarah - Template By Blogger Clicks