Kamis, 17 April 2008

ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

0 komentar

Adikku telpon. Nadanya datar tapi isi kalimatnya menunjukkan kekesalan hati. Dia cerita baru saja menerima berkat dari Tuhan. Dia menawarkan apakah aku mau menerima berkat itu. Di perumahan tempatnya tinggal ada seorang pemuda yang tidak jelas asal usulnya. Badannya kurus kering.

Tinggal kulit membalut tulang, sehingga semua persendian tampak sebagai benjolan-benjolan besar. Mirip foto orang kelaparan yang banyak tersebar di berbagai media. Pemuda ini sakit parah. Dia muntah darah dan sudah tidak mampu bangun lagi. Tampaknya umurnya tidak akan lama lagi. Orang yang menemukan tahu bahwa pemuda ini adalah seorang Katolik, maka dia membawanya ke rumah adikku. Maka adikku berinisiatif untuk melaporkan ke tokoh iman di paroki, sebab yakin bahwa pemuda ini membutuhkan pengobatan segera.

Adikku menceritakan masalahnya pada tokoh tersebut. Pertanyaan yang muncul pertama kali dari dia adalah apakah pemuda ini Katolik atau bukan? Mendengar pertanyaan itu adikku menjadi jengkel sekali. Bukankah pemuda ini sudah akan meninggal dunia, tapi mengapa masih dipertanyakan soal agamanya? Dalam kekecewaan adikku menyarankan agar tokoh itu sebaiknya menyobek Injil yang bercerita tentang orang Samaria yang baik hati. Bila perikop itu tidak ada maka pertanyaannya menjadi relevan. Mendengar omelan adikku akhirnya sang tokoh menyarankan agar pemuda itu dibawa ke rumah sakit dan Gereja akan menanggung sebagian biayanya. Adikku membawa pemuda itu ke sebuah rumah sakit swasta. Ternyata pemuda ini terkena pneumonia. Lebih parah lagi dia terjangkit HIV positif. Rumah sakit swasta mengirimnya ke rumah sakit umum. Adikku melaporkan kepada sang tokoh bahwa pemuda itu terkena AIDS. Mendengar itu tokoh itu memberikan banyak aturan dan penjelasan yang intinya bahwa gereja kekurangan dana. Artinya dia tidak mau terlibat dalam pengobatan pemuda ini. Adikku lalu mengumpulkan teman-temannya untuk urunan. Sedikit uang yang ada dijadikan modal untuk membayar biaya perawatan rumah sakit.

Oleh karena biaya rumah sakit cukup banyak sedang bantuan tidak ada, maka adikku bertanya apakah aku mau membantunya? Siapa lagi yang akan membantunya kalau bukan aku? Katanya berusaha memelas agar aku mau membantunya. Mendengar semuanya aku menjadi tersenyum. Aku katakan inilah hidup yang sering kali tidak berjalan sesuai dengan ajaran Injil. Injil memang enak untuk dikotbahkan tapi berat untuk dilaksanakan. Kebetulan bacaan Injil minggu itu diambil dari perikop tentang orang Samaria yang baik hati. Aku bayangkan bagaimana tokoh itu akan merenungkan Injil? Beranikah dia mengajarkan cinta kasih dan kepedulian pada sesama yang menderita seperti orang Samaria yang rela menolong tanpa mempedulikan siapa orang yang ditolongnya? Mungkin dia mempersiapkan sebuah renungan bagus yang akan mendapatkan decak kagum banyak orang yang mendengar, namun apakah dia tidak malu dengan diri sendiri? Aku tersenyum geli membayangkan semua itu.

Pemuda itu adalah anak sebatang kara. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ayahnya tidak jelas siapa. Dia hidup dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Akhirnya menjadi anak jalanan yang hidup dari mengamen di perempatan jalan. Kemana dia harus minta tolong pada saat genting hidupnya? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap dirinya? Aku mengatakan pada adikku mengapa dia ribut padahal baru merawat satu sedangkan aku sudah sekian tahun dengan sejumlah anak jalanan. Namun adikku berkilah bahwa anak jalanan yang ada bersamaku tidak satu pun yang AIDS. Aku bersyukur selama mengadakan pertemanan dengan anak jalanan tidak pernah menemui mereka yang terinfeksi HIV meski kehidupan mereka sangat memungkinan terjangkit HIV. Akhirnya aku menyarankan pada adikku untuk mencari orang Samaria lain.

Saat ini memang sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Dalam kisah tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37), Yesus menceritakan bahwa pada saat itu ada imam dan orang Lewi yang melihat orang yang dirampok namun mereka melaluinya lewat seberang jalan. Imam dan orang Lewi adalah petugas di Bait Allah. Mungkin mereka menduga bahwa orang yang tergeletak di tepi jalan itu sudah mati. Bila mereka menyentuh orang mati, maka akan najis selama 7 hari (Bil 19:11-13). Mereka tidak mau mengambil resiko yang menyebabkannya najis sehingga tidak dapat masuk dalam bait Allah. Orang Samaria tidak terikat oleh aturan najis dan haram orang Israel, maka dia berani menyentuh dan merawat orang yang sudah sekarat itu.

Banyak orang enggan menolong orang lain sebab takut dengan resiko yang terkait dengan tindakannya. Bila orang menolong maka dia akan kehilangan entah harta, tenaga, waktu dan sebagainya. Banyak orang enggan kehilangan apa yang dimilikinya maka mereka tidak peduli pada orang yang menderita. Ada pula orang menjadi enggan menolong sesama sebab perbuatannya dipandang tidak baik oleh orang lain. Orang membantu sesamanya dikatakan ingin menjadikan orang lain beriman sama, dikatakan sok suci dan sebagainya. Belum lagi bila yang ditolong tidak berterima kasih bahkan sebaliknya menjadi pengkhianat. Orang ingin hidup aman. Tidak mau ambil resiko.

Orang Samaria adalah orang yang berani mengambil resiko. Dia sedang dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin dia sedang dalam perjalanan bisnis. Namun dia berani meninggalkan segala kepentingan dirinya demi orang lain. Segala perhatiannya hanya terarah pada keselamatan orang yang sedang menderita. Maka dia berani merawat, menaikkan ke keledainya, membawanya ke rumah penginapan, memberi ongkos pada pemilik rumah penginapan dan berjanji akan melunasi bila uang yang dititipkanya ternyata kurang ketika dia kembali. Orang Samaria berani mengurbankan waktunya, uangnya, bahkan mungkin keselamatannya sebab ada kemungkinan para perampok itu akan datang lagi dan merampoknya.

Pada jaman ini sangat dibutuhkan orang yang berani mengurbankan segalanya demi orang lain. Pengurbanan yang terbesar adalah pemberian dirinya. Orang Samaria itu merawat orang yang menderita. Dia terlibat dalam penderitaan orang. Dia berempati. Banyak orang hanya memiliki simpati. Seorang presiden meneteskan air mata ketika mendengar kisah sedih para kurban lumpur. Dia berjanji akan datang ke tempat kurban. Ternyata ketika datang dia hanya melihat dari atas helikopter yang berkeliling di daerah kurban dan menyatakan aneka janji. Padahal dia tahu masalah ada dalam keputusan yang dibuatnya dan memiliki kekuatan hukum. Presiden itu hanya bersimpati tapi tidak memiliki empati. Orang yang berempati pada sesamanya yang menderita bukan hanya melihat dari jauh atau berkotbah mengenai kasih. Namun dia harus terlibat. Merawat orang yang menderita, menyentuh dan disentuh serta mengusahakan keselamatannya.

Yesus datang ke dunia untuk mengajarkan empati Allah akan penderitaan manusia. Dia tidak menangis dari surga sambil mendengarkan atau melihat penderitaan manusia. Dia datang dan terlibat dalam penderitaan manusia bahkan Dia memberikan diriNya untuk keselamatan manusia. Rasa inilah yang saat ini sudah menipis. Orang sudah merasa puas bila mampu berkotbah tentang kasih, memberikan harapan pada orang yang menderita dan menampakkan wajah sedih bila melihat orang menderita. Maka saat ini sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Orang yang berani menanggung resiko demi keselamatan orang lain. Orang yang menomor duakan kepentinganya sendiri demi nyawa seseorang. Orang yang berani dengan tangannya sendiri menyentuh dan merawat orang yang sangat menderita.

Pemuda yang terinfeksi HIV saat ini sudah keluar dari RSU, maka adikku bertanya dia harus tinggal dimana? Tidak ada satu tempatpun yang bersedia menampungnya. Aku katakan sebaiknya dikontrakkan rumah saja. Sekali lagi adikku menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kami saling tersenyum. Aku katakan bukankah mendiang ibu kita sudah mengajarkan untuk berani memberi meski hanya memiliki sedikit bahkan sampai kita sendiri menjadi kekurangan? Aku sarankan agar dia berserah pada Tuhan. Pemuda itu adalah utusan Tuhan bahkan mungkin Tuhan sendiri yang datang padanya untuk meminta apa yang sudah diberikanNya selama ini. Kita sering bersyukur atas segala anugerah Tuhan. Dengan demikian semua yang kita miliki adalah milik Tuhan yang dititipankan pada kita. Sekarang Tuhan datang dan meminta mengapa kita tidak memberikannya? Ada saatnya Tuhan memberi namun ada saatnya Tuhan meminta kembali. Dia datang kepada kita tanpa kita duga dan dalam wujud orang yang miskin dan menderita. Inilah saat Tuhan datang, maka inilah anugerah besar yang kita terima. Adikku bertanya sekali lagi apakah aku mau menerima sebagian anugerah Tuhan? Aku hanya tersenyum.

silakan baca selanjutnya "ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI" ...

ADVENT

0 komentar

Advent adalah masa penantian kehadiran Yesus Kristus. Selama sebulan umat diajak untuk menantikan kehadiran sang juru selamat. Gereja mempersiapkan umat agar mereka siap menerima kehadiran Sang Juru selamat dalam kesederhanaan. Kehadiran yang tidak terduga. Menanti sebuah masa baru, yaitu masa penyelamatan.

Apakah masa penantian itu masih relevan untuk saat ini? Bukankah kita semua sudah tahu bahwa Kristus sudah lahir dan wafat? Memang Kristus sudah lahir, wafat dan bangkit. Tapi Kristus sendiri bersabda bahwa Dia akan datang kembali untuk yang kedua kalinya. “Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata padamu; Aku pergi, tapi Aku akan datang kembali padamu.” (Yoh 14:28). Seperti kedatanganNya yang pertama yang sangat misterius, maka kedatangan Yesus yang kedua juga sangat misterius. Dia akan datang lagi dalam kemuliaanNya (Luk 21:27). Tidak ada orang yang tahu kapan hal itu akan terjadi. Yesus hanya memberikan tanda-tanda yang mendahului kedatangannya (Mat 24:3-8). Dia akan datang secara tiba-tiba dan saat itu juga terjadilah pengadilan (Luk 17:30-35). Kedatangan Kristus merupakan akhir dari sebuah karya penyelamatan (Luk 21:28). Inilah yang menjadi harapan kita. Dalam masa advent inilah kita diingatkan kembali akan hal itu.

Apakah makna penantian itu? Penantian bukanlah sebuah tindakan pasif. Hanya menunggu. Melainkan sebuah tindakan aktif yang penuh harapan akan masa mendatang. Kita diajak untuk mempersiapkan diri menantikan masa pengadilan. Maka dalam advent juga diserukan pertobatan. Dalam minggu kedua masa Advent bacaan Injil mengisahkan seruan tobat oleh Yohanes Pembaptis. Pertobatan bukan hanya sekedar menyadari dan mengakui semua kesalahan, melainkan ada perubahan sikap hidup. Perubahan perilaku hidup dari hidup yang berdosa menjadi hidup yang dikehendaki Allah. Ada buah-buah pertobatan. Hasil pertobatan yang bisa dirasakan oleh sesama.

Dosa mempunyai aspek vertikal, yaitu rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan dan aspek horisontal yaitu rusaknya hubungan manusia dengan sesama. Maka dalam tobat kita dituntut untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah melalui doa dan membaca Kitab Suci untuk semakin mendekatkan diri dengan Allah dan memahami kehendakNya. Kedua, memperbaiki hubungan dengan sesama melalui amal bakti yaitu melakukan tindakan kasih pada sesama. Memberikan apa yang kita miliki kepada sesama. Entah tenaga, kasih, kekayaan dan sebagainya pada sesama. Selain itu kita juga hendaknya melakukan mati raga yaitu mengendalikan semua dorongan nafsu kedagingan, misalnya nafsu untuk marah, serakah, iri, dengki dan sebagainya.

Salah satu tokoh Advent adalah Maria. Dia adalah figur yang penting dalam sejarah keselamatan. Bukan hanya sebagai perempuan yang dipilih Tuhan menjadi ibu sang Juru Selamat, melainkan juga keteladan imannya yang sangat mengagumkan. Gereja mengangkatnya sebagai ibu Gereja, orang yang melahirkan Gereja. Orang beriman yang pertama. Dalam kesederhanaan hidupnya dia menampilkan keteguhan imannya. Penyerahan keseluruhan hidupnya pada kehendak Allah, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Warta malaikan yang menyatakan bahwa dia akan mengandung bukanlah sebuah persoalan sederhana pada jaman itu. Dia masih belum menikah. Bila dia hamil tentu dia melakukan zinah. Hukuman bagi perempuan yang diketahui berbuat zinah adalah dirajam sampai mati. Sebuah hukum yang sangat mengerikan dan tidak adil. Namun Maria menerima konsekwensi itu.

Dalam masa Advent kita diingatkan lagi akan bagaimana beriman itu. Beriman tidak hanya menyatakan kepercayaan pada Allah, melainkan juga keberanian untuk menerima konsekwensi dari sebuah pilihan. Kepasrahan kepada kehendak Allah yang sering kali sangat gelap bagi kita saat ini. Seringkali kita goyah akan iman bahkan banyak orang meninggalkan imannya sebab dia tidak berani menerima konsekwensi dari iman atau hanya mengejar kesenangan pribadinya. Kita juga sering kurang pasrah pada kehendak Allah. Bahkan kita sering berusaha mengatur Allah, mengingingkan Allah seperti yang kita kehendaki. Dalam masa Advent kita belajar pada Maria bagaimana beriman dengan baik.

Dengan demikian masa Advent adalah masa kita merenungkan kembali pilihan hidup kita dan memperbaharui diri dengan aneka tindakan tobat, sehingga kita layak menerima kehadiran Kristus yang kedua kalinya.

silakan baca selanjutnya "ADVENT" ...

AKU DUDUK DI KURSI KECIL

0 komentar

Aku duduk di kursi kecil. Kursi untuk anak-anak. Di ruangan ukuran 4X 3 ini hanya ada dua kursi kecil, sebuah meja kecil, sebuah lemari plastik dan tempat tidur. Inilah isi rumah temanku. Dalam rumah kontrakan ini, dia hidup bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Sudah lama aku aku tidak bertemu dengannya, sejak aku meninggalkan aktifitasku di perburuhan dua tahun lalu. Aku kebetulan saja melintasi daerahnya, maka aku mampir ke rumahnya.

Setelah berbasa-basi sejenak, temanku mengatakan bahwa dia saat ini sedang dalam kesulitan, sebab minggu depan pabriknya tutup. Menurut dia pabriknya pailit. Maka dia bersama 3000 temannya yang lain akan di PHK. Padahal bulan depan anaknya akan masuk SD, rumah kontrakan sudah habis, belum lagi aneka kebutuhan hidup. Dari mana dia akan memperoleh uang untuk semua itu. Keluhnya dalam nada putus asa. Istrinya hanya bisa memandangku penuh harap sambil mengipasi anak-anaknya yang tertidur agar tidak digigit nyamuk. Kulihat mereka tidur berdesakan dalam satu tempat tidur. Aku tidak bisa membayangkan dimana suami istri ini akan tidur bersama, jika dua anaknya tidur bersama mereka dan tidak ada kamar lain? Situasi ini tidak baik bagi perkembangan jiwa anak-anak pikirku.

Temanku bercerita lagi bahwa biaya masuk sekolah sangat mahal. Barang-barang sekarang juga sudah semakin mahal. Bagaiamana hidup tanpa pekerjaan di Surabaya? Mau pulang ke desa apa yang bisa dikerjakan di sana? Bapaknya dulu hanya buruh tani dan dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara bertani dan hidup sebagai petani seperti bapaknya sebagai buruh tani. Mau bertahan di Suarabaya apa mungkin? Keluhnya. Aku hanya diam membisu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Segala bentuk penghiburan dan harapan akan tidak berguna. Mungkin aku masih bisa mengatakan tenang saja, besok cari kerja yang lain. Ini bisa kukatakan sebab aku masih aman. Hidupku tidak digelisahkan dengan kontrak rumah, biaya sekolah anak, biaya hidup sehari-hari. Aku tidak digelisahkan dengan PHK yang berarti hilangnya penghasilan sebulan. Aku tidak digelisahkan sulitnya mencari pekerjaan di jaman yang serba sulit ini. Aku hidup dalam kondisi ada jaminan, sedangkan temanku hidup tanpa jaminan sama sekali. Hidup tanpa harapan yang jelas. Jangankan berpikir tahun depan, berpikir untuk makan besok saja sudah susah.

Kusodorkan rokok yang baru saja kuambil dari tas kainku. Pembicaraan mulai berkembang pada situasi politik yang tidak menentu. Dia mengeluh mengapa orang hanya ribut soal presiden sedangkan rakyat ditelantarkan? Apa sih tugas anggota DPR dan MPR? Apakah jika Megawati menjadi presiden keadaan ekonomi akan lebih baik? Apakah Amin Rais bisa menyelesaikan persoalan krisis ekonomi ini? Buat apa sih mahasiswa terus menerus demo yang menyebabkan pengusaha asing takut menanamkan modalnya di sini? Apa sih hasil demo yang bisa dirasakan oleh rakyat kecil? Mengapa mereka tidak bereaksi melihat banyaknya PHK pada saat ini? Banyak orang berteriak membela rakyat kecil, lalu rakyat kecil mana yang dibelanya? Apakah penderitaan ini adalah proses suatu hari esok yang baik? Banyak pertanyaan dari temanku. Tapi lidahku kelu. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa kukatakan padanya. Aku hanya bisa menyedot rokok kretetku dalam-dalam.

Pemikiran-pemikiran sederhana, namun sulit untuk menerangkan dan menjawabnya. Bagi temanku, dia tidak peduli siapa yang akan menjadi presiden dan menteri. Bagi dia yang penting adalah adanya jaminan hidup. Tidak perlu hidup yang mewah. Cukuplah hidup sebagai manusia yang layak. Adanya pekerjaan yang layak, pendidikan yang murah, perumahan untuk rakyat yang memadai, dan sebagainya. Kubiarkan temanku ini mengungkapkan segala kejengkelannya. Dia mengatakan orang banyak membenci komunis, sebab Marx mengatakan bahwa agama adalah candu, yang membawa manusia mimpi akan hari setelah kematian. Lalu apakah saat ini kita tidak diajak mimpi? Orang diajak mimpi akan hari esok yang tidak jelas kapan datangnya, padahal saat ini orang kelaparan dan kehilangan harapan. Proses pendampingan yang dilakukan oleh teman-teman aktifis buruh rupanya sudah membuat temanku berpikir kritis meski sejauh dalam wacana orang yang kurang berpendidikan.

Tanpa terasa waktu sudah agak larut. Aku masih ada janji dengan teman-teman di sekretariat. Maka aku pamit pulang. Kutinggalkan beberapa lembar uang yang ada dalam tasku. Dengan wajah tersenyum malu temanku mengatakan apakah rokoknya juga tidak ditinggalkan? Aku tersenyum dan membiarkan rokokku tergeletak di meja kecil.

Dalam perjalanan pulang pikiranku berkecamuk. Saat ini orang sibuk berdiskusi tentang SI dan aneka hal yang bisa terjadi. Sepintas aku juga melihat sidang DPR kemarin di TV. Kulihat betapa mereka bersemangat dalam bersidang. Adu argumen dan interupsi. Seolah persoalan negara akan terselesaikan. Aku yakin mereka akan terus berdiskusi dan berdiskusi. Adu argumen yang tidak berkesudahan. Mereka terus bisa berdiskusi sebab mereka kenyang. Mereka aman. Mereka memiliki rumah, mobil, aneka jaminan hidup. Mereka mempunyai gaji yang jauh dari cukup. Mereka tidak gelisah akan uang kontrakan rumah. Mereka tidak gelisah akan biaya masuk sekolah. Mereka tidak akan gelisah di PHK. Seandainya mereka merasakan semua kegelisahan itu apakah mereka masih akan ribut soal siapa yang harus menjadi presiden? Jika mereka adalah pejuang rakyat kecil, apakah mereka merasakan penderitaan dan kegelisahan rakyat kecil?

Bagaimana mereka bisa memperjuangkan rakyat kecil dan tertindas, jika mereka ada dalam situasi yang aman dan bahkan tidak jarang menindas dengan aneka aktifitas korupsi dan manipulasi dana yang lain? Inilah mungkin yang dipilih oleh Yesus. Dia berjuang untuk rakyat kecil dan tertindas, maka Dia menjadi bagian rakyat kecil dan tertindas. Dia merasakan kelaparan, meski mampu membuat roti dari batu. Dia merasakan ketakutan, meski Dia bisa mendatangkan pasukan dari surga. Dia mengalami penindasan dan pelecehan, meski Dia mampu membebaskan orang lain dari pelecehan dan penindasan. Dia mengalami semua penderitaan rakyat, maka Dia mudah tersentuh dengan penderitaan rakyat. Dia memiliki pengalaman penderitaan, bahkan sampai penderitaan yang tidak terperikan.

Siapakah pemimpin yang mengalami penderitaan rakyat miskin? Gandhi adalah salah satu contoh pemimpin yang mengalami penderitaan. Maka dia memilih untuk hidup sebagai orang miskin. Dia memposisikan diri sebagai rakyat yang dibelanya. Meskipun dia bisa hidup mewah, namun meninggalkan kemewahannya untuk hidup sebagai rakyat miskin. Dengan tetap sebagai bagian dari kaum miskin, dia akan tetap mengalami, merasakan penderitaan kaum miskin. Dia akan tetap memiliki hati yang menjadi semangat perjuangannya. Dia akan mampu untuk tetap konsisten dalam pilihan hidupnya yaitu berjuang bagi kaum miskin. Memposisikan hati menjadi bagian kaum miskin inilah yang tidak mudah. Aneka bentuk kenikmatan inilah yang bisa mengalihkan hati dan spirit perjuangan. Pada awal karyaNya Yesus juga dicobai oleh setan untuk meninggalkan misi hidupnya dengan memisahkan Dia dari kaum miskin. Godaan ini terus muncul dan mampu ditolak oleh Yesus dengan tegas. Banyak pemimpin yang berasal dari kaum miskin, namun setelah menikmati posisinya, dia melupakan kaumnya. Kaum miskin hanya menjadi batu loncatan saja untuk masuk ke gedung yang megah. Mereka tidak mampu bertahan dari godaan, sehingga memisahkan dirinya dari kaumnya.

Jika pemimpin tidak lagi memiliki hati untuk kaum miskin, maka temanku dan kawan-kawannya yang 3000 orang ini tetap akan menjadi orang yang gamang akan hidup, sebab tidak lagi mempunyai harapan, baik akan hidupnya maupun orang yang akan memperjuangkan hidupnya. Padahal temanku dan 3000 temannya bukan hanya mereka yang harus diperjuangkan. Masih berjuta-juta lagi kaum miskin yang harus diperjuangan. Aku mengeluh,.... masihkah hatiku ada di posisi dan menjadi bagian dari orang miskin? Jalan di hadapanku gelap, segelap wajah dan pikiranku.

silakan baca selanjutnya "AKU DUDUK DI KURSI KECIL" ...

Selasa, 08 April 2008

BANTUAN

0 komentar

Aku memasuki halaman pasturan yang luas. Sepeda motor aku parkir di dekat pintu masuk. Temanku keluar menyambutku. Tidak biasanya dia sudah berdiri dekat pintu begitu aku datang. Biasanya untuk bertemu dengannya aku harus melalui beberapa prosedur. Pencet bel. Menunggu beberapa menit. Bertemu dengan pegawai dan mengatakan siapa aku serta apa keperluanku. Memasuki ruang pasturan dan menunggu lagi selama beberapa menit sampai temanku keluar dari ruang dalam pasturan. Pernah sekali aku berlaku sok akrab sehingga langsung masuk pasturan mencari temanku di dalam tanpa melalui prosedur baku. Akibatnya satpam yang menjaga pasturan menjadi marah-marah. Dia menjelaskan panjang lebar aturan di pasturan itu. Aku hanya tersenyum dan minta maaf. Aku jelaskan bahwa aku sudah membuat janji dengan temanku, tapi tampaknya satpam tidak percaya. Beruntung temanku segera keluar dan menemuiku sehingga satpam itu berhenti marah dan pergi ke luar ruangan. Namun ketika aku mau pulang satpam itu menghadang di dekat pintu pagar dan masih marah. Dia sekali lagi menjelaskan peraturan yang berlaku di pasturan ini. Mungkin dia tadi belum puas memarahiku meski aku sudah meminta maaf beberapa kali.

Temanku mengajakku langsung masuk ke kamar pribadinya. Sambil berjalan ke kamarnya, dia cerita bahwa baru saja dia kedatangan tamu tamu seorang yang kurang mampu dan sering datang ke tempatnya untuk meminta bantuan. Aku tanya apakah dia memberinya uang? Dia menganggukkan kepala. Aku katakan bahwa tadi aku melihat orang itu sedang akan naik taksi. Temanku terkejut. Tidak percaya. Lalu aku jelaskan ciri-ciri orang itu. Temanku mengangguk membenarkan. Aku jelaskan bahwa aku juga mengenalnya sebab dia beberapa kali meminta bantuan padaku. Mendengar itu temanku menjadi marah. Dia mengatakan bahwa orang itu meminta bantuan uang untuk pengobatan anaknya yang katanya sedang sakit parah namun mengapa dia menggunakannya untuk naik taksi? Bukankah ada angkot yang ongkosnya lebih murah? Aku katakan siapa tahu dia memang sedang tergesa sehingga membutuhkan taksi. Atau dia ingin sesekali naik taksi apa salahnya. Temanku tetap tidak setuju bahwa uang yang seharusnya untuk biaya pengobatan ternyata untuk naik taksi. Dengan panjang lebar temanku mengatakan bahwa banyak orang yang tidak tahu berterima kasih. Orang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Dia lalu menceritakan banyak hal lain lagi tentang keburukan orang-orang miskin yang datang kepadanya untuk meminta bantuan. Akhirnya dia berjanji bahwa bila orang itu datang kembali padanya dan meminta bantuan, maka dia tidak akan pernah membantunya lagi. Mendengar semua argumen dan kemarahannya aku hanya tersenyum saja. Terserah dia mau memberi atau tidak. Itu keputusan hati nuraninya kataku dalam hati.

Setelah aku selesai menyampaikan tujuan kedatanganku maka aku pun pulang. Dalam perjalanan pulang terbayang kembali kejengkelan temanku kepada orang itu. Aku tahu bahwa orang itu suka meminta bantuan ke beberapa pasturan. Dia selalu mengatakan bahwa anaknya sakit dan membutuhkan bantuan. Memang anaknya sakit dan cacat sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membeli obat. Padahal dia adalah seorang janda yang tidak mempunya penghasilan tetap. Aku sudah beberapa kali membantunya baik melalui pasturan maupun lembaga yang aku pimpin. Terkadang aku merasa kasihan bila melihat anaknya yang cacat. Tapi kadang kala juga jengkel bila dia berulang kali datang hanya untuk meminta uang yang tidak digunakan secara tepat. Tapi inilah hidup yang sering tidak begitu mudah untuk dipahami. Aku tidak boleh melihat dan memutuskan sesuatu dari sudut pandangku sendiri. Aku yakin bahwa dia melakukan semua itu karena kekurangan. Terkadang aku menemukan orang miskin yang rela menipu bukan karena dia ingin merugikan orang lain melainkan karena dia ingin mendapatkan sesuatu yang sangat dibutuhkan namun tidak memiliki uang untuk membeli. Mereka juga tidak segan untuk memuji-muji aku dan menjelekkan orang lain agar aku mau membantunya atau menceritakan penderitaan yang sangat parah agar aku berbelas kasih padanya. Hal ini sering kali merupakan keterpaksaan sebab dia membutuhkan uang.

Banyak orang datang kepadaku dengan aneka alasan untuk mendapatkan sedikit bantuan. Seorang imam tua pernah memberikan nasehat padaku bahwa jika ada orang datang untuk meminta bantuan sebaiknya aku memberinya, tanpa mencurgainya bahwa dia sedang berbohong. Kita tidak tahu apakah orang yang memohon bantuan itu berbohong atau tidak. Siapa tahu dia memang sungguh membutuhkan bantuan. Semula aku tidak setuju dengan prinsip dan keputusan itu, tapi akhirnya aku menyadari bahwa apa yang dikatakan imam tua itu ada benarnya juga. Bagiamana bila orang itu sungguh membutuhkan bantuan dan aku tidak memberinya? Bukankah hal ini akan sangat menyakitkan baginya? Bagaimana bila aku sendiri ketika sedang membutuhkan bantuan dan meminta pada orang lalu ditolak? Aku pasti akan kecewa sekali.

Memberi orang miskin sering kali menimbulkan dilema bagi banyak orang. Ada teman yang tidak mau memberi pada pengemis di perempatan jalan sebab dia mendengar bahwa penghasilan seorang pengemis jauh lebih besar daripada penghasilannya sebagai guru di sebuah SD. Teman yang tidak mau memberi uang recehnya kepada anak jalanan dengan alasan nanti akan membuat anak itu menjadi pemalas dan bergantung pada orang lain. Ada orang yang tidak mau memberi pada pengemis anak-anak sebab dia mendengar bahwa mereka hanya diperalat oleh orang tuanya. Temanku tadi juga marah-marah setelah memberi sebab dia tahu bahwa uang itu digunakan untuk naik taksi. Aku pun sering mengalami hal yang sama. Kadang aku menjadi kecewa bila bantuan yang kuberikan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Kadang timbul dalam pikiranku apakah orang ini sungguh sangat membutuhkan bantuan atau hanya ingin mencari enaknya saja. Dia hanya ingin bergantung pada orang lain tanpa mau bersusah payah bekerja.

Di rumah singgah aku pun sering ditipu oleh anak-anak. Ada anak yang memaksa untuk disekolahkan namun ternyata uang pendaftaran dan uang gedung dihabiskan untuk membeli hal yang seharusnya tidak perlu dibeli. Ada yang mengatakan ingin kuliah dan mendaftarkan diri di sebuah perguruan tinggi swasta. Setiap sore dia berangkat kuliah. Dia meminta dana untuk aneka kebutuhan seperti halnya mahasiswa yang lain. Namun setelah satu semester akhirnya ketahuan bahwa dia tidak pernah mendaftarkan diri sama sekali di perguruan tinggi itu. Uang kuliah ternyata digunakan untuk memuaskan dirinya sendiri. Ada yang mengatakan membutuhkan modal untuk usaha namun ternyata uang itu habis begitu saja. Ada yang meminta uang untuk mengurus SIM ternyata uang itu habis sebelum SIM diurus. Masih banyak lagi cara anak-anak menipuku. Seharusnya setelah ditipu berulang-ulang aku tidak akan mempercayai mereka lagi dan tidak perlu memberinya uang untuk alasan apa saja. Tapi meskipun sering kali aku merasa kecewa dan marah setelah tahu bahwa mereka menipuku, namun aku berusaha untuk membangun kepercayaan lagi pada mereka. Sering kali aku tidak tega melihat wajah-wajah mereka yang tampak memelas dan lembaran hidup mereka yang kelam. Akhirnya aku hanya berusaha menasehati mereka bahwa perbuatan mereka salah dan dapat merusak kepercayaanku padanya.

Beberapa teman mengatakan bahwa tindakanku itu bodoh. Aku seharusnya tidak perlu memberi mereka lagi. Atau aku harus tegas dengan cara memberi sanksi. Kadang usul itu ingin aku lakukan, tapi hal itu berarti aku tidak akan pernah memberi lagi kepada semua anak yang ada di rumah singgah. Atau mereka semua akan mendapatkan hukuman, sebab semua anak pernah menipuku atau teman-teman pendamping yang lain. Meski ditipu aku harus tetap mempercayai mereka. Aku harus tetap memberi mereka bahkan bila pemberian itu sekali lagi akan digunakan tidak semestinya. Hal ini harus terus aku tanamkan dalam hatiku. Bagiku tidak mungkin aku tidak akan mempercayai mereka lagi. Lalu apa maksudku membangun pertemanan dengan mereka dan menampungnya di rumah singgah bila sudah tidak ada rasa percaya lagi? Bila aku tidak mempercayai mereka lagi, maka hal ini berarti rumah singgah harus ditutup.

Pernah aku sangat kecewa sebab ditipu mentah-mentah. Ketika sedang merencanakan hukuman bahkan pengusiran, ternyata Tuhan menegurku melalui Injil. Dalam Injil Yohanes yang kubaca Yesus setelah bangkit bertanya pada Petrus, “Petrus apakah engkau mencintai aku? Gembalakanlah domba-dombaKu” sebuah pertanyaan yang diulang sampai 3 kali. Petrus adalah orang yang dipercaya oleh Yesus untuk memimpin komunitas keselamatan yang dibangunNya. Namun dia pernah menghianati Yesus sampai 3 kali. Pengkhianatan Petrus tidak membuat Yesus jera. Dia tetap memberi kepercayaan padanya untuk menjadi gembala domba-dombaNya. Ayat itu membuatku seperti bercermin. Apakah aku tidak pernah menyelewengkan atau menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadaku selama ini? Apakah aku tidak pernah menipu Tuhan? Apakah bila aku menyeleweng atau menipu Tuhan maka Dia tidak lagi memberiku kepercayaan? Ternyata tidak! Dia tetap memberiku kepercayaan. Dia memberiku rejeki dan aneka kemudahan dalam hidup. Mengapa kini aku akan mengusir anak-anak yang tinggal di rumah singgah karena telah menyelewengkan kepercayaan yang aku berikan?

“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Mat 5:42) Yesus dalam kotbah di bukit mengajarkan agar manusia memberi pada orang yang meminta dan tidak boleh menolak bila ada orang yang akan meminjam. Maka bila ada orang yang meminta aku harus siap untuk memberi. Allah telah banyak memberi kepada kita tanpa pernah mempertanyakan segala pemberianNya. Aku sepanjang hidup sudah menikmati aneka pemberian yang berlimpah dariNya dan tidak semua pemberian aku gunakan sepantasnya. Aku diberi tenaga yang kuat namun sering kali aku bermalasan. Aku diberi akal budi yang cukup namun sering kali akal budiku aku gunakan tidak untuk seharusnya. Tidak pernah Allah marah dan menghentikan anugerahNya. Kesadaran akan kasih Allah yang senantiasa mengalir dalam hidupku meski aku sering kali tidak menggunakan untuk seharusnya, membuatku membatalkan keinginan untuk mengusir anak yang sudah menyelewengkan kepercayaanku.

Pemberian adalah kurban. Bila aku memberi maka ada bagian dari milikku yang hilang. Sering kali yang membuatku enggan memberi bantuan pada orang lain adalah kekuatiranku akan kehilangan apa yang kumiliki. Aku tidak ingin apa yang kumiliki berkurang, sebaliknya harus bertambah. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:34). Sebenarnya kekuatiran dan keterlekatan pada baranglah yang membuatku tidak berani memberi bantuan pada orang lain dengan aneka alasan yang masuk akal. Aku kuatir apa yang kumiliki akan habis. Aku kuatir bagaimana bila aku membutuhkan suatu saat nanti. Aku merasa sayang dengan apa yang kumiliki. Masih banyak kekuatiran dan keterlekatan lain yang ada dalam diriku.

Mengapa aku sering takut memberi? Bukankah Yesus sudah memberikan seluruh diriNya demi keselamatanku? Dia rela menjalani penderitaan yang mahaberat dan disalibkan sampai mati demi menebus dosa-dosaku. Bila diri dan nyawa saja sudah diberikan apakah Dia akan memperhitungkan pemberian yang lain? Yesus tidak pernah mempertanyakan pemberianNya apakah aku gunakan dengan sebaiknya atau aku abaikan begitu saja. Dia tidak pernah menuntutku untuk membalas apa yang sudah dikerjakanNya bagiku. Bila aku sudah menerima yang berlimpah seperti itu mengapa aku masih berhitung dengan orang lain? Kesadaran akan kasih Yesus yang telah memberikan segalanya kepadaku inilah yang membuatku untuk terus berusaha memberi sesama tanpa merasa kuatir. Bila timbul rasa kekuatiran dan kecemasan, maka aku akan memandang salib Yesus.

Sambil memacu sepeda motor di tengah jalan yang tidak begitu padat, aku terus berusaha melihat diriku. Aku ingin mempunyai keberanian untuk memberi dengan iklas. Tidak memiliki kekuatiran kekurangan bila memberi sesuatu atau melakukan penghakiman pada orang yang datang membutuhkan bantuan. Sepeda motor terus kupacu. Di sebuah perempatan jalan aku berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Seorang anak perempuan kecil membawa lap kotor datang menghampiri motorku. Dia menggosok kaca lampu motor dan minta uang. Kukeluarkan uang recehan. Untuk apa uang itu tanyaku. Dia menjawab dengan suara lirih bahwa uang hasil membersihkan motor akan digunakan untuk membayar uang sekolah. Aku tersenyum mendengar jawabnya. Semua anak di rumah singgah pun akan berkata begitu, meski mereka makan tidak perlu bayar dan uang sekolah sudah aku beri. Selalu ada alasan untuk mendapatkan uang. Apakah anak ini sedang menipuku? Tanyaku dalam hati. Kutatap wajahnya yang kotor dan minta dikasihani. Sekali lagi aku tanya padanya akan digunakan untuk apa uang itu? Dia menjawab yang sama sambil berlali kecil menuju ke motor yang lain. Sekali lagi aku tersenyum. Aku harus iklas. Aku sudah memberi maka aku mengiklaskan pemberianku. Bila aku iklas maka tidak akan pernah menyesal bila ternyata uang itu dihabiskan untuk membeli jajan atau menambah modal judi bapaknya. Aku hanya berharap bahwa suatu saat pasti dia akan berubah seperti anak-anak di rumah Simopomahan[1].

Surabaya, 8 Juni 2002
[1]) Simopomahan adalah nama sebuah kampung di daerah Surabaya Barat. Kami mempunyai sebuah rumah singgah di kampung itu yang dihuni oleh anak jalanan yang sudah mau kembali sekolah atau bekerja. Mereka tidak lagi hidup di jalanan. Sedangkan anak jalanan yang masih menyukai hidup di jalanan tinggal di rumah singgah di daerah Dinoyo. Anak-anak ini sengaja dipisahkan agar anak yang sudah ingin hidup seperti anak pada umumnya tidak dipengaruhi lagi oleh anak-anak yang masih hidup di jalanan yang mempunyai dunia berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

silakan baca selanjutnya "BANTUAN" ...
 
langkah peziarah - Template By Blogger Clicks