Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

BELAJAR DARI HEWAN: PENYU SANG PEMBERANI

0 komentar


Penyu adalah salah satu hewan vertebrata yang masih tergolong reptil, sebab dia tidak sepenuhnya hidup di laut, meski menghabiskan hampir sepanjang hidupnya di lautan. Dia bernafas dengan paru-paru dan sebagian besar adalah pemakan tumbuhan, tapi ada juga yang carnivora atau omnivora. Penyu sudah hidup sejak jaman Jura (140-208 juta tahun lalu) atau sejaman dengan dinosaurus, meski mengalami perubahan bentuk. Penyu betina suatu saat akan turun ke pantai untuk bertelur. Setelah itu dia kembali ke laut dan membiarkan telurnya tertimbun pasir sampai menetas menjadi tukik. Seekor penyu betina akan menghasilkan 60-150 butir telur dalam sekali bertelur. Setelah dua bulan telur itu akan menetas. Tapi sebagian besar telur itu tidak sampai menetas, sebab dimakan oleh hewan predator seperti kepiting, biawak, burung dan sebagainya. Kalau toh sampai menetas diperkirakan hanya 11 tukik yang mampu mencapai laut dan memulai kehidupannya di laut. Maksimal hanya 50% tukik yang bertahan hidup.

Dengan demikian sejak lahir tukik tidak pernah mengetahui orang tuanya. Dia harus hidup dan berjuang sendiri. Menjelajahi lautan yang luas dan bergelora dengan aneka jenis hewan yang setiap saat dapat memangsanya. Penyu dikenal sebagai hewan yang tidak menetap di suatu tempat. Dia dapat mengarungi lautan yang luas. Bahkan ada pendapat bahwa penyu dapat berenang sejauh 3000 km dalam waktu 58-73 hari. Penyu yang menetas di Jawa dapat ditemukan di perairan Haiti dan sebagainya.

Hidup kita sering seperti tukik yang harus bergerak perlahan menuju samudra luas. Kita kecil, lemah dan tidak berdaya sedang dihadapan kita ada samudra yang dalam dan luas dimana ada banyak binatang yang siap memangsa kita. Hal ini kerap membuat kita takut dan cemas akan kehidupan kita kelak. Persaingan dalam sekolah dan mendapat pekerjaan membuat kita sering mengalami frustasi. Kita dapat belajar dari tukik yang berani untuk bertahan hidup meski banyak dari mereka yang mati sebelum mencapai ke laut. Tapi dia tidak terus bersembunyi dalam cangkangnya yang merupakan rumah yang aman. Dia berani keluar, berjalan perlahan dan berenang di dalam samudra.

Kita sering merasakan bahwa diri kita mempunyai banyak kelemahan. Kemiskinan, tidak cerdas, tidak mempunyai banyak talenta dan sebagainya. Kesadaran ini membuat kita sering enggan untuk maju. Seorang anak ketika melihat temannya mendapat hadiah karena menjadi juara menggambar, dia mengatakan tentu saja anak itu bisa berprestasi sebab orang tuanya mendukung dan memberi fasilitas. Sedangkan dia tidak mempunyai sarana sebagus yang dimiliki temannya. Ini salah satu kelemahan yang membuat orang tidak bisa maju. Dia hanya mengeluh akan situasi dirinya dan bermimpi seandainya dia memiliki hal seperti orang lain. Masih banyak keluhan-keluhan tentang keterbatasan yang membuat orang tidak dapat maju.

Thomas Alva Edison (11 Februari 1847 – 18 Oktober 1931) pada saat duduk di bangku sekolah dasar dia dikeluarkan oleh gurunya, sebab dianggap bodoh dan sedikit tuli. Tapi Nancy Edison, ibunya tidak putus asa. Dia mendidik anaknya sehingga Thomas menjadi penemu pengusaha yang mengembangkan banyak peralatan penting. Untuk dapat maju orang hendaknya mempunyai visi hidup dan berani mulai aksi. Sering orang hanya terjebak dalam mimpi tapi tidak melakukan aksi, sebab takut gagal. Maka kita harus memiliki keberanian untuk memulai sebuah perbuatan. Dalam menciptakan lampu, Thomas A Edison melakukan seribu percobaan. Dia tidak putus asa dan terus mencoba sampai berhasil. Seorang yang kubantu dana untuk berjualan dalam waktu dua bulan dia sudah tidak berjualan lagi dengan alasan ada banyak saingan. Orang seperti ini tidak akan maju, sebab tidak mempunyai mental yang kuat dalam menghadapi masalah. Bila dia tahu orang lain dapat maju maka dia seharusnya belajar dari orang lain dan berani menerima kelemahan untuk diubahnya bukan hanya berlindung dibalik kelemahannya untuk tidak bergerak. Selain itu untuk maju kita perlu mendapat dukungan dari sesama. Maka kita perlu saling membantu dan mendukung. Bila tukik yang lemah saja akhirnya dapat hidup di lautan luas mengapa kita tidak?

silakan baca selanjutnya "BELAJAR DARI HEWAN: PENYU SANG PEMBERANI" ...

Minggu, 20 September 2009

PAK TOMO (PERJUANGAN TANPA HENTI)

0 komentar

Pak Tomo hanyalah seorang lelaki tua dengan tubuh yang kurus. Badannya hitam terbakar matahari. Rambutnya sudah putih semua. Kalau bicara sudah susah dan pendengarannya sudah mulai agak berkurang. Tapi aku sangat kagum dengannya. Pak Tomo tinggal di desa Ngroto. Suatu desa kecil di lereng gunung Lawu, sekitar 38 km dari kota Ngawi. Desa yang sangat terpencil. Untuk mencapai desa Ngroto, kita harus berjalan mendaki melalui jalan berbatu sambil menikmati suara air yang gemericik, bajang keret yang bernyanyi, desir angin di sela daun bambu dan kesejukan udara pegunungan. Sejauh mata memandang hanya hamparan sawah yang semakin lama semakin kabur dan membaur dengan awan biru.

Desa Ngroto hanyalah desa biasa. Kelebihan desa ini karena di situ tinggal Pak Tomo. Lelaki tua ini mempersilahkan aku untuk masuk dalam rumahnya. Sebuah rumah batu dengan banyak ruang. Sebagian ruangan masih belum diberi atap. Sebagian lagi masih separo jadi. Namun yang membuatku kagum adalah rumah itu dibangun hanya dari balok balok batu. Mirip candi pada jaman dulu. Tidak ada kayu dan semen. Pak Tomo hanya menyusun balok balok batu saja.

Pak Tomo dengan bangga mengajakku memasuki ruang demi ruang. Dia bercerita bahwa rumah ini dia bangun sendiri selama 40 tahun. Gila pikirku. Membangun rumah batu sendirian tanpa alat alat yang berarti. Dulu disini banyak sekali batu hitam yang besar besar. Kisah Pak Tomo sambil menunjukan halamannya yang penuh dengan pepohonan. Lalu dia mulai memotong motong batu itu menjadi balok balok dan mulailah pembangunan rumah dimulai. Bekas galian batu dia tanami dengan cengkeh, kopi, jambu, apokat, durian, dan berbagai macam pohon lain. Lama lama kebunnya yang semula penuh dengan batu menjadi kebun buah buahan dan batu itu dia susun menjadi rumah yang sangat besar dan unik.


Aku hanya menggeleng gelengkan kepala melihat hasil karyanya. Bayangkan selama 40 tahun dia sendirian membangun rumah itu. Dia mengatakan bahwa kenekatannya membangun rumah batu ini telah meminta kurban. Istrinya meninggalkan dia, sebab dia tidak memahami ide gilanya. Banyak orang juga mencemooh karyanya yang dianggap gila. Tapi Pak Tomo tetap nekat. Dia terus memotong batu batu dan menyusunnya. Kapan bapak akan mengakhiri pembangunan ini? tanyaku. Dia mengatakan jika dia sudah mati, maka pembangunan rumah itu juga akan selesai. Apakah bapak tidak takut rumah ini roboh? tanyaku lagi. Pak Tomo hanya tertawa dan mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini akan musnah, termasuk rumahnya ini. Tapi beberapa kali gempa bumi, tidak bisa merobohkan rumahnya.

Dalam diri Pak Tomo aku melihat sebuah semangat yang menyala nyala dan tidak terpadamkan. Suatu perjuangan panjang. Selama 40 tahun dia sendirian mengubah lahannya yang semula tidak bisa ditanami menjadi sebuah kebun buah. Dia mampu sendirian membangun rumah dari batu. Perjuangan panjang yang disertai hujatan. Dia hanya bersandar pada alam dan Tuhannya.

Sambil mengendarai mobil sendirian menuju Surabaya, pikiranku penuh dengan kekaguman pada Pak Tomo. Ya, aku mengagumi keteguhannya pada pilihan hidupnya. Pada keputusannya yang berusaha untuk terus membangun sampai kematian yang akan menghentikannya.

Saat ini aku sedang bimbang dengan aktifitasku di komunitas kaum marginal. Beberapa persoalan yang tidak terpecahkan membuatku berpikir untuk membubarkan apa yang telah dimulai bersama teman teman. Dalam syer terakhir bersama teman teman, aku mengatakan pada mereka bahwa aku membangun komunitas ini seperti membangun rumah di atas pasir. Aku ternyata belum siap untuk lebih serius dalam aktifitas ini. Aku gamang dengan keputusanku, bahkan menyesal mengapa aku dulu tergesa gesa mengumpulkan teman teman untuk bergabung dalam aktifitas ini. Mengapa aku tidak membangun dasar lebih kuat baru mengajak teman teman?

Perkataan Pak Tomo seolah perkataan guru yang membuka mataku untuk tetap berjalan dalam keputusanku, meski banyak orang tidak memahami dan mencaci maki. Meski yang dibuat tidak pernah akan selesai sampai kematian mendatang. Meski rumah itu tetap kosong dan kebun buahnya tidak mampu menghidupinya dengan layak. Apakah sikap Pak Tomo suatu kebodohan? Apakah yang dilakukannya bukan suatu kesia siaan belaka? Apakah Pak Tomo seorang yang gila? Atau dia orang frustasi? Tidak. Bagiku dia orang yang patut dihargai. Dia bukan orang yang bodoh, sebab mampu mendesain rumah sedemikian unik. Meski tidak berpendidikan formal, dia mampu menyusun batu sedemikian tinggi dan tidak roboh karena gempa bumi. Dia adalah orang yang setia dengan apa yang telah dimulai. Dia adalah orang yang berjalan tanpa henti. Dia adalah pekerja yang bekerja bukan untuk kesombongan dan pujian.Dia membangun rumah besar untuk masa depan jika ada orang yang membutuhkannya.

Permenunganku lebih jauh membawaku pada Sang Guru sejati. Yesus juga seorang yang nekat. Dia beberapa kali jengkel dengan murid muridNya yang tetap tidak mampu memahami karya keselamatan yang dibawaNya. Dia senantiasa diintip oleh para musuh musuhNya untuk dihabisi. Dia dianggap gila oleh keluarganya. Dia dikhianati oleh muridNya. Dia ditinggalkan oleh orang orang terdekatNya. Namun Dia tetap berjalan menyeleseikan tugasNya. Apakah segala belenggu hilang dengan kehadiranNya? Tidak. Masih banyak orang yang terbelenggu oleh dosa. Dia sendiri bersabda bahwa orang miskin akan masih tetap ada. Lalu buat apa Dia datang? Akankah karyaNya sia sia? Mungkin beberapa muridNya dulu juga merasakan bahwa karya Sang Guru akan sia sia. Berakhir! Tapi ternyata sampai 2000 tahun karya Yesus masih terus berlangsung. Aku yakin bahwa rumah Pak Tomo tidak akan pernah selesai. Apakah akan sia sia? Aku yakin suatu saat pasti akan ada orang yang meneruskannya dan rumahnya akan menjadi bahan pembicaraan orang.

Pak Tomo bukan seorang Kristen. Dia juga mungkin tidak mengenal siapa Yesus itu. Namun sikap hidupnya tidak jauh dari Yesus, yang pantang menyerah. Sikap yang terus berusaha dan bekerja dalam kesendirian dan kesepian. Kerja yang tidak membutuhkan penghargaan dari orang lain, hanya cukup untuk kerja itu sendiri. Dia ingin meninggalkan rumah ini untuk banyak orang, bahkan dia menawarkan agar aku menggunakan ruang atas rumahnya untuk gereja. 40 tahun Pak Tomo bekerja keras memotong batu, menyusunnya, mengangkatnya sehingga terbentuk rumah di tengah kebun buah yang subur. Ah seandainya aku bisa nekat seperti dia.

silakan baca selanjutnya "PAK TOMO (PERJUANGAN TANPA HENTI)" ...

SENYUM

0 komentar

Seorang ibu muda dengan anaknya yang masih balita duduk tidak jauh dari tempatku. Anaknya perempuan dan sangat cerewet sehingga banyak hal dikomentari dengan keluguan seorang anak kecil. Seorang pramugari yang lewat sempat berhenti dan tersipu-sipu ketika anak itu mengatakan pada ibunya tante itu canti. Orang sekitar tempat duduk mereka sangat gemes melihat kelucuan anak perempuan itu. Aku pun tersenyum-senyum mendengar anak itu mempertanyakan aneka hal. Mulai dari pesawat mengapa bisa terbang sampai bagaimana kalau mau pipis nanti.

Tidak berapa lama kemudian pesawat mulai bergerak dan meninggalkan landasan pacu. Anak itu masih bernyanyi gembira. Ketika pesawat semakin tinggi, tiba-tiba anak itu menangis dan ingin turun sebab telinganya sakit. Suara tangis anak itu membuat beberapa orang menjadi gelisah. Beberapa orang memandang ibu itu dengan tatapan kurang senang. Beberapa pramugari berusaha menghibur dengan memberi permen dan kue tapi anak itu tetap menangis minta turun. Ibu itu menjadi gelisah. Dia sungkan dengan penumpang yang lain. Aku pun menjadi gelisah, sebab merasa terganggu dengan suara tangisan anak itu yang cukup keras.

Aku mencoba membaca novel yang kubawa. Tapi tidak ada satupun kalimat yang kupahami sebab konsentrasiku terganggu oleh suara tangisan anak itu. Ibu itu sudah berusaha menenangkan anaknya tapi tidak berhasil. Semakin lama orang semakin gelisah. Beberapa orang terlibat untuk menenangkan, tapi tidak berhasil.

Sambil menatap awan putih di sekitarku aku mulai bertanya, mengapa aku gelisah? Aku yakin kekerasan suara tangis anak itu tidak jauh berbeda dengan suara tawanya. Mengapa ketika anak itu menyanyi dan tertawa aku tidak gelisah, sedangkan sekarang aku gelisah? Mengapa aku jadi terganggu oleh suara yang sebetulnya sejak sebelum pesawat berangkat tadi sudah memenuhi sebagian ruang pesawat? Saat anak itu bertanya dan bernyanyi aku sangat gemes melihatnya, namun ketika anak ini menangis aku menjadi jengkel. Apakah yang beda dengan anak itu? Anak itu tetap sama, hanya suasana hatinya yang berbeda.

Maka persoalan bukanlah kekerasan suara anak itu melainkan suasana yang dibangunnya. Kegembiraan dan kesedihan. Kegembiraan anak itu mampu menebarkan kegembiraan pada orang sekitarnya. Demikian pula kesedihannya. Orang tidak suka dengan suasana sedih. Mungkin di dalam hatinya yang terdalam juga ada rasa sedih yang ingin dilupakan atau dipendam sehingga ketika ada suara tangis, kepedihan yang berusaha dilupakan muncul dan menggelisahkan. Aku bukan seorang psikolog atau yang mempelajari ilmu manusia. Aku hanya tahu tangisan anak itu membuat orang lain gelisah.

Orang membutuhkan kegembiraan. Suasana gembira. Namun suasana kegembiraan rupanya semakin sulit ditemukan. Sejak aku duduk di ruang tunggu bandara sampai duduk di dalam pesawat, aku melihat wajah-wajah yang diam. Tidak ada senyum. Kecuali jika dia mengobrol dengan temannya. Namun orang-orang sendirian sepertiku, semua diam. Mungkin mereka sudah penuh dengan persoalan atau capek atau memang sedang sedih atau ingin tertawa tapi tidak tahu mengapa harus ketawa. Maka ketika anak tadi menawarkan kegembiraan semua orang menjadi ikut tersenyum. Mereka mendapatkan kepenuhan dari sesuatu yang diinginkannya.

Jika semua orang membutuhkan suasana yang gembira, mengapa banyak orang tidak mau menciptakan kegembiraan? Mengapa orang sulit untuk tersenyum kepada sesama? Apakah malu atau menjaga harga diri? Apakah jika mendahului senyum akan dilihat rendah oleh orang lain? Aku rasa tidak. Tapi mengapa semua diam? Mengapa tidak ada yang menciptakan kegembiraan?

Aku melihat suasana muram bukan hanya di ruang umum, tetapi juga di dalam komunitas yang disebut Gereja. Sering kali doa lingkungan, pendalaman iman, misa dan sebagainya penuh dengan keseriusan. Orang tidak boleh ketawa ngakak. Tidak boleh tepuk tangan. Tidak boleh menciptakan kegembiraan. Orang harus serius dan diam. Merenungkan sabda Allah, berdoa atau meditasi. Bahkan anak-anak yang ikut misa atau sakramen lain pun harus diam. Padahal dalam Kisah Para Rasul dikatakan bahwa jemaat yang berkumpul itu gembira. Inilah yang saat ini dihilangkan oleh Gereja. Kita pun diutus mewartakan kabar gembira, namun dalam pewartaan kabar gembira orang menjadi serius. Orang memang bergembira bahwa dirinya sudah diselamatkan, tapi apakah kegembiraan itu tidak bisa diungkapkan? Bagaimana orang akan menjadi pewarta kabar gembira, bila wajahnya selalu suram? Bila tidak ada senyum atau perkataan yang memancing orang gembira? Bagiku ini sama saja dengan seorang berkepala gundul berseru dengan penuh semangat menawarkan obat untuk melebatkan rambut.

Memang ada seorang pemimpin agama yang selalu menangis bila berdoa sehingga orang yang datang pun ikut menangis. Tapi sebelumnya mereka ketawa dan gembira. Mereka menangis sebab menyesali dosanya. Apakah mereka suka dengan suasana duka? Aku tidak yakin. Seorang teman mengatakan mereka menangis sebab pemimpinnya menangis. Aku pikir benar juga. Apakah mereka akan tetap menangis bila pemimpinnya tertawa atau tersenyum?

Aku bayangkan seandainya setiap orang mampu menebarkan kegembiraan pada lingkungannya. Setiap orang mau tersenyum pada sesamanya. Tentu dunia akan indah. Namun orang tidak cukup hanya mengejar kegembiraan lawakan seperti di Srimulat. Orang akan bosan. Kegembiraan terdalam adalah kalau orang sadar bahwa dirinya sudah diselamatkan oleh Allah. Dia yang pendosa diangkat oleh Allah menjadi anakNya. Diperhatikan oleh Allah. Kegembiraan model inilah yang dialami oleh Maria, sehingga dia mengumandangkan kidung kegembiraannya. Lebih dari itu manusia diselamatkan oleh Putra Allah dengan pengorbanan total. Inilah kegembiraan yang terdalam. Kegembiraan yang tidak bisa dirampas oleh siapa saja atau oleh apa saja. Para martir jaman dulu menghadapi kematian dengan tanpa rasa takut. Mereka tetap bernyanyi dengan gembira. Hal ini disebabkan mereka sudah memperoleh kegembiraan yang mendalam. Bukan dari manusia namun dari Tuhan sendiri.

Aku bayangkan seandainya semua orang mau tersenyum antar satu dengan yang lain. Tentu dunia akan indah. Atau mungkin perlu mengadakan perubahan wajah pada gambar Yesus dan orang suci lainnya? Sebab mereka seringkali digambarkan tanpa senyum.

silakan baca selanjutnya "SENYUM" ...

Jumat, 11 September 2009

SEORANG IBU DI TEPI JALAN

0 komentar


Mataku sudah ingin dipejamkan. Tadi waktu berbaring di atas kasur jualannya Ambon yang dibentangkan di trotoar Jl. Darmo sambil mengobrol dengannya tiba-tiba aku jadi sangat mengantuk. Mungkin karena udara malam yang sejuk membuat tubuh yang capek jadi mudah sekali mengantuk. Aku pamit pada Ambon untuk pulang. Ambon adalah salah satu anak jalanan dari rumah singgah yang berusaha untuk keluar dari lingkaran jalanan dengan membuat kasur dan dipasarkan di trotoar Jl Darmo. Hampir setiap malam aku datang ke tempat jualan untuk melihat perkembangannya.

Setelah berbasa basi sejenak aku meninggalkan Ambon yang masih duduk di trotoar. Masih kudengar suaranya yang parau mengejekku yang tergesa pulang. Aku hanya tersenyum mendengar ejekkan itu. Aku tidak peduli apa yang dikatakannya. Mataku sudah sangat berat. Aku ingin tidur. Jam di mobil sudah menunjukan pk 11.43. Aku memacu mobil melalui jalan-jalan Surabaya yang mulai sepi. Kulihat ada sebuah warung kecil jualan nasi bebek yang masih buka. Tiba-tiba perutku menjadi lapar. Memang sejak pagi aku belum makan. Sejak bangun pagi sudah ada beberapa hal yang harus kukerjakan sampai malam. Ketika tadi mau makan beberapa teman telpon memintaku untuk datang ke rumah singgah. Sepulang dari rumah singgah aku mampir dulu ke tempat jualan Ambon. Aku parkir mobil dan kumasuki warung. Rasa lapar mengalahkan rasa kantuk.

Kulihat beberapa tukan becak sedang asyik menikmati nasi bebek di piringnya masing-masing. Aku mengambil duduk di sebelah mereka. Sambil menanti pesanan aku memandang ke jalan. Kulihat seorang ibu duduk di tepi jalan tidak jauh dari tempatku duduk. Seorang bayi terbaring dalam pangkuannya beralas sehelai kain yang sudah lusuh dan tidak jelas lagi motifnya. Dia pasti salah satu dari pengemis yang semakin banyak saja di Surabaya. Kadang aku sangat jengkel dengan pengemis-pengemis yang membawa bayi dalam menjalankan profesinya. Kok tega sekali mereka membiarkan anak-anaknya tersengat sinar matahari di siang bolong atau sekarang membiarkan anaknya kedinginan di tengah malam. Tapi anehnya banyak bayi yang digendong itu tidur dengan pulas. Mereka tidak terganggu oleh panasnya matahari atau dinginnya malam. Seorang teman pernah bercerita bahwa bayi-bayi itu sudah diberi obat tidur sehingga tidak pernah merasa terganggu oleh panas matahari atau keributan di sekitarnya. Konon bayi-bayi itu tidak akan dapat tumbuh menjadi anak, sebab mereka akan meninggal dalam usia yang sangat muda akibat over dosis obat tidur.

Ibu itu duduk diam saja. Bayi yang dalam gendongannya tampaknya sudah tertidur pulas. Pesananku sudah datang. Aku menikmati nasi bebek tanpa peduli lagi dengan ibu itu. Tapi aku menjadi tidak tenang. Aku merasa gelisah. Pikiranku terganggu. Aku kuatir melakukan kesalahan yang sama seperti pengalaman di atas kapal fery menuju Bali, dimana aku tega tidak memberi seorang anak pengemis yang kelaparan. Jangan-jangan aku menjadi orang kaya yang tidak peduli pada Lazarus yang miskin seperti perumpamaan yang diberikan oleh Yesus. Dalam perumpamaan itu digambarkan bahwa Lazarus tidak pernah meminta pada orang kaya. Dia hanya diam dan memunguti remah-remah roti yang jatuh dari meja orang kaya. Orang kaya itu juga tidak mengusirnya. Mereka pribadi-pribadi yang diam. Tidak saling mengusik. Namun Allah menghukum orang kaya sebab dia tidak peduli pada Lazarus. Dia dihukum bukan karena dia kaya melainkan karena dia tidak peduli pada orang yang miskin. Dia tidak mempunyai kepekaan akan kediaman Lazarus.

Hatiku gundah dalam perdebatan. Aku ingin menetramkan hati dengan mencari alasan bahwa ibu itu memang pengemis yang jahat, sebab menggunakan anaknya sebagai sarana untuk mencari uang. Ibu itu telah menjual anaknya hanya untuk beberapa ratus rupiah perhari. Dia ibu yang tidak baik sebab tega membunuh anaknya secara perlahan dengan memberinya obat tidur setiap harinya. Aku mencoba mencari alasan untuk menghindari tanggung jawabku sebagai orang Katolik. Aku ingin menikmati nasi bebek lalu pulang dan tidur.

Tapi pengalaman di fery terus terbayang. Selesai makan, aku menghampiri ibu itu. Kusapa dia. Aku mencoba membuka percakapan dengannya. Dia melihatku sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke gelora 10 November yang megah. Kuajukan beberapa pertanyaan yang dijawabnya secara singkat-singkat. Kupikir mungkin dia sudah mengantuk dan tidak ingin diganggu. Kunyalakan sebatang rokok sambil berdiri hendak meninggalkannya. Tiba-tiba ibu itu mengatakan apakah aku mau membelikan dia makanan? Dia lapar dan tidak punya uang. Kutatap dia dalam-dalam. Aku berusaha mencari tanda dalam wajahnya. Apakah dia tidak bohong? Suasana yang temaram mampu menyembunyikan ekspresi wajahnya.

Aku memesan nasi bebek lagi dan dibungkus. Kupesan juga es teh yang dimasukan kantong plastik. Kuberikan semuanya pada ibu itu. Dia lalu menikmati makannya. Aku duduk kembali di sampingnya. Sambil makan ibu ini bercerita bahwa dia berasal dari suatu daerah di daerah selatan Jawa Timur. Dia datang ke Surabaya untuk mencari suaminya. Menurut kabar yang diterimanya dari beberapa orang bahwa suaminya bekerja sebagai tukang becak dan mangkalnya di Tambaksari, daerah di sekitar gelora 10 November. Tapi sudah dicari sejak siang tadi ternyata suaminya tidak ada. Dia sudah bertanya kepada beberapa tukang becak yang mangkal di depan gelora apakah mereka mengenal suaminya? Ternyata tidak ada satupun yang mengenal suaminya.

Menurut ibu ini sudah 7 bulan lebih suaminya tidak pulang. Dia belum pernah sekalipun melihat anaknya ini. Dia pergi meninggalkannya sejak dia hamil tua. Kemiskinan yang melanda mereka, membuat suaminya memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Dia berharap di Surabaya akan ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Tapi ternyata sampai kini suaminya tidak pernah pulang dan uang yang dinantikan pun tidak pernah datang. Maka ibu ini mencari ke sini dan jika bertemu suaminya dia akan memaksa suaminya untuk pulang. Kalau dia tidak mau pulang, maka ibu ini juga akan tinggal di Surabaya. Aku tersenyum bagaimana mereka akan bisa hidup, sebab rumah saja mereka tidak punya. Dan apakah penghasilan dari menarik becak dapat memenuhi tuntutan kehidupan di kota seperti Surabaya ini?

Ibu itu sudah hampir menyelesaikan makannya. Dia bercerita tentang harapan dan masa depan. Dia ingin anaknya dapat bersekolah dan hidup layak. Dia yakin bahwa hidup manusia itu seperti roda yang terus berputar. Kini dia dibawah, tapi pada saatnya nanti dia akan bisa di atas. Suatu kebijaksanaan kuno, kataku dalam hati. Aku sendiri tidak yakin apakah nasib ibu itu akan berubah, tapi aku kagum dengan harapannya akan masa datang. Suatu harapan yang menuntunnya pergi dari rumah untuk mencari suaminya. Suatu harapan yang membuat dia mampu bertahan dalam kelaparan dan kehausan demi bertemu dengan suaminya. Ketika kutanya bagaimana jika suaminya ternyata sudah mempunyai istri baru? Sejenak ibu itu memandang kosong ke depan. Lalu dia mengatakan bahwa dia yakin suaminya pasti ingat akan dirinya dan anaknya. Ada nada getir dalam jawabannya, namun nada itu tertutup oleh suatu harapan.

Aku jadi kagum dengan kuatnya harapan yang dipegang oleh ibu itu. Aku harus belajar banyak untuk mempunyai harapan. Pertanyaanku tentang suaminya yang menikah sebetulnya tidak pantas aku katakan, sebab bisa mematahkan harapan yang sudah dibangunnya dari rumah. Namun aku menjadi kagum sebab ibu ini tidak terpengaruh oleh kepesimisanku. Dia tetap optimis dengan harapan-harapannya.

Seandainya banyak orang mempunyai harapan-harapan yang besar seperti ibu ini dan mampu mengubah harapan menjadi suatu keyakinan, tentu akan banyak orang yang tidak putus asa. Teman-temanku di rumah singgah banyak yang tidak mempunyai harapan akan hari esok. Akibatnya mereka banyak melakukan tindakan bodoh. Mereka menghabiskan uang mereka begitu saja, padahal uang itu mereka peroleh dengan susah payah. Mereka tidak menyesal ketika uangnya habis untuk suatu tindakan bodoh yang tidak ada gunanya sama sekali. Bagi mereka hidup itu harus dinikmati hari ini, sebab besok itu tidak ada apalagi masa depan. Mereka tidak mempunyai harapan masa depan.

Harusnya ibu ini bisa mengajarkan pada teman-teman bagaimana agar orang tetap mempunyai sebuah harapan. Sebuah keyakinan bahwa besok mereka bisa hidup lebih baik. Bahwa besok dia akan bertemu dengan suaminya. Bahwa besok anaknya bisa sekolah seperti anak-anak lain.

Malam semakin larut. Aku pamitan pada ibu itu. Dia berterima kasih atas nasi bungkus dan es tehnya. Aku hanya tersenyum dan berjalan menuju mobil. Dalam perjalanan yang hanya membutuhkan beberapa menit saja aku bersyukur bahwa aku tidak mengulang kejadian di fery. Ibu ini sebaliknya mengajarku agar tetap mempunyai harapan akan hari esok. Akan Tuhan yang tidak akan membiarkan orang selalu menderita. Aku tahu bahwa Yesus akan datang ketika aku diterjang badai seperti yang dialami oleh para murid. Tapi aku masih belum meyakininya. Aku masih meragukan kekuasaan Allah yang bisa mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Aku kurang memiliki harapan. Terima kasih malam ini aku sudah diajar oleh seorang ibu di tepi jalan.

silakan baca selanjutnya "SEORANG IBU DI TEPI JALAN" ...

Selasa, 08 September 2009

LAMPU

0 komentar

Kami duduk melingkar mendengarkan seorang romo yang sedang memberikan renungan. Namun hampir semua dari kami yang berada disitu tidak bisa mendengarkan dengan baik. Hati kami digelisahkan oleh lampu neon. Ada satu lampu neon di tengah ruangan yang berkedi-kedip dan menimbulkan suara mendengung yang cukup keras. Penjaga rumah sudah kami beri tahu tapi dia tidak mempunyai cadangan lampu, maka kami terpaksa mengikuti session diterangi lampu yang rusak. Aku sama seperti yang lain menjadi merasa tidak nyaman. Sambil berbisik-bisik pada teman disebelah aku mulai mengkritik tempat ini.

Tampaknya romo pembimbing menyadari akan situasi yang tidak mengenakan ini. Maka dia mengatakan agar kami jangan memperhatikan lampu melainkan mulai berusaha menyimak apa yang diuraikannya. Dia mengatakan semakin kami memperhatikan lampu maka kami akan semakin jengkel. Semakin kami jengkel semakin kami tidak bisa memahami apa yang dikatakan olehnya. Perkataan romo mendorongku untuk berusaha konsentrasi pada materi yang sedang dibahas. Aku berusaha melupakan lampu dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh romo pembimbing. Tidak terasa waktu konfrensi sudah selesai.

Di tengah dinginnya udara Pacet aku berusaha merenungkan apa yang baru aku alami tadi. Dalam hidup tidak ada yang sempurna. Hal yang sudah direncanakan matang pun kadang kala masih menimbulkan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana. Beberapa kali aku mengalami kegagalan. Padahal aku sudah mempersiapkan dengan serius. Kegagalan ini membuatku merasa gagal dalam aneka hal. Aku selama beberapa hari bisa tenggelam dalam rasa kecewa, gelisah, ingin berontak dan sebagainya. Jika sudah demikian maka aku enggan melakukan segala sesuatu, sebab seluruh diriku terpusat dalam rasa gagal itu.

Dalam komunitas pun ada saja orang yang kuanggap kurang sesuai dengan yang kuharapkan. Aku ingin menyingkirkannya. Namun aku tidak mampu, sebab dia pun berhak tinggal dalam komunitas. Aku pun tidak bisa melarikan diri dari realita komunitas seperti ini. Aku dipaksa menerima teman-teman sekomunitas apa adanya.

Dalam hal ini hanya dibutuhkan kesiapan untuk menerima apa adanya. Ini butuh kebesaran hati, sebab tidak mudah menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang aku kehendaki. Sering kali aku memimpikan semuanya orang bisa hidup sesuai dengan apa yang kukehendaki. Namun ini mustahil. Setiap orang mempunya gaya hidup sendiri-sendiri. Mereka mempunyai penampilan yang berbeda. Mereka mempunyai karakter dan kepribadian yang unik, sehingga tidak sama dengan kepribadian dan karakterku. Bahkan mungkin bertentangan.

Sebetulnya jika aku tidak suka dengan orang, belum tentu aku tidak suka keseluruhan dirinya. Aku bisa tidak suka akan kepribadiannya atau sikapnya atau gaya hidupnya atau yang lain. Hanya sebagian dari dirinya saja yang tidak kusukai, tapi akibatnya aku tidak menyukai dirinya secara keseluruhan. Sama seperti kejadian tadi. Gara-gara hanya sebuah lampu aku menjadi jengkel. Padahal masih ada 3 lampu lain yang menyala dengan bagus. Aku menjadi tidak suka pada semua pegawai dan pengurus rumah retret ini yang kuanggap tidak tanggap. Aku mengkritik pegawai yang malas, managemen yang tidak profesional sampai pemilik rumah yang pelit dan sebagainya. Dari persoalan lampu yang kecil menjadi melebar kemana-mana. Seolah-olah dalam rumah ini tidak ada yang baik.

Untung romo pembimbing memberikan pencerahan, bahwa jangan memusatkan diri pada sesuatu yang menjengkelkan, melainkan alihkan pandangan ke hal lain. Memang memusatkan diri pada hal negatif jauh lebih mudah. Pernah aku juga menguji sekelompok anak muda. Aku mengambil selembar kertas putih dan memberikan titik hitam. Ketika kutanya apa yang mereka lihat, hampir semua mengatakan sebuah titik hitam dalam sebidang kertas putih. Mengapa jawaban tidak dibalik yaitu sebidang kertas putih yang mempunyai titik hitam? Sebab memang titik hitam itu menarik perhatian. Semua orang memusatkan pada titik itu. Hal hitam dan negatif sangat mudah dilihat dan diingat oleh orang.

Demikian pula dalam hidup. Titik hitam seseorang sering kali diingat dan menjadi pusat perhatian. Akibatnya semua lembaran hidup putih lain yang dimilikinya seolah tidak pernah ada, kalau toh ada dianggap sebagai sebuah hal yang biasa atau bahkan dilupakan. Seorang teman pernah tertangkap mencuri barang. Dia harus menjalani hidup selama beberapa bulan didalam penjara. Ketika keluar dari penjara sedikit sekali orang yang berani memberikan kepercayaan padanya. Semua orang melihatnya sebagai bekas pencuri. Padahal sebelum mencuri banyak orang percaya padanya. Dia mencuri pun akibat terdesak tuntutan keluarga sebab orang tuanya sakit dan membutuhkan banyak biaya. Barang yang dicuri pun bukanlah barang mahal, hanya beberapa peralatan dapur dan makan. Dia menjualnya hanya laku Rp 150.000. tapi akibat semua itu dia sudah dianggap sebagai orang yang penuh dengan dosa. Seluruh hidupnya hitam kelam.

Kupandang langit yang hitam. Seandainya tidak hitam pasti bintang tidak akan tampak indah seperti malam ini. Gelap pun dibutuhkan dalam dunia. Gelap pun bisa menambah keindahan alam. Mengapa aku selalu ingin semuanya putih dan terang? Hidupku pun tersusun dari hitam dan putih. Gelap dan terang. Keberhasilan dan kegagalan. Sikap buruk dan baikku. Semua membentukku menjadi diriku saat ini. Aku tidak akan berkembang bila hanya memusatkan diri pada hal buruk atau kegagalan dalam hidupku. Aku tidak bisa bersyukur pada Allah bila hanya memusatkan pandangan pada hal negatif dan menjengkelkan yang melekat pada diriku.

Syukur romo tadi menyadarkan aku akan hal itu. Keberanian untuk tidak lari dari kekurangan yang ada namun tidak memusatkan diri padanya. Tidak berusaha berontak akan kekurangan yang ada, melainkan menerimanya. Sebab semakin berontak akan semakin menjengkelkan dan membuatku tidak berkembang.

silakan baca selanjutnya "LAMPU" ...

Minggu, 06 September 2009

SELAMAT JALAN NOK

1 komentar


Hanya inilah yang bisa aku katakan ketika Mas Yoga menegaskan bahwa kamu adalah salah satu kurban di TimTim. Penegasan berita dari Mas Yoga dan Rm. Hari membuatku bersimpuh. Hatiku berkecamuk. Tidak tahu aku harus teriakan pada siapa. Pedih. Marah. Geram. Kecewa. Tidak percaya. Berkecamuk menjadi satu. Mengapa orang TimTim yang memandang pastur begitu tinggi dibandingkan di Jawa sini bisa membunuh pasturnya? Benarkan penembakmu adalah orang TimTim? Tuhan akan membukanya, entah kapan. Aku tidak tahu.

Aku masih ingat pertemuan kita di Dili beberapa waktu lalu. Kau mengejekku sebab terlalu cepat menjadi imam. Aku pun mengejekmu yang betah menjadi frater. Kita saling ejek setelah sekian lama tidak jumpa. Ya, sejak kita pisah di Garum dulu. Kau masuk Jesuit sedang aku masuk CM.

Nok, Painok, begitu kau disebut. Entah ini nama ejekan atau nama kesukaanmu, tapi banyak teman memanggilmu demikian dan kamu tidak sakit hati. Aku lihat lagi foto foto kita ketika kita keluyuran di girli untuk menemui Rm. Mangun. Ketika kita di Rowoseneng untuk meneguhkan panggilan kita masing masing. Ketika di rumahmu. Gara gara kamu hanya memberi alamat dekat lampu bangjo, aku kesasar sampai jauh sekali, sebab lampu itu mati dan hari sudah malam sehingga tidak tampak kalau ada lampu bangjo. Aku pun harus kembali naik angkutan dan bertanya sana sini untuk menemukan daerahmu. Sampai daerahmupun aku lupa nomor rumahmu. Untung aku masih ingat nama ayahmu, sehingga agak mudah menemukan rumahmu. Kitapun saling ejek atas kekeliruan ini. Syukurlah kamu punya ibu yang sangat baik, sehingga beliau repot membuatkan minuman hangat dan air hangat untuk mandiku.

Nok, mengenang semua ini aku jadi sedih. Dua tahun kita satu kamar tidur. Banyak kisah lucu ala seminaris kita alami. Tapi kini semua tinggal kenangan. Kau sudah tidak bisa ketemui lagi. Untuk mengunjungi kuburmu pun aku tidak bisa, sebab tubuhmu belum ditemukan. Ah Nok,...masih terbayang kecerianmu di Dili. Kau bersemangat sekali sebab sebentar lagi akan ditahbiskan. Aku pun mengejekmu akan datang ke tahbisanmu, hanya untuk menumpangkan tanganku di atas rambutmu yang sering diejek mambu kloso. Tapi, aku tahu kau hanya bergurau, tidak akan mengundangku. Tidak ingin aku menumpangi tangan. Ah...jahat sekali kamu Nok. Sungguh Nok, aku sedih.


Tapi aku bangga padamu. Sungguh! Aku kagum padamu! Kagum pada pilihanmu. Mati diantara umatmu. Kemarin aku sedikit ngobrol dengan beberapa teman cerita soal cara matimu. Ada yang berkomentar bahwa itu konyol, sebab berani menantang maut. Harusnya kau mengungsi keluar kota bersama para seminaris. Tapi kau memilih bertahan di parokimu. Berani menghadapi para perusuh bersenjata. Berani tanpa berpikir adalah konyol. Kali ini kau kubela, Nok. Menurutku kita memang harus konyol. Yesus pun tahu bahwa Dia akan ditangkap dan disalibkan. Dia ketakutan di taman Getsmani. Tapi Dia tidak lari dari Yerusalem. Apakah Dia tidak konyol? Konyol! Yesus juga konyol. Dia menyongsong kematianNya.

Aku kagum kau tidak lari. Kau bertahan bersama umatmu. Aku yakin bahwa saat itu umatmu membutuhkan kau berada di tengah tengah mereka. Umatmu penuh ketakutan dan kau berada di tengah tengahnya. Ini peneguhan yang tidak ternilai, meski kau harus merelakan tubuhmu dihilangkan. Bukan hanya nyawamu saja. Memang ada yang berpendapat bahwa dengan pergi kau bisa meneruskan perjuangan mereka. Kau bisa memberikan laporan pandangan mata tentang kekejaman mereka. Kau bisa mengorganisir perjuangan dari luar. Tapi, Nok, kau pilih mati bersama mereka.

Aku bersyukur atas pilihanmu, sehingga Yesus tidak perlu lagi datang dan menemuimu di tengah jalan dengan memikul salib. Dan kau tidak perlu lagi bertanya Quo vadis Domine? Kau hebat Nok! Mau tetap memikul salibmu, sehingga Yesus tidak perlu menggantikanmu ditembak di tengah umatmu. Ada yang komentar, bahwa kau akan lebih berguna jika masih hidup dari pada mati dengan cara seperti ini. Tapi sekali lagi aku membelamu Nok. Mungkin saat Petrus meninggalkan Roma, umatpun senang, sebab Petrus bisa mengembangkan kekristenan di luar Roma. Tapi Yesus berjalan menuju Roma. Petrus pun malu dan kembali ke Roma untuk mati disalib. Ternyata kematian Petrus tidak memusnahkan Gereja. Darah Petrus terus mengalir dan menjadi rabuk tempat bersemainya Gereja baru. Aku yakin Nok, darahmu pun akan membuat Gereja Timor Timur khususnya, dan Indonesia pada umumnya, akan tumbuh subur dan berkembang.

Nok, sekali lagi aku kagum padamu. Kau dalam diam membuka mataku tentang keberanian, tentang kecintaan pada umat, tentang hakekat panggilan hidup kita, yaitu mengikuti Yesus yang berjalan menuju bukit Golgota, tentang salib yang harus kita pikul. Aku yakin Nok, pilihanmu ini tidak akan mengangkatmu menjadi orang terkenal di seluruh dunia. Kau tidak akan dilirik oleh panitya Nobel untuk diberi nobel perdamaian. Kau tidak akan mendapat tepukan dimana mana. Kau tidak akan jadi orang terkenal. Kau akan tetap menjadi Rm. T. Dewanto SJ yang mati ditembak di TimTim. Kau hanya diingat dan dicatat sebagai kurban.


Tapi Nok, aku percaya bahwa kematianmu tidak sia sia. Kau bukan kurban yang memang harus jatuh, konsekwensi logis, akibat revolusi. Kau tidak salah dengan pilihanmu. Aku bahkan iri padamu. Sebab kau bertemu Yesus dan bisa menunjukan luka tembakmu. Sedang aku Nok. Apa yang bisa aku tunjukan pada Yesus? Luka luka aku belum punya. Apakah Yesus akan memperhitungkan aku, sebab beberapa kali nulis di p net? Apakah aku bisa membanggakan diri dihadapan Yesus dengan menunjukan kedudukanku sebagai ketua komisi? Apakah Yesus akan menerimaku di surga jika kutunjukan bahwa aku direktur sebuah yayasan? Seandainya aku jadi uskuppun, apakah bisa Yesus langsung mempersilahkan diriku masuk surga? Bahkan seandainya semua orang di dunia tahu bahwa aku penerima nobel perdamaian dan dicatat oleh para tokoh politik sebagai pejuang, apakah Yesus lalu mengagumiku dan menerimaku dengan penuh suka cita? Ah, Nok....kau telah diterima di surga. Bukan dengan gelar atau prestasi yang hebat, tapi dengan keberanian pilihanmu untuk bersama Yesus di TimTim.

Akhirnya Nok, aku ucapkan SELAMAT JALAN KAWAN. Aku bangga padamu. Aku akan berdoa khusus bagimu dengan hati yang merintih pedih. Hanya ini yang bisa kulakukan. Maaf!

silakan baca selanjutnya "SELAMAT JALAN NOK" ...

AKU HANYALAH ANAK KOPRAL ANUMERTA

0 komentar

Saya adalah anak seorang kopral anumerta. Ya! Benar! Bapak adalah seorang anggota ABRI yang berpangkat kopral. Dia sudah tewas tertembak dalam suatu pertempuran maka dibelakangnya diberi tambahan anumerta.

Bapak bagi saya adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Disetiap kesempatan luang, dia mengajak ibu, dua adik dan saya jalan jalan. Kami hanya jalan jalan menikmati keindahan kota. Sebelum jalan jalan bapak atau ibu senantiasa berpesan agar kami tidak boleh meminta apa apa. Kalau bapak atau ibu punya uang, maka kami akan dibelikan sesuatu, entah mainan yang dijual di emper toko atau kue kue di pedagang kaki lima. Kata ibu gaji bapak sangat kecil, sehingga tidak mungkin kami beli mainan di toko atau makan di restoran. Bapak hanyalah seorang prajurit. Tapi meski hidup susah, saya bangga pada bapak. Apalagi kalau melihat bapak dengan seragam lengkap. Dia tampak gagah dan tampan.

Kedekatan saya dengan bapak tidaklah lama. Saya masih kelas tiga SD ketika bapak mendapat tugas ke Timor Timur. Saya sendiri tidak tahu dimana tempat itu. Ibu hanya bilang bahwa Timor Timur itu jauh di timur negara Indonesia. Malam sebelum berangkat bapak mengambil peta Indonesia dan menunjukan dimana tempat yang namanya Timor Timur. Suatu daerah kecil yang diberi warna lain, sebab tidak termasuk negara Indonesia. Bapak menjelaskan bahwa dia bersama teman temanya harus naik kapal laut selama beberapa hari baru bisa mencapai tempat tersebut.

Kata ibu bapak kesana akan berjuang. Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit yaitu siap diperintah kemana saja dan berjuang melawan musuh. Saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak disana. Saya juga tidak tahu pasti siapa musuh bapak di sana. Apakah berjuang melawan penjajah seperti cerita kakek yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Atau berjuang melawan pemberontak seperti cerita kakek tentang pemberontakan Kahar Muzakar, RMS, DI/TII atau yang lain. Saya tidak tahu, ibu pun tidak tahu. Maklum ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi. Kami juga kekurangan informasi, sebab tidak berlangganan surat kabar. Kami tidak mempunyai uang untuk berlangganan surat kabar. Beberapa kali saya melihat bapak membaca surat kabar yang dibeli eceran atau hasil dari pinjam ke tetangga. Kami juga tidak mempunyai TV. Ini suatu barang yang sangat mewah. Yang kami punya hanya radio kecil dan hanya bisa menangkap siaran radio amatir. Atasan bapak juga tidak menjelaskan dengan rinci untuk apa dia harus mengirim bapak kesana. Menurut bapak, dia hanya mengatakan bahwa sebagai prajurit yang menjalankan sapta marga, dia harus siap untuk diutus kemana saja. Maka ibu tidak bisa menjelaskan mengapa bapak harus berjuang di Timor Timur.

Bapak sendiri tidak tahu apa yang terjadi di Timor Timur. Dia hanya mengatakan bahwa di sana terjadi kerusuhan dan sebagai prajurit, dia harus mengamankan negara dari kerusuhan. Ini perintah dan harus ditaati. Sampai bapak berangkat saya tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak. Apa yang menyebabkan kerusuhan. Siapa yang dianggap perusuh. Saya sendiri tidak tahu apa arti kata berjuang bagi seorang prajurit ABRI. Yang saya tahu pasti ialah bahwa bapak mendapat tugas pergi ke Timor Timur bersama teman temannya. Kedua, hal itu berarti bahwa saya akan lama untuk tidak bertemu dengan bapak. Saya hanya akan memandang foto bapak yang gagah dalam seragam prajurit marinir.

Sebulan bapak tidak terdengar kabar beritanya. Bagi ibu ini hal biasa. Ibu sudah tahu konsekwensi istri prajurit. Dia akan sering ditinggal pergi oleh suaminya. Tapi saya tidak senang bapak pergi terlalu lama. Saya kangen dengan bapak. Saya kangen belaian tangannya yang kasar. Saya kangen digendong belakang. Saya kangen diajak jalan jalan. Saya kangen untuk menunjukan pada teman teman bahwa bapak saya adalah seorang ABRI yang sangat gagah dalam pakaian seragamnya. Saya kangen bapak. Saya yakin ibu juga kangen, tapi tidak ditunjukan pada kami. Saya juga yakin bahwa adik adik kangen pada bapak, tapi mereka tidak bisa mengungkapkan, sebab mereka masih umur 3 th dan 4 bulan. Saya yang sudah besar, sudah klas 3 SD, dapat merasakan rasa kangen itu dan mengungkapkannya.

Hampir menginjak bulan kedua bapak belum juga pulang. Beberapa kali saya tanya ibu, kapan bapak kembali. Ibu selalu mengatakan tidak tahu atau kalau keadaan sudah aman. Kata ibu situasi di Timor Timur sangat berat dan gawat. Beberapa teman bapak tewas di sana. Ada yang pulang tapi mengalami gangguan jiwa. Dia sering teriak teriak pada malam hari dan sangat ketakutan dalam gelap. Padahal dulu dia pemberani. Kalau tidak pasti dia tidak akan jadi prajurit. Tapi kini dia menjadi penakut dan sikapnya aneh. Pernah dia menangkap cicak di rumah kami, langsung dimakan. Tentu saja saya jadi jijik. Kata ibu teman bapak itu mengira bahwa dia masih di Timor Timur. Ada juga teman bapak yang pulang dengan menyandang cacat tubuh. Ada yang kakinya hilang satu ada yang tangannya hilang. Melihat teman bapak itu, saya jadi takut. Jangan jangan bapak pulang nanti menjadi seperti itu. Tapi bapak belum pulang, maka saya hanya bisa berdoa semoga bapak bisa cepat pulang dan tidak berubah. Masih seperti bapak yang dulu.

Menginjak beberapa hari setelah bulan kedua, seorang tentara datang ke rumah kami. Saya tidak tahu apa yang dia ceritakan. Yang saya tahu tiba tiba ibu menjerit dan menangis histeris, sampai beberapa tetangga berusaha menenangkannya. Melihat ibu menangis semua adik juga ikut menangis. Tapi saya tidak, sebab tidak tahu mengapa ibu menangis. Banyak tetangga yang berkumpul di rumah kami sampai tentara itu pergi. Saya melihat ibu beberapa kali pingsan. Jika sadar dia berteriak teriak memanggil nama bapak. Saya mengira ibu bertengkar dengan tetantara itu dan memanggil bapak untuk membelanya. Akhirnya saya bertanya pada ibu apa yang terjadi. Dengan sedih tetangga sebelah menceritakan bahwa bapak saya tewas ditembak. Ya bapak saya tewas dalam berjuang, meski saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan. Bapak juga tidak menjelaskan apa yang diperjuangkan.

Bapak tewas. Saya tidak berani mengatakan bapak gugur. Kata itu hanya untuk para pahlawan dan para tentara yang mempunyai pangkat. Bapak bukan pahlawan. Dia juga bukan perwira. Dia hanya seorang prajurit yang mati ditembak. Saya kehilangan bapak. Padahal saya masih membutuhkan bapak. Apalagi adik adik. Tentu si bungsu tidak akan pernah tahu siapa bapaknya. Dia hanya akan tahu dari sebuah foto di ruang tamu. Saya sedih sekali. Bapak telah ditembak. Saya tidak tahu siapa yang menembak bapak. Saya tidak tahu apakah yang menembak bapak bisa disebut musuh atau bapaklah yang dianggap sebagai musuh. Saya tidak tahu siapa yang benar, siapa yang dibela, siapa yang diperjuangkan. Yang saya tahu dengan pasti ialah bahwa bapak diperintahkan untuk pergi ke Timor Timur dan mati ditembak orang di sana.

Beberapa minggu kemudian peti mati bapak datang. Ibu histeris di depan peti mati. Tapi bapak tetap mati. Sebetulnya saya ingin sekali melihat wajah bapak yang gagah untuk terakhir kalinya. Tapi ada larangan untuk membuka peti mati. Saya tidak kuasa dengan perintah itu. Ibu pun tidak kuasa menolak perintah atasan bapak. Ibu harus percaya bahwa yang ada dalam peti mati itu adalah jenasah bapak. Betapa sedihnya hati saya. Untuk melihat wajah bapak yang terakhir saja tidak bisa. Dengan berderai air mata, saya mengatar bapak ke pemakaman. Dalam pemakaman ada beberapa sambutan yang saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh atasan bapak. Hanya yang saya tahu dia menyerahkan sebuah amplop berisi uang dan sebuah tanda penghargaan. Ganti nyawa bapak adalah uang yang ada dalam amplop dan selembar kertas yang katanya berisi tanda penghargaan atas keberanian bapak dalam membela negara. Saya nangis saat itu. Saya tidak mau nyawa bapak diganti oleh lembaran itu. Saya lebih memilih bapak tidak mendapat tanda jasa dan kenaikan pangkat, dari pada harus kehilangan bapak yang saya cintai.

Ternyata bapak bukanlah satu satunya dan yang terakhir. Masih banyak teman teman bapak yang tewas atau pulang dengan cacat. Mereka pada umumnya adalah prajurit dengan pankat rendah. Saya belum mendengar seorang jendral yang tewas atau pulang dengan cacat tubuh. Tapi hal ini semakin membanggakan saya bahwa bapak jauh lebih berani berjuang dari pada para jendral, sebab buktinya bapak berani tewas ditembak, sedangkan para jendral pulang dengan selamat. Tapi merekalah yang terkenal, sedangkan bapak tetap sebagai kopral anumerta, yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Bapak hanyalah seorang prajurit yang harus taat pada perintah atasan bahkan siap mati demi membela bangsa dan negara.

Sampai kini kesedihan terus berlanjut. Kehilangan bapak dan kemiskinan akibat pensiun bapak yang kecil tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup. Ibu dan saya harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Tapi hal yang sangat menyedihkan saya saat ini ialah bapak dan teman teman dicaci maki sebagai biang kerusuhan saat ini. Bapak menjadi tentara bukan untuk menindas, tapi punya tujuan mulia yaitu mempertahankan negara dan bangsa dari serangan musuh, seperti kakek dulu mempertahankan negara dari serangan Belanda. Saya yakin kalau boleh memilih bapak pasti menolak untuk pergi ke Timor Timur. Dia berangkat kesana karena taat pada perintah atasan. Disana dia pasti pernah menembak dan dia mati terkena tembakan. Oleh siapa? Musuh bangsa? Pejuang bangsa? Saya tidak tahu.

Saat ini banyak orang mengkritik bapak dan teman teman bahwa dia melakukan kekerasan di Timor Timur. Bapak bukan orang yang suka kekerasan. Dia pasti menembak supaya tidak mati ditembak. Tapi toh akhirnya dia ditembak. Pengurbanan nyawa bapak tidak ada gunanya, bahkan saya saat ini malu jika ingin mengatakan bahwa bapak adalah ABRI yang berangkat ke Timor Timur pada tahun 1976. Bukan saya tidak bangga dengan bapak, tapi saya tidak tahan dengan ejekan sebagai anak ABRI yang mendapat nilai jelek sekali dihdapan teman teman. Seolah apa yang dilakukan bapak adalah kesalahan besar, padahal bapak hanya seorang prajurit yang harus taat pada pimpinan.

Di depan kuburan bapak saya hanya bisa mengeluh pada sebuah batu nisan. Saya ingin protes mengapa bapak dulu memilih sebagai tentara, mengapa bukan sebagai pekerja pabrik, kantor, bahkan tukang becak atau pemulung sekalipun. Mengapa bapak memilih menjadi tentara? Mengapa bapak mau dikirim ke Timor Timur? Apakah itu dosa bapak, sehingga banyak orang sekarang sinis pada saya yang mengatakan bahwa bapak adalah salah satu tentara yang dikirim ke Timor Timur pada tahun 1976? Pernah ibu meneguhkan saya, ketika saya digelisahkan oleh persoalan ini. Ibu mengutip dari Injil Yohanes, "Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang melemparkan batu yang pertama pada perempuan itu." Saya hanya berdoa semoga bapak hanyalah sebagai perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Dai harus diadili sedang yang lelaki tidak diadili oleh masa. Bapak dan teman teman harus diadili sedangkan yang berkepentingan tidak diadili. Dan yang mengadili bapak adalah masa yang sebenarnya juga penuh dengan dosa, sering berbuat kekerasan, tidak adil, penindas. Ini meneguhkan saya agar saya tidak melihat nyawa bapak sebagai sebuah kesia siaan.

Tapi bagaimanapun juga salib masih harus kami pikul. Kemiskinan, status kami sebagai anak piatu, kerinduan kami pada bapak yang tidak mungkin dipenuhi dan terlebih nama jelek bapak karena dia adalah tentara. Ya, saya hanyalah anak seorang kopral anumerta. Seorang kopral yang katanya membela nusa dan bangsa sehingga harus menyerahkannya nyawanya.

silakan baca selanjutnya "AKU HANYALAH ANAK KOPRAL ANUMERTA" ...

SEBOTOL MINYAK GORENG

0 komentar

Suatu hari ibu menyuruhku untuk membeli minyak goreng. Aku mengajak adikku untuk pergi ke warung yang tidak seberapa jauh dari rumah. Dalam perjalanan pulang kami berkejaran di pematang sawah. Namun sial, aku terjatuh dan terperosok masuk ke sawah. Akibatnya botol minyak pecah dan minyak tumpah di sawah. Sejenak kami termangu. Kami sudah membayangkan wajah ibu yang akan marah dan ngomel lama sekali. Kami tahu bahwa uang ibu tidak banyak, sehingga setiap pengeluaran sangat diperhitungkan.

Kami duduk tanpa bicara. Ada perasaan takut, sedih, menyesal dalam hati. Kami hampir menangis, bukan karena hanya takut dimarahi, namun menyesal telah memecahkan botol minyak. Kami menyesali tindakan kami yang tidak hati-hati. Kami sedih mengingat bahwa ibu harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli minyak, padahal kami sangat miskin. Namun semua sudah terjadi. Dengan perasaan yang bercampur aduk kami berjalan pulang.

Dengan langkah berat kami menyusuri jalan pulang. Kami tidak bicara sesuatu pun. Semakin mendekati rumah, hati kami semakin takut dan galau. Kami melihat ibu duduk di teras rumah dengan seorang tamu. Semakin dekat dengan teras, kakiku semakin berat. Ingin rasanya menangis. Di teras kulihat ibu tersenyum. Dengan lembut dia tanya mana minyak yang harus kami beli? Sejenak aku hanya bisa tertunduk takut menatap wajah ibu. Dengan suara bergetar aku katakan bahwa minyaknya tumpah di sawah. Aku sempat melirik wajah ibu. Ibu tetap tersenyum. Lalu dengan lembut dia menyodorkan uang dan menyuruhku untuk membeli minyak lagi dengan peringatan agar aku tidak lari-lari lagi di sawah.

Perkataan ibu itu bagiku sebagai suatu berkat. Aku sangat bahagia sekali. Sepertinya ada beban besar yang terlepas dari diriku. Ingin rasanya aku melonjak kegirangan dan memeluk ibu saat itu juga. Aku merasakan kebahagiaan yang tidak terkirakan. Aku yang bersalah dan ketakutan akibat kesalahanku, ternyata tidak dipersoalkan oleh ibu. Meski sedih ibu memberiku uang lagi. Ibu mempercayaiku lagi tanpa kemarahan yang aku bayangkan selama perjalanan ke rumah. Tanpa komando untuk kedua kali aku langsung berlari ke warung lagi dengan penuh suka cita.

Pengalaman ini membuatku bisa merasakan betapa bahagianya si anak bungsu yang diterima lagi oleh bapanya (Luk 15:11-32). Dia tidak hanya diterima bahkan dibuat spesial dengan perhiasan dan pesta. Dia yang telah berdosa dan takut akan bapanya, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi bahkan sebaliknya menjadi suka cita. Aku yakin meski tanpa pesta pun anak itu sudah menjadi bahagia, sebab bapanya menerima dia kembali. Dia pun sudah menetapkan sejak mau berangkat pulang bahwa dia akan menjadi pegawai bapaknya. Dia sadar akan ketidakpantasannya dan akan dosa-dosanya yang seharusnya mendapatkan hukuman. Namun bapanya memberikan jauh lebih besar dari apa yang dia harapkan. Bapanya tidak saja mengatakan bahwa dia mengampuni, namun memberikan hal yang sangat spesial. Kebahagiaan anak bungsu ini menjadi berlipat dan tidak terkatakan.

Salah satu pesan Yesus dalam Injil hari ini adalah aku mewartakan berita tentang pertobatan dan pengamunan dosa (Luk 24:46-53). Kamu adalah saksi akan semua itu. Yesus datang dan mengampuni dosaku. Dosa-dosaku yang tidak terhitung diampuniNya. Aku yang penuh dosa Dia terima tanpa memberikan hukuman. Aku tetap diangkatNya sebagai anak bukan budak atau hamba. Bahkan Dia menjanjikan akan kebahagiaan surgawi. Inilah suka cita yang tidak terperikan. Suka cita bukan karena Tuhan memberikan kelimpahan harta, namun suka cita pengampunan dosa. Aku yang berdosa dan selalu berbuat dosa diampuni dan selalu diampuniNya. Aku selalu diterima dan ditunggu kapan aku akan kembali padanya. Inilah kebahagiaan akan kasih Allah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Aku bersuka cita, sebab aku yang penuh dengan dosa diampuni Allah. Namun mengapa aku sulit untuk mengampuni sesama? Aku tidak ubahnya seperti perumpamaan yang ditulis dalam Mat 18:21-35. Aku seperti hamba yang memohon belas kasih pada Allah untuk melepaskan hutang-hutangku, namun aku tidak mau melepaskan hutang orang yang berhutang padaku. Aku memohon agar Allah mengampuni dosaku, namun aku tidak mau mengampuni dosa sesamaku. Aku ingin mendapatkan suka cita pengampunan, namun aku tidak mau memberikan suka cita itu pada sesama. Aku merasa Allah wajib mengampuniku, namun aku tidak wajib mengampuni sesamaku. Aku bebas menyakiti hati Allah, namun aku tidak boleh disakiti. Bagaimana seandainya aku menjadi Allah yang harus senantiasa mengampuni sedang orang yang aku ampuni tidak mau mengampuni? Aku akan sakit hati sekali bagai raja dalam perumpamaan itu. Maka pantaslah raja itu menghukum hamba itu.

Disinilah butuh kesadaran diri. Kesadaran akan dosa-dosaku yang besar dihadapan Allah, namun Dia tetap mau menerimaku. Kesadaran bahwa aku sebenarnya tidak pantas menerima tubuh Kristus karena dosa-dosaku, namun aku tetap memberanikan diri untuk menerimanya. Dan aku merasa suka cita atas peristiwa ini. Kesadaran pengalaman inilah menjadi titik tolakku untuk mengampuni sesamaku yang dosanya tidak sebesar dosaku pada Allah. Jika aku tidak memiliki pengalaman diampuni Allah, maka aku juga sulit mengampuni, sebab aku tidak pernah merasakan betapa bahagianya diampuni itu. Seandainya aku tidak pernah memiliki pengalaman diampuni ibuku sebab memecahkan botol minyak, maka aku juga tidak pernah merasakan betapa bahagianya pengampunan itu. Seandainya banyak orang mengalami dan menyadari semua ini, maka dunia akan lebih membahagiakan....

silakan baca selanjutnya "SEBOTOL MINYAK GORENG" ...

Senin, 16 Juni 2008

ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

1 komentar

Adikku telpon. Nadanya datar tapi isi kalimatnya menunjukkan kekesalan hati. Dia cerita baru saja menerima berkat dari Tuhan. Dia menawarkan apakah aku mau menerima berkat itu. Di perumahan tempatnya tinggal ada seorang pemuda yang tidak jelas asal usulnya. Badannya kurus kering. Tinggal kulit membalut tulang, sehingga semua persendian tampak sebagai benjolan-benjolan besar. Mirip foto orang kelaparan yang banyak tersebar di berbagai media. Pemuda ini sakit parah. Dia muntah darah dan sudah tidak mampu bangun lagi. Tampaknya umurnya tidak akan lama lagi. Orang yang menemukan tahu bahwa pemuda ini adalah seorang Katolik, maka dia membawanya ke rumah adikku. Maka adikku berinisiatif untuk melaporkan ke tokoh iman di paroki, sebab yakin bahwa pemuda ini membutuhkan pengobatan segera.

Adikku menceritakan masalahnya pada tokoh tersebut. Pertanyaan yang muncul pertama kali dari dia adalah apakah pemuda ini Katolik atau bukan? Mendengar pertanyaan itu adikku menjadi jengkel sekali. Bukankah pemuda ini sudah akan meninggal dunia, tapi mengapa masih dipertanyakan soal agamanya? Dalam kekecewaan adikku menyarankan agar tokoh itu sebaiknya menyobek Injil yang bercerita tentang orang Samaria yang baik hati. Bila perikop itu tidak ada maka pertanyaannya menjadi relevan. Mendengar omelan adikku akhirnya sang tokoh menyarankan agar pemuda itu dibawa ke rumah sakit dan Gereja akan menanggung sebagian biayanya. Adikku membawa pemuda itu ke sebuah rumah sakit swasta. Ternyata pemuda ini terkena pneumonia. Lebih parah lagi dia terjangkit HIV positif. Rumah sakit swasta mengirimnya ke rumah sakit umum. Adikku melaporkan kepada sang tokoh bahwa pemuda itu terkena AIDS. Mendengar itu tokoh itu memberikan banyak aturan dan penjelasan yang intinya bahwa gereja kekurangan dana. Artinya dia tidak mau terlibat dalam pengobatan pemuda ini. Adikku lalu mengumpulkan teman-temannya untuk urunan. Sedikit uang yang ada dijadikan modal untuk membayar biaya perawatan rumah sakit.

Oleh karena biaya rumah sakit cukup banyak sedang bantuan tidak ada, maka adikku bertanya apakah aku mau membantunya? Siapa lagi yang akan membantunya kalau bukan aku? Katanya berusaha memelas agar aku mau membantunya. Mendengar semuanya aku menjadi tersenyum. Aku katakan inilah hidup yang sering kali tidak berjalan sesuai dengan ajaran Injil. Injil memang enak untuk dikotbahkan tapi berat untuk dilaksanakan. Kebetulan bacaan Injil minggu itu diambil dari perikop tentang orang Samaria yang baik hati. Aku bayangkan bagaimana tokoh itu akan merenungkan Injil? Beranikah dia mengajarkan cinta kasih dan kepedulian pada sesama yang menderita seperti orang Samaria yang rela menolong tanpa mempedulikan siapa orang yang ditolongnya? Mungkin dia mempersiapkan sebuah renungan bagus yang akan mendapatkan decak kagum banyak orang yang mendengar, namun apakah dia tidak malu dengan diri sendiri? Aku tersenyum geli membayangkan semua itu.

Pemuda itu adalah anak sebatang kara. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ayahnya tidak jelas siapa. Dia hidup dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Akhirnya menjadi anak jalanan yang hidup dari mengamen di perempatan jalan. Kemana dia harus minta tolong pada saat genting hidupnya? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap dirinya? Aku mengatakan pada adikku mengapa dia ribut padahal baru merawat satu sedangkan aku sudah sekian tahun dengan sejumlah anak jalanan. Namun adikku berkilah bahwa anak jalanan yang ada bersamaku tidak satu pun yang AIDS. Aku bersyukur selama mengadakan pertemanan dengan anak jalanan tidak pernah menemui mereka yang terinfeksi HIV meski kehidupan mereka sangat memungkinan terjangkit HIV. Akhirnya aku menyarankan pada adikku untuk mencari orang Samaria lain.

Saat ini memang sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Dalam kisah tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37), Yesus menceritakan bahwa pada saat itu ada imam dan orang Lewi yang melihat orang yang dirampok namun mereka melaluinya lewat seberang jalan. Imam dan orang Lewi adalah petugas di Bait Allah. Mungkin mereka menduga bahwa orang yang tergeletak di tepi jalan itu sudah mati. Bila mereka menyentuh orang mati, maka akan najis selama 7 hari (Bil 19:11-13). Mereka tidak mau mengambil resiko yang menyebabkannya najis sehingga tidak dapat masuk dalam bait Allah. Orang Samaria tidak terikat oleh aturan najis dan haram orang Israel, maka dia berani menyentuh dan merawat orang yang sudah sekarat itu.

Banyak orang enggan menolong orang lain sebab takut dengan resiko yang terkait dengan tindakannya. Bila orang menolong maka dia akan kehilangan entah harta, tenaga, waktu dan sebagainya. Banyak orang enggan kehilangan apa yang dimilikinya maka mereka tidak peduli pada orang yang menderita. Ada pula orang menjadi enggan menolong sesama sebab perbuatannya dipandang tidak baik oleh orang lain. Orang membantu sesamanya dikatakan ingin menjadikan orang lain beriman sama, dikatakan sok suci dan sebagainya. Belum lagi bila yang ditolong tidak berterima kasih bahkan sebaliknya menjadi pengkhianat. Orang ingin hidup aman. Tidak mau ambil resiko.

Orang Samaria adalah orang yang berani mengambil resiko. Dia sedang dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin dia sedang dalam perjalanan bisnis. Namun dia berani meninggalkan segala kepentingan dirinya demi orang lain. Segala perhatiannya hanya terarah pada keselamatan orang yang sedang menderita. Maka dia berani merawat, menaikkan ke keledainya, membawanya ke rumah penginapan, memberi ongkos pada pemilik rumah penginapan dan berjanji akan melunasi bila uang yang dititipkanya ternyata kurang ketika dia kembali. Orang Samaria berani mengurbankan waktunya, uangnya, bahkan mungkin keselamatannya sebab ada kemungkinan para perampok itu akan datang lagi dan merampoknya.

Pada jaman ini sangat dibutuhkan orang yang berani mengurbankan segalanya demi orang lain. Pengurbanan yang terbesar adalah pemberian dirinya. Orang Samaria itu merawat orang yang menderita. Dia terlibat dalam penderitaan orang. Dia berempati. Banyak orang hanya memiliki simpati. Seorang presiden meneteskan air mata ketika mendengar kisah sedih para kurban lumpur. Dia berjanji akan datang ke tempat kurban. Ternyata ketika datang dia hanya melihat dari atas helikopter yang berkeliling di daerah kurban dan menyatakan aneka janji. Padahal dia tahu masalah ada dalam keputusan yang dibuatnya dan memiliki kekuatan hukum. Presiden itu hanya bersimpati tapi tidak memiliki empati. Orang yang berempati pada sesamanya yang menderita bukan hanya melihat dari jauh atau berkotbah mengenai kasih. Namun dia harus terlibat. Merawat orang yang menderita, menyentuh dan disentuh serta mengusahakan keselamatannya.

Yesus datang ke dunia untuk mengajarkan empati Allah akan penderitaan manusia. Dia tidak menangis dari surga sambil mendengarkan atau melihat penderitaan manusia. Dia datang dan terlibat dalam penderitaan manusia bahkan Dia memberikan diriNya untuk keselamatan manusia. Rasa inilah yang saat ini sudah menipis. Orang sudah merasa puas bila mampu berkotbah tentang kasih, memberikan harapan pada orang yang menderita dan menampakkan wajah sedih bila melihat orang menderita. Maka saat ini sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Orang yang berani menanggung resiko demi keselamatan orang lain. Orang yang menomor duakan kepentinganya sendiri demi nyawa seseorang. Orang yang berani dengan tangannya sendiri menyentuh dan merawat orang yang sangat menderita.

Pemuda yang terinfeksi HIV saat ini sudah keluar dari RSU, maka adikku bertanya dia harus tinggal dimana? Tidak ada satu tempatpun yang bersedia menampungnya. Aku katakan sebaiknya dikontrakkan rumah saja. Sekali lagi adikku menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kami saling tersenyum. Aku katakan bukankah mendiang ibu kita sudah mengajarkan untuk berani memberi meski hanya memiliki sedikit bahkan sampai kita sendiri menjadi kekurangan? Aku sarankan agar dia berserah pada Tuhan. Pemuda itu adalah utusan Tuhan bahkan mungkin Tuhan sendiri yang datang padanya untuk meminta apa yang sudah diberikanNya selama ini. Kita sering bersyukur atas segala anugerah Tuhan. Dengan demikian semua yang kita miliki adalah milik Tuhan yang dititipankan pada kita. Sekarang Tuhan datang dan meminta mengapa kita tidak memberikannya? Ada saatnya Tuhan memberi namun ada saatnya Tuhan meminta kembali. Dia datang kepada kita tanpa kita duga dan dalam wujud orang yang miskin dan menderita. Inilah saat Tuhan datang, maka inilah anugerah besar yang kita terima. Adikku bertanya sekali lagi apakah aku mau menerima sebagian anugerah Tuhan? Aku hanya tersenyum.

silakan baca selanjutnya "ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI" ...

DOA

0 komentar

Aku baru saja mengcopy beberapa lagu dari keping MP3 ke dalam komputer. MP3 ini baru kubeli di trotoar pertokoan Siola. Kupikir lebih baik membeli MP3 yang berisi puluhan lagu dari pada membeli kaset yang harganya dua kali dari MP3 dan lagunya hanya beberapa saja. Ketika sedang asyik memilih lagu dari deretan lagu yang tertera di keping MP3 yang hendak kucopy tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat khas milik temanku. Keras dan ribut sekali. Dalam waktu sekejap dia sudah berdiri di sebelahku.

Sejenak dia melihat-lihat cover MP3. Dia ingin meminjam MP3 yang baru kubeli, sebab ada lagu yang disukainya juga. Memang selera lagu kami boleh dikatakan sama. Dia lalu memilih beberapa lagu dan memintaku untuk mencobanya di Winamp. Sambil mendengarkan musik kami mulai bercerita aneka pengalaman kami selama ini. Kami sudah lama tidak bertemu. Sejak dia mendapat pekerjaan yang mapan, maka dia jarang sekali main ke kamarku. Sebelumnya dia sering main ke kamarku entah hanya sekedar untuk mengobrol sambil mendengarkan tape, main komputer atau membaca buku. Obrolan kami pun meloncat dari satu topik ke topik lain.

Akhirnya dia mengeluh bahwa sekarang malas berdoa, sebab jenuh. Dia menceritakan bahwa dia sudah mencoba berdoa dari buku-buku doa dan doa rasorio, tapi dia merasa doa-doanya kosong. Hanya sekedar mengucapkan saja. Bahkan tidak jarang doa rosario tidak selesai, sebab ketiduran atau dia sengaja menghentikan di tengah jalan sebab pikirannya sudah tidak lagi dalam doa itu. Dia tanya bagaimana mengatasi rasa jenuh berdoa. Pertanyaan ini membuat kami masuk dalam diskusi mengenai doa. Dia bertanya bagaimana agar dapat berdoa secara khusuk? Aku sendiri tidak tahu bagaimana doa yang khusuk itu. Apakah berdoa sampai pingsan? Apakah bisa menyelesaikan rosario dengan kesadaran penuh telah berdoa Salam Maria, Kemuliaan dan Bapa Kami? Apakah sampai terasa melayang-layang? Ataukah bisa memahami setiap kata yang diucapkanya?

Kami terus berdiskusi untuk menemukan doa yang baik itu bagaimana. Dalam buku-buku tentang doa memang banyak teori doa. Kutunjukan pada temanku beberapa buku doa yang kumiliki. Tapi temanku masih ingin mengetahui pendapatku dari pada membaca, sebab dia sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk membaca buku rohani. Dia mengandaikan aku sudah membaca buku-buku yang ditawarkan padanya. Kukatakan bahwa doa itu bicara pada Tuhan. Dia langsung menjawab bahwa jawabanku itu klasik dan sudah dimengertinya. Dia ingin tahu bicara dengan Tuhan itu yang bagaimana? Persoalannya dia tidak bisa konsentrasi doa. Ketika dia berusaha untuk hening maka dalam sesaat saja pikirannya sudah melayang kemana-mana, sehingga tidak tahu lagi apa yang dikatakan. Dalam misa pun dia sering kali hanya duduk dan tanpa sadar misa sudah selesai. Dia merasa tidak mendapatkan apa-apa ketika misa dan berdoa pribadi.

Aku diam saja, sebab memang tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Kamarku menjadi hening. Temanku membaca daftar lagu yang ada di cover MP3, lalu dia menujuk sebuah lagu, apakah lagu ini sudah kucopy, sebab lagu itu bagus sekali. Aku katakan sudah. Lho kan sudah kita dengarkan bersama? Jawabku. Temanku heran, maka dia melihat lagi daftar lagu yang ada di winamp. Memang lagu itu sudah terlewati. Lho aku kok nggak mendengarnya ya? Tanyanya dengan penuh keheranan.

Inilah jawaban Tuhan pada kami. Aku katakan bahwa dia tidak mendengarkan lagu itu berkumandang sebab terlalu asyik berbantahan denganku soal doa. Mungkin inilah persoalan doa, yaitu tidak adanya topik menarik yang hendak dibicarakan dengan Tuhan. Akibatnya orang berdoa hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai orang beriman, atau membaca rumusan-rumusan doa yang dibuat oleh orang suci, tetapi tidak mengungkapkan persoalan diri sendiri. Apa yang diungkapkan dalam doa bukan kebahagiaan dan kepedihan diri melainkan puji-pujian dan segala kata-kata indah, dogmatis, biblis dan sebagainya yang tidak bersentuhan dengan hidup pribadinya. Akibatnya orang mengalami kejenuhan.

Jika doa adalah percakapan manusia dengan Tuhan, seharusnya sungguh-sungguh sebagai suatu percakapan. Ungkapan hatiku, secara pribadi pada Tuhan sebagai Bapa yang penuh belas kasih. Persoalannya memang tidak semua orang mempunyai hubungan yang baik dengan bapaknya, sehingga sulit membayangkan bagaimana caranya bisa bercakap-cakap yang menyenangkan dengan bapaknya. Kupikir mengapa tidak mengganti Tuhan sebagai Bapa menjadi Tuhan sebagai Ibu? Jika dengan ibu pun susah berkomunikasi, sehingga sulit membayangkan bagaimana sharing dengan ibu, mengapa tidak mengubah Tuhan menjadi Sahabat? Temanku mengatakan pendapatku ini konyol, sebab bagaimana mau berdoa “Ibu kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu...” Tapi aku masih bertahan buat apa aku mempertahankan sebutan Tuhan sebagai Bapa kalau aku mempunyai pengalaman traumatik pada bapaku? Kalau aku tidak mempunyai gambaran bapa yang baik dan enak diajak ngobrol? Bukankah percakapanku dengan Tuhan harus pribadi, sehingga aku bisa senang berbicara padaNya? Aku bisa sharing tentang kehidupanku padaNya?

Temanku masih belum bisa menerima ide gilaku ini. Pembicaraan kami terus berputar-putar sampai akhirnya dia menyatakan mau pulang. Sambil menikmati suara lagu, aku berusaha merenungkan kembali percakapan dengan temanku tentang bagaimana berdoa yang baik itu. Bagiku berdoa akan menyenangkan kalau aku sharing tentang kehidupanku pada Tuhan. Yesus sudah mendobrak pemahaman orang Yahudi tentang Tuhan, yang dianggap sangat besar, sehingga untuk menyebut namaNya saja orang merasa tidak pantas. Yesus menyebut Tuhan bukan lagi Yahweh tetapi Bapa, sehingga jarak antara manusia dan Tuhan tidak terlalu jauh lagi. Yesus ingin membuat manusia mempunyai hubungan pribadi dengan Bapanya. Diapun dengan para rasul sudah memposisikan diri sebagai sahabat. Para rasul bukan lagi hamba tapi sahabat. Hubunganku dengan Yesus bukan lagi antara hamba dengan tuan, melainkan antar sahabat. Aku bisa sharing sesukaku seperti aku sharing dengan sahabatku yaitu orang yang dapat memahami kegelisahan hatiku. Orang yang dapat ikut bersyukur kalau aku berhasil. Orang yang dapat memberiku semangat kala aku jatuh. Orang yang siap mendengarkan segala kepedihan hatiku. Orang yang tidak jijik sebab aku telah berbuat banyak dosa. Orang yang cepat menolongku ketika kuberitahu kesulitanku. Orang yang mampu diam dan tenang saat aku mengungkapkan seluruh kegalauan hati. Orang yang mampu menerima diriku apa adanya.

Tapi memang susah memandang Yesus sebagai sahabat, sebab aku masih sering memposisikan diri sebagai hamba, sehingga aku tidak berani berbicara sembarangan padaNya. Aku harus menjaga sopan satun. Berbicara padanya harus formil dan dengan kata-kata yang indah. Lebih hebat lagi kalau bisa mengutip sebagian ayat-ayat dari Kitab Suci dan berbicara panjang lebar untuk membuatnya bahagia. Tapi semua kadang kosong. Apakah aku harus banyak aturan jika berhadapan dengan sahabatku? Bukankah aku bisa terbuka untuk menceritakan apa saja padanya? Lebih parah lagi aku memposisikan diri seperti pengemis. Aku hanya merengek meminta belas kasihan pada Tuhan. Aku hanya datang padaNya kalau aku sedang kalut. Aku membuat Tuhan tidak lebih dari keranjang sampah yang menampung segala persoalan hidupku.

Jika aku bisa memposisikan Tuhan sebagai sahabat atau orang yang sangat dekat entah itu bapa atau ibu atau adik atau kakak, mungkin aku bisa memulai doa dengan cara yang baru. Doa bukan lagi suatu kewajiban melainkan kebutuhanku untuk sharing pada orang yang paling dekat denganku. Doa bukan lagi rangkaian kata-kata indah, biblis, dogmatis, melainkan suatu ungkapan perasaanku yang sedang aku alami saat ini. Suatu pengalaman hidup yang ingin aku bagikan pada sahabatku. Pada orang yang sangat dekat padaku. Jika aku bisa berdoa seperti ini, maka doa tidak lagi membosankan. Aku tidak lagi bingung mau mengatakan apa pada sahabatku itu. Aku tidak lagi dibingungkan tidak bisa konsentrasi dalam doa. Sama seperti akibat keasyikanku sharing dengan temanku, maka lagu-lagu yang berkumandang dari komputer berlalu begitu saja tanpa aku sadari.

Salah satu pertanyaan temanku tadi adalah dia bisa saja berdebat denganku sebab aku bisa menyatakan argumen-argumenku. Aku berkata-kata padanya. Tapi bagaimana dengan Tuhan? Dia bicara panjang lebar dalam doa tapi Tuhan diam saja, sehingga dia seolah-olah berbicara sendiri. Ini membosankan. Aku pikir mengapa dia mempersoalkan bahwa Tuhan tidak menjawab apa yang dikatakannya? Bukankah ada Kitab Suci yang diyakini sebagai sabda Tuhan. Bukankan Tuhan juga sudah mengatakan bahwa tubuhku adalah baitNya, tempat dimana Dia bersemayam. Dengan demikian Dia bisa saja bersabda melalui hati manusia. Bukankah Yesus juga mengatakan ada tanda-tanda jaman, dimana Tuhan berbicara pada manusia melalui peristiwa-peristiwa jaman? Mengapa orang masih bingun mencari sabda Tuhan? Mungkin kejenuhan doa juga disebabkan oleh tidak adanya waktu manusia untuk mendengarkan Tuhan, sehingga seolah-olah manusia berbicara sendiri. Atau orang malas untuk merenungkan sesuatu sebagai sabda Tuhan.

Kulihat sudah beberapa lagu terlalui, tapi aku tidak bisa menikmatinya bahkan tidak mendengarnya sebab aku sibuk menulis di komputer. Seandainya aku susah berbicara dengan Tuhan dengan kata-kata mengapa aku tidak menuliskan semua doaku? Aku tenggelam dalam tulisanku sehingga aku tidak sadar akan banyak hal. Jika ini adalah suatu doa bukankah aku sudah berdoa dengan baik? Sayang aku masih sering menjadi hamba dan pengemis dihadapan Tuhan. Aku masih malas mendengarkan sabda Tuhan, sehingga menganggap bahwa Tuhan tidak dapat kuajak untuk sharing.

silakan baca selanjutnya "DOA" ...

Kamis, 17 April 2008

PIALA DUNIA

0 komentar

Saat ini hampir separo penduduk dunia mengarahkan perhatiannya ke Jerman. Bukan disana Hitler bangkit kembali, tetapi ada pertandingan sepak bola piala dunia. Acara empat tahunan ini mampu menyedot perhatian manusia di dunia. Membawa banyak orang dari aneka negara terutama negara yang masuk dalam finalis ke Jerman. Banyaknya pendatang membuat ekonomi Jerman bergerak lebih baik lagi. Menurut sebuah harian di Jawa Timur, piala dunia sepak bola mampu membuat ekonomi negara yang ketempatan menjadi lebih baik. Korea dan Jepang ekonominya juga semakin bergerak ketika ada piala dunia.Sepak bola sudah bergeser dari sebuah olah raga menjadi sebuah ajang bisnis yang menganggumkan. Tidak ada cabang olah raga yang menyedot perhatian manusia sedemikian besar seperti sepak bola. Kecintaan manusia pada sepak bola membuat mereka setia untuk datang di stadion atau menonton di TV. Moment itu digunakan oleh para pebisnis untuk mendongkrak produksinya. Mulai dari bisnis jasa seperti hotel, angkutan, restoran dan sebagainya sampai produk-produk yang ditawarkan dalam iklan sepak bola, baik itu di stadion maupun dalam iklan di TV atau media lain.Beberapa tahun lalu Paus Yohanes Paulus II pernah prihatin ketika mengetahui bahwa Christian Vieri ditransfer 50 juta dollar dari AC Milan ke Inter Milan pada tahun 1999. Paus prihatin bagaimana uang sedemikian besar hanya digunakan untuk membayar pemain sepak bola, padahal di dunia masih banyak orang yang sangat membutuhkan uang. Padahal sekarang saja biaya transfer seorang pemain sudah jauh dari yang diterima oleh Vieri. Bila dollar pada tahun itu sekitar Rp 10.000 maka Vieri harga transfer Vieri sebesar Rp 50 Milyard. Sekarang pemain gelandang Argentina Rodriguez sudah ditawari Rp 308 Milyard oleh AC Milan. Hal itu belum lagi pemasukan dari sponsor dan sebagainya. Bila kita bisa matematika maka kita dapat menghitung sendiri berapa gajinya per hari atau bahkan perjamnya. Lebih gila lagi presiden Nigeria, Olesgum Abasanjo rela mengeluarkan dana dari kas negara sebesar 1 Milyard dollar atau Rp 9 Trilyun untuk membangun sebuah stadion. Padahal Nigeria adalah negara miskin yang masih diancam perang saudara dan pemberontakan.Dari sini kita dapat merenungkan betapa sepak bola sudah sedemikian mempengaruhi manusia. Bila dipikirkan dengan kepala jernih apakah dana-dana transfer seorang pemaian yang sedemikian besar sudah wajar bagi dunia saat ini? Dimana sebagian dunia masih diliputi kemiskinan, kelaparan, bencana dan sebagainya? Dalam olah raga bola basket yang paling menghebohkan yaitu NBA ada batasan tingginya transfer seorang pemain, tapi dalam sepak bola tidak ada batasan. Siapa yang mempunyai uang banyak dapat membeli pemain yang bagus.Iming-iming uang yang banyak membuat banyak orang bermimpi menjadi pemain sepak bola yang hebat. Sebab selain mendapat uang mereka juga mendapatkan popularitas dan fasilitas lain yang tidak dapat dimiliki oleh orang lain pada umumnya. Tampaknya sepak bola menjadi janji yang menggiurkan banyak orang.Bagaimana dengan di Indonesia? Sepak bola di negara ini memang masih sangat memprihatinkan. Prestasi di lapangan sangat minim tapi prestasi di luar lapangan memang sangat membuat heboh. Menonton sepak bola di sini mendapat tambahan atraksi yaitu perkelahian antar pemain, antar pemain dengan wasit, antar penonton, penonton dengan masyarakat dan sebagainya. Memang sepak bola di sini belum sehebat dan semengagumkan di negara Eropa atau beberapa Asia lainnya. Tidak ada transfer pemain yang sangat bombastis. Semua masih dalam taraf dapat dipahami. Tapi melihat transfer pemain di Eropa kita dapat bertanya-tanya. Sedemikian besarkah jurang antar negara kaya dan negara miskin? Apakah tidak ada solidaritas diantara kita?Padahal sepak bola Eropa atau negara maju berkembang juga didukung oleh masyarakat dari dunia ketiga atau negara tidak berkembang. Sebuah klub bisa kaya raya sebab setiap mereka bertanding akan diliput dan liputan itu dijual ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam setiap tayangan juga ada iklan yang membuat banyak masyarakat dunia ketiga membeli produk yang ditawarkan. Jadi mereka juga didukung oleh dunia ketiga. Tapi apakah adil bila mereka mendapatkan puluhan milyard sedangkan masih banyak orang yang kelaparan? Inilah yang perlu ditanyakan.

silakan baca selanjutnya "PIALA DUNIA" ...

CHICO

0 komentar

Sore itu kami sedang duduk di ruang tamu rumah ibu. Diluar hujan turun dengan derasnya. Tiba-tiba adikku masuk dengan tubuh basah kuyup sambil menggendong Chiko. Dia mengomel panjang lebar mengenai Chiko yang nakal suka main air hujan. Tidak lama kemudian sudah terdengar dengkingan Chiko dari kamar mandi. Chiko adalah seekor anjing kecil. Aku tidak tahu jenis apa. Tinggi tubuhnya tidak lebih dari 25 cm. Bulunya putih dan panjang. Sangat lucu. Chiko suka main air hujan. Maka ketika hujan turun langsung adikku mencarinya, ketika tidak diketemukan di rumah, dia segera keluar rumah mencarinya di tengah guyuran hujan.

Tidak berapa lama kemudian adikku sudah keluar dari kamar mandi dan mulai mengeringkan tubuh Chiko dengan handuk. Dia lalu menyuruh Chiko duduk dekat kami berkumpul. Tidak sampai 5 menit Chiko sudah lari keluar dan berguling-guling di teras. Padahal lantai teras masih berupa tanah, akibatnya tubuh Chiko kotor kembali. Penuh dengan tanah. Melihat hal itu adikku langsung berteriak-teriak memarahi Chiko. Aku hanya tertawa dan menggodanya, sebab percuma memarahi anjing yang tidak mampu memahami bahasa manusia.

Hujan sudah reda. Aku segera pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang dari rumah ibu, aku membayangkan kembali peristiwa adikku dengan Chiko. Aku bisa memahami kejengkelannya. Dia sudah susah-susah mencari sampai basah kuyup lalu ketika menemukan dia menggendongnya. Dia memandikan dengan sampho yang dia biasa gunakan. Setelah itu dia mengeringkan dengan handuk, tapi tidak lama kemudian Chiko sudah berguling-guling di tanah yang kotor lagi. Jelas hal ini membuat jengkel saja. Maka ketika jengkel adikku mengambil rantai dan merantai Chiko. Katanya sebagai pelajaran. Apakah Chiko akan faham akan hukuman yang diberikan oleh adikku? Apakah besok kalau setelah dimandikan dia tidak akan berguling kembali di tanah? Apakah kalau hujan dia tidak akan main-main di luar lagi? Aku tidak bisa memberikan jaminan sebab Chiko bukanlah adikku. Dia juga bukan manusia yang mempunyai pikiran soal kebersihan dan sebagainya.

Lamunanku membawa peristiwa adikku dengan Chiko pada hubunganku dengan Tuhan. Aku pikir ternyata Chiko adalah gambaran diriku. Aku tidak jarang masuk dalam sebuah bahaya dosa. Aku menikmati bermain-main dalam dosa seperti Chiko menikmati main-main air hujan. Aku tidak menyadari bahaya akan tindakanku. Aku yakin Allah mengetahui dan kuatir akan keselamatan jiwaku, namun aku tidak. Aku tetap bermain dan menikmati apa yang aku anggap menyenangkan.

Dosa pada umumnya sangat menyenangkan meski akibat dari dosa seringkali menimbulkan sakit dan luka yang dalam. Bahkan tidak jarang dosa menghantui seumur hidupku. Menimbulkan penyesalan yang panjang. Namun meski aku tahu akibatnya pun aku tetap melakukan dosa. Aku tidak pernah berhenti melakukan dosa dalam aneka bentuk tindakan. Chiko lebih baik, sebab dia main air hujan tanpa tahu akibatnya. Dia hanya ingin bermain. Sedangkan aku tahu akibat dosa. Tuhan telah memberiku akal budi yang cukup sehingga membuatku bisa mempertimbangkan sebuah tindakan. Aku bisa memilih sebuah tindakan dosa atau bukan. Namun aku tetap memutuskan untuk melakukan. Ini lebih parah dari Chiko.

Seringkali aku membuat aneka alasan untuk berbuat dosa. Melakukan pembenaran diri atau memaafkan diri dengan alasan banyak orang yang melakukan atau itu hal biasa dalam hidup. Sebuah warna lain dari hidup. Namun jika jujur aku tahu bahwa aku salah dalam mengambil keputusan. Tidak ada dosa yang terjadi secara tidak sengaja. Semua sudah aku pertimbangkan dan dengan kesadaran penuh. Chiko lari ke jalanan yang hujan aku yakin tidak didasari oleh pertimbangan kesadaran yang penuh dan akal budi yang cukup. Chiko tidak mempunyai kesadaran seperti yang aku miliki.

Namun dosa-dosaku tidak menyurutkan Allah untuk menyelamatkan. Dia mengutus PutraNya untuk datang ke dunia dan menyelamatkan aku. Dia masuk dalam lingkungan yang penuh dengan dosa dan mencariku. Ketika ditemukan aku digendongnya, seperti adikku menggendong Chiko. Namun bedanya Yesus tidak semarah adikku. Dia tidak pernah ngomel ketika menggendongku. Bahkan Dia mengatakan bersukacita seperti seorang janda yang menemukan satu keping dinarnya yang hilang. Allah bersuka cita ketika menemukan aku yang berdosa.

Aku disucikan oleh Allah dengan baptisan. Sama seperti adikku membersihkan Chiko dari segala lumpur dengan shampo yang digunakannya. Yesus menyelamatkan aku dengan tetesan darahNya. Ini lebih dari shampo. Dia mengurbankan diriNya demi membersihkan diriku sehingga aku layak dan pantas untuk duduk dan bersamanya di dalam kerajaanNya. Namun aku sering tidak menyadari hal ini. Maka seperti Chiko setelah baptis pun aku lalu lari kembali pada kesenanganku. Berguling-guling dalam dosa. Aku tidak mampu mempertahankan kebersihan diri dan jiwaku. Gereja menyediakan sakramen tobat, dimana aku memohon ampun atas segala dosa dan membangun niat ingin kembali kepada Allah. Namun buah sakramen tobat tidak berlangsung lama. Aku masuk kembali dalam dosa. Seolah denda belum aku laksanakan sudah ada dosa lagi yang aku lakukan.

Allah tidak seperti adikku yang langsung marah ketika melihat Chiko berlari kembali ke teras yang kotor. Allah memberikan aku kebebasan. Dia membiarkan aku memilih sebuah pilihan hidup. Dia tidak merantaiku sehingga aku tidak bisa bergerak. Alalh memberiku kebebasan untuk memilih apa yang hendak aku lakukan. Allah adalah bapa yang baik. Dia menungguku dan menyosongku ketika aku pulang kembali padaNya setelah mengecewakanNya. Gereja senantiasa terbuka bagi orang berdosa yang ingin kembali. Namun sayang ada orang yang arogan sehingga menutup pintu Gereja bagi orang berdosa yang ingin bergabung kembali. Banyak orang yang merasa berdosa tidak mau masuk kembali dalam Gereja sebab dia merasa ditolak oleh sesamanya. Padahal Allah tidak pernah menolak, bahkan Dia sangat bersuka cita dan berharap orang berdosa akan kembali lagi dalam pangkuanNya.

Aku tidak ubahnya seperti Chiko yang lebih suka menuruti kesenanganku sendiri daripada taat pada kehendak Allah. Padahal Allah sudah berbicara dengan bahasa yang aku mengerti. Bertindak yang bisa aku lihat. Allah sudah menjadi bagian dari manusia. Ini berbeda antara adikku dengan Chiko. Adikku berbicara dalam bahasa manusia yang tidak dimengerti seekor anjing. Dia tidak menjadi anjing agar Chiko melihat keteladanannya. Jika Chiko tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh adikku hal ini wajar, sebab ada perbedaan besar antara keduanya. Sedangkan aku dengan Yesus tidak ada bedanya. Dia juga manusia yang berbicara dalam bahasa manusia. Aku faham apa yang dikehendakiNya. Aku bisa melihat keteladananNya. Namun aku masih tidak taat.

Melihat Chiko mengotori tubuhnya kembali, adikku kecewa. Dia merasa apa yang sudah dilakukannya menjadi sia-sia. Jika aku berguling dalam dosa, aku yakin Yesus kecewa melihat keputusanku. Namun Dia tidak mengomel. Dia mungkin hanya menatapku dengan sedih sama seperti ketika Dia menatap Petrus yang mengkhianatiNya. Sama dengan ketika Dia mempersilakan Yudas menjalankan segala rencananya. Aku bayangkan ada nada getir ketika Yesus mempersilahkan Yudas.

Allah sudah sering kecewa dengan pilihan tindakanku. Aku pun sadar akan hal itu, namun aku lemah dan sering jatuh. Apakah keyakinan kasih Allah yang tidak menghukumku ini membuatku tidak takut berbuat dosa? Apakah Allah sengaja membiarkan aku berbuat dosa? Aku yakin tidak. Sama seperti ketika Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang mempersoalkan perceraian. Dia mengatakan bahwa akibat kekerasan hati merekalah maka Musa memberikan surat cerai. Ya ketegaran hatilah yang membuatku berulang kali jatuh dalam dosa. Ketegartengkukkanlah yang membuatku masuk dalam dosa. Tanggung jawab ini tidak bisa dilemparkan pada Allah, melainkan aku harusnya bersyukur bahwa Allah masih memberiku kesempatan untuk bertobat dan tetap memberiku kebebasan untuk memilih apa yang hendak aku lakukan. Allah tidak seperti adikku yang membawa rantai dan memberikan hukuman atas segala tindakanku. Aku hanya harus menanggung konsekwensi atau akibat dari apa yang aku lakukan. Aku harus memetik buah dari dosa.

Pengalaman sore ini menyadarkan aku bahwa aku tidak lebih baik dari Chiko, seekor anjing kecil yang suka main air hujan.

silakan baca selanjutnya "CHICO" ...

AKU DAN KECOAK

1 komentar

Aku memandang seekor kecoak yang berlarian di kamar mandiku. Sebentar-sebentar dia berhenti. Aku tidak tahu apakah dia hanya mengendus sesuatu atau makan sesuatu. Tapi apa yang dimakan? Di kamar mandi hanya ada sisa air, sisa busa sabun, sisa busa shampo dan sisa abu rokok. Apakah kotoran itu bisa dijadikan makanan? Ataukah dia makan dakiku yang berjatuhan dari tubuhku ketika tersiram air? Entahlah. Tapi kalau tidak makan, bagaimana dia bisa hidup di sini?

Allah itu memang Mahakuasa. Bagaimana kecoak yang kupikir tidak mempunyai makanan, ternyata masih bisa hidup. Bagaimana sampah dari diriku masih bisa memberikan suatu kehidupan, meski hanya untuk seekor kecoak. Pernah aku berpikir untuk tidak ke kamar mandi sama sekali. Aku ingin tahu apakah kecoak itu masih bisa bertahan hidup atau akan mati. Tapi akhirnya aku berpikir mengapa aku bisa begitu jahat? Mengapa aku sayang membuang sampahku? Padahal aku tidak merasa kehilangan sama sekali. Bahkan tubuhku menjadi lebih bersih setelah mandi. Memang kadang aku terlalu egois. Aku tidak ingin orang lain atau hewan lain menikmati apa yang aku miliki bahkan sampai apa yang sebetulnya tidak pernah aku rasakan sekalipun jika aku melepasnya. Misalnya di dalam lemariku ada beberapa helai baju bahkan beberapa sudah sangat lama, sebab kubeli beberapa tahun yang lalu. Aku sudah tidak memakainya selain sudah tidak mampu menampung tubuhku yang semakin membesar juga sudah ada yang lebih baru. Karena tidak pernah kupakai, maka aku tidak pernah memperhatikan baju-baju itu lagi. Tapi ketika ada yang mengambilnya, aku merasa kehilangan. Padahal selama ini aku tidak pernah memperhatikannya. Kalau kecoak itu makan dakiku, kenapa aku tidak rela memberinya? Apakah aku merasa kehilangan daki?

Semula aku jijik melihat kecoak, maka ketika pertama melihatnya aku langsung membawa pemukul. Tapi dia memang gesit. Begitu kupukul dia lari masuk ke lubang air. Lama tidak muncul. Dia akan muncul lagi ketika aku tidak ada, sebab setiap masuk kamar mandi pasti kecoak itu sedang berkeliaran. Lama-lama aku biarkan saja. Toh dia tidak mengganggu kehidupanku. Dia hanya membuatku jijik saja, tapi tidak membahayakan diriku. Dia juga tahu diri sehingga tidak masuk kamar. Hanya berkutat di kamar mandi. Mengapa aku tidak bisa berbagi ruangan sedikit saja dengannya? Toh aku juga jarang masuk kamar mandi.

Mengapa aku jijik pada kecoak? Jika kulihat warnanya yang coklat tua dan mengkilat, mengapa bisa menimbulkan kejijikan? Bukankah warna itu indah? Mungkin kejijikan itu muncul dari cerita ibuku bahwa kecoak itu kotor. Hidupnya di got-got dan tempat kotor lainnya. Kini dia hidup di kamar mandiku apakah masih menjijikan? Temanku lebih parah lagi, jangankan melihat kecoak, mendengar kata kecoak saja dia sudah ketakutan, karena jijik. Jika kecoak itu sejak kecil kupelihara di tempat yang bersih apakah dia akan tetap menjijikan? Pasti tetap menjijikan. Dengan demikian kejijikan itu bukan karena asal tempat tinggal kecoak, tapi karena pikiranku sendiri yang sudah menuduhnya menjijikan.

Di masyarakat juga ada orang yang dianggap menjijikan sebab status dan pekerjaannya. Beberapa orang dengan secara implisit menyatakan bahwa pekerja seks kelas teri yang mangkal di stasiun dan terminal adalah orang yang menjijikan. Pemulung dan anak jalanan juga menjijikan. Aku teringat pernah ketika bersama teman-teman hampir saja diusir oleh satpam rumah makan, sebab di dalamnya sedang ada pesta. Padahal kami diundang dan diminta untuk mengisi acara. Kami semua saat itu sudah mandi dan bersih, hanya pakaian kami bukan pakaian pesta, sebab memang tidak punya. Satpam itu mau mengusir sebab mengetahui dari penampilan kami bahwa kami adalah anak jalanan yang suka bikin onar, mencuri dan tuduhan lainnya, yang membuat kami jadi masyarakat yang menjijikan. Untung aku ingat nomor HP orang itu sehingga dia sendiri keluar dan mempersilahkan kami masuk. Kalau aku lupa jelas satpam itu akan tetap mengusir kami.

Beberapa orang pun enggan aku ajak untuk berteman dengan teman-temanku. Aku tahu bahwa alasan mereka adalah mereka jijik. Mereka jijik bukan karena melihat penampilan temanku yang sudah mandi, tapi dari pikirannya sendiri yang terbentuk dari lingkungannya bahwa anak jalanan, pekerja seks kelas teri dan pemulung adalah orang yang menjijikan. Orang Yahudi pun sempat terheran-heran dan mengkritik Yesus ketika Dia datang dan makan bersama orang-orang yang dianggap menjijikan. Mereka dianggap menjijikan sebab orang Yahudi merasa lebih bersih. Aku pun bisa melihat kecoak menjijikan sebab aku merasa lebih bersih dibandingkan kecoak. Padahal kecoak itu selalu di kamar mandi. Dia pasti selalu terkena air, sedangkan aku hanya dua kali sehari mandi. Itupun kalau di rumah.

Aku akhirnya senang dengan kecoak itu sebab dia bisa menjadi hiburan di saat aku tengah duduk sambil menikmati rokokku di kloset. Aku bisa melihatnya berlarian dan penasaran jika melihatnya mengendus-endus. Aku teringat Ktut Tantri seorang Amerika yang membantu perjuangan rakyat Bali melawan Belanda yang ingin menduduki Indonesia kembali setelah Jepang kalah. Ketika di penjarakan Ktut Tantri merasa kesepian, sebab dia sendiri dalam satu sel dan tidak boleh berkomunikasi dengan siapapun. Maka dia berteman dengan kecoak yang berkeliaran di selnya. Ternyata kecoak pun bisa menjadi teman yang menyenangkan. Apakah setelah keluar dari penjara dan kembali ke Amerika Ktut Tantri masih suka berteman dengan kecoak? Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah melupakan teman-temannya itu. Atau bahkan mungkin sudah menyemprot kecoak yang ada di rumahnya dengan pestisida.

Memang ketika orang sedang kesepian dia bisa saja berteman dengan siapa saja dan apa saja. Namun ketika dia menemukan dunianya kembali dia mulai meninggalkan teman-temannya. Aku pun hanya berteman dengan kecoak ketika di kamar mandi. Di luar kamar mandi aku sudah lupa dengan mereka. Jangankan dengan kecoak, dengan sesamaku saja aku bisa lupa. Memang dalam kesepian aku bisa berteman dengan siapa saja. Dengan orang yang masih mau denganku. Tapi jika sudah punya banyak teman, aku pun mulai memilih mana yang bisa kuanggap teman. Aku pun pernah mengalami nasib seperti kecoak. Ketika orang sedang dalam kesepian dan kesulitan dia senantiasa datang padaku, bahkan sampai menyita banyak waktuku. Tapi setelah dia aman dan nyaman, dia melupakanku. Jangankan datang, telpon saja tidak pernah.

Dari sini kusadar bahwa perteman ternyata sangat rentan. Saat ini aku punya banyak teman sebab aku jadi imam, suatu status yang tidak menjijikan. Banyak orang senang bisa mengenalku bahkan mau bersusah payah menolongku. Padahal dulu aku merupakan bagian dari orang yang dilupakan dan tidak diperhitungkan. Tidak ada seorangpun yang bangga berteman denganku. Kini semuanya berubah, sebab statusku. Bukan diriku, sebab aku sama dengan yang dulu. Seandainya nanti suatu saat aku menyatakan mengundurkan diri dari imamatku, aku yakin akan menjadi orang yang dihindari lagi. Aku akan jadi kecoak di masyarakat. Padahal aku tetap menjadi diriku sendiri.

Kecoak di kamar mandiku yang berukuran 1X2,5 m masih berlari kian kemari. Apakah dia bangga hidup sebagai kecoak? Apakah dia bahagia sebagai kecoak? Aku tidak tahu. Kalau toh kecoak itu menangis atau tertawa aku juga tidak tahu. Atau dia tidak bisa menangis dan tertawa? Ataukah memang aku tidak peduli apakah kecoak itu menangis atau tertawa? Ataukah aku memang tidak bisa membedakan antara tangis dan tertawanya kecoak? Dalam masyarakat saat ini banyak sekali kecoak. Orang yang dianggap menjijikan. Orang yang disingkiri. Orang yang hidup dari sisa-sisa orang lain. Orang yang bisa hidup dari makanan yang tidak pernah kita duga bisa menghidupinya. Orang yang sudah sulit membedakan antara tangis dan ketawa, sebab dia tertawa dalam tangisan. Dalam kesedihan dan kesepiannya. Mereka berkeliaran di sekitarku hanya aku saja tidak peduli padanya, sehingga aku lebih memperhatikan kecoak di kamar mandi daripada mereka yang ada di sekitarku.

silakan baca selanjutnya "AKU DAN KECOAK" ...

AKU HANYALAH ANAK SEORANG PSK

2 komentar

Malam semakin larut. Radio tetangga sebelah yang sepanjang siang sangat keras mendendangkan lagu-lagu dang dhut sudah lama tidak berbunyi. Lorong rumah yang sehari-hari ramai oleh suara tangis anak, jeritan atau tawa mereka ditengah suara keras dari ibu-ibu yang marah sudah lama menghilang. Saat ini hanya sesekali terdengar suara derungan mesin sepeda motor yang melintasi jalan depan lorong.

Aku berusaha tidur. Mataku sudah kupejamkan sejak sore, tapi masih belum bisa terlelap juga. Dua adikku sudah sejak tadi tertidur. Bahkan adikku yang paling kecil sudah ngompol sehingga aku harus menggantikan celananya dan membersihkan plastik alas tidur agar air kencing itu tidak mengalir kemana-mana. Rumahku hanyalah sebuah kamar ukuran 3X3 m. Aku tinggal bersama ibu dan kedua adikku yang masih kecil. Dulu sebelum ayah pergi entah kemana, kami harus menempati kamar ini berlima. Kami semua tidur di lantai dengan beralaskan plastik. Tidak ada tempat tidur atau meja. Kalau toh kami punya maka semua itu pasti tidak akan cukup untuk diletakan dalam ruang yang sempit ini. Kami hanya mempunyai satu buah lemari kecil tempat pakaian dan rak tempat aku menyimpan semua buku pelajaran dan alat-alat rumah tangga lain. Tidak jarang bukuku basah kena air yang menetes dari piring yang masih basah. Ibu selalu melarangku untuk meletakan piring yang baru selesai dicuci di luar rumah, sebab kemungkinan besar akan hilang.

Rumah ini sempit dan pengap. Tidak ada jendela. Hanya ada sebuah pintu. Rumahku adalah salah satu dari 5 rumah lain yang berderet. Antar rumah hanya dibatasi oleh sebuah dinding triplek tipis, sehingga apa yang terjadi di sebuah rumah pasti akan didengar dan ketahui oleh tetangga sebelah. Di hadapan rumahku juga ada 5 rumah lain yang berderet. Kami dipisahkan oleh sebuah lorong sempit. Perumahan ini tidak bedanya dengan kandang ayam yang pernah aku lihat di rumah tetangga yang mempunyai banyak ayam jantan. Kurangnya ventilasi dan banyaknya barang yang berjejal dalam rumah membuat rumahku menjadi pengap. Ini juga terjadi pada rumah para tetangga. Semuanya pengap. Bau ompol, asap kompor, pakaian kotor, dan keringat semua bercampur menjadi satu. Apek.

Kulihat jam kecil di atas lemari pakaian sudah menunjukan hampir pukul 2 dini hari. Jam itu merupakan pemberian dari seseorang sebab aku bisa menggambar dengan bagus. Katanya aku mempunyai bakat menggambar. Padahal menurutku gambaranku biasa saja. Mungkin orang itu ingin memberi tapi menggunakan cara lomba. Ah terserahlah! Yang penting aku mempunyai jam, sehingga bisa tahu waktu. Biasanya jam segini ibu pulang. Aku kadang terbangun ketika ibu membuka pintu yang tidak terkunci. Kadang wajah ibu tampak tersenyum melihat kami tidur berdesakan diantara lemari dan peralatan dapur. Tapi tidak jarang juga wajah ibu terlihat lelah dan suntuk.

Ibu memang bekerja malam hari. Dia berangkat ketika adzan mahgrib di mushola sebelah mulai berkumandang. Aku tidak tahu apa pekerjaan ibu yang sesungguhnya. Jika aku bertanya apa yang dilakukan ibu pada malam hari, dia tidak pernah menjawab dengan memuaskan. Ibu hanya mengatakan bahwa dia bekerja untuk menghidupi kami. Tidak perlu tanya apa pekerjaannya! Bagi ibu yang penting ada uang untuk bertahan hidup. Aku tidak berani bertanya lagi. Aku akan melanjutkan bermain atau belajar. Tetapi sudah sering kudengar dari para tetangga bahwa ibuku bekerja sebagai pekerja seks di tepi jalan. Katanya pernah ada tetangga yang melihat ibu sedang berdiri di tepi jalan bersama dengan pekerja seks yang lain.

Pekerjaan ibu ini membuat banyak tetangga mencibirkan bibir melihat keluarga kami. Kadang kalau adikku bertengkar dengan anak tetangga, maka orang tuanya marah dan mengatakan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya adalah seorang pelacur.” Atau kalimat pedas lainnya. Kenakalan adikku atau kenakalanku selalu dikaitkan dengan pekerjaan ibu sebagai seorang pelacur. Aku sakit hati kalau mendengar perkataan itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Kadang aku bertengkar dengan anak tetangga bukan akibat kesalahanku, tapi mereka selalu menyalahkan aku, sebab aku anak seorang pelacur. Apakah seorang anak pelacur selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Apakah akibat ibu bekerja sebagai pekerja seks maka aku dan adikku menjadi nakal? Apakah kalau orang tuanya bekerja sebagai buruh anaknya tidak akan nakal? Masih banyak pertanyaan yang tidak mampu kujawab dalam usiaku saat ini.

Aku jarang bertemu dengan ibu, sebab ketika ibu di rumah aku dan adikku sekolah. Siang hari kebanyakan ibu tidur, sebab kecapekan kerja malam dan mempersiapkan makanan untuk hari ini. Aku tidak mau mengganggu jika ibu sedang tidur. Aku sering membayangkan belajar malam hari dibantu oleh ibu. Aku ingin bermain seperti teman-teman yang lain tanpa harus diganggu oleh adikku yang paling kecil. Saat ini aku tidak bebas bermain sebab harus mengasuh dan merawat adikku yang baru berusia 3 tahun. Kata ibu aku sudah besar maka harus bertanggungjawab terhadap isi rumah termasuk menjaga adik-adikku. Kadang aku jengkel dengan situasi hidup ini. Jika sudah demikian maka aku akan menyalahkan bapakku yang pergi begitu saja. Pergi meninggalkan kami dalam keadaan miskin sehingga hanya menjadi bahan ejekan para tetangga.

Aku benci pada bapakku, tapi sering kali aku juga merindukan kehadirannya. Bapak dulu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Kehidupan kami tidak seburuk seperti saat ini. Meski rumah kami tetap kontrakan seperti ini, tapi tidak ada tetangga yang mengejekku. Aku masih mempunyai harga diri. Aku bisa bermain dan belajar dengan tenang, sebab ada ibu yang menjaga adik. Kalau aku bertengkar dengan anak tetangga masih ada bapak yang membelaku. Tapi kini semua itu sudah berlalu. Sejak di PHK bapak tampak kalut. Dia suka mabuk dan main judi dengan harapan akan menang besar. Kadang bapak menang judi, tapi uang itu akan cepat habis di meja judi lagi. Akhirnya ibu dan bapak sering bertengkar. Hingga suatu saat bapak pergi dan tidak kembali lagi. Kepergiaan bapak menjadi bahan gunjingan para tetangga. Semua tetangga menyalahkan ibu yang suka marah. Apalagi setelah ibu menjadi pekerja seks, maka semua tetangga semakin menyalahkan ibu sebagai perempuan nakal. Perempuan yang tidak baik, sehingga ditinggalkan bapak. Padahal bagiku bapaklah yang salah. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu.

Dulu pernah ibu diberi modal oleh seseorang untuk membuat kue. Tapi hasil jualan tidak cukup untuk hidup. Untuk makan kami bertiga dan biaya sekolah. Apalagi bila kue itu tidak laku, maka ibu tidak mempunyai uang sama sekali. Hal ini sering terjadi. Pernah ada orang mengatakan ibu kurang bersemangat berjualan dan hanya mencari enaknya saja. Aku tidak setuju pendapat ini! Aku lihat sendiri ibu selalu bangun pada dini hari lalu membuat kue dan memasarkan di pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Siang hari baru ibu pulang dengan membawa bahan untuk membuat kue dan bahan makan kami. Pekerjaan ibu belum selesai. Sore hari ibu mulai membuat kue sampai malam, sehingga esok pagi tinggal menggoreng. Maka tidak jarang ibu mengeluh sangat capek sekali. Tapi perjuangan ibu untuk menghidupi kami bertiga masih tidak dihargai oleh tetangga. Mereka masih mencap bahwa ibu seorang pemalas yang hanya ingin hidup enak tanpa berjuang.

Aku bangga dan sangat mencintai ibu, meski ibu bekerja sebagai pekerja seks. Tanpa ibu aku dan kedua adikku sudah lama kelaparan. Siapa yang akan peduli dengan kami? Para tetangga yang mencela pekerjaan ibu pun tidak pernah memberi kami barang semangkuk sayur, meski mereka melihat kami hanya makan nasi dan kerupuk. Mereka memang hanya mencela saja, tapi tidak peduli dengan kami. Oleh karena itu ibu sering menasehati agar aku tidak perlu mendengarkan omongan para tetangga, sebab mereka hanya bisa berbicara dan mencela.

Jam sudah menunjukan hampir pukul 3 dini hari. Pintu rumah berderit pelan. Kulihat ibu masuk dengan berhati-hati agar tidak membangunkan kami. Ibu tersenyum ketika melihat aku memandangnya. Ibu keluar lagi ke kamar mandi. Tidak lama ibu sudah tidur disisiku. Aku peluk ibu dengan penuh kasih. Bau wangi parfum yang menyengat masih melekat bercampur bau rokok. Aku tidak peduli. Dia adalah ibuku meski seorang pekerja seks.

silakan baca selanjutnya "AKU HANYALAH ANAK SEORANG PSK" ...
 
langkah peziarah - Template By Blogger Clicks