Selasa, 08 September 2009

LAMPU

0 komentar

Kami duduk melingkar mendengarkan seorang romo yang sedang memberikan renungan. Namun hampir semua dari kami yang berada disitu tidak bisa mendengarkan dengan baik. Hati kami digelisahkan oleh lampu neon. Ada satu lampu neon di tengah ruangan yang berkedi-kedip dan menimbulkan suara mendengung yang cukup keras. Penjaga rumah sudah kami beri tahu tapi dia tidak mempunyai cadangan lampu, maka kami terpaksa mengikuti session diterangi lampu yang rusak. Aku sama seperti yang lain menjadi merasa tidak nyaman. Sambil berbisik-bisik pada teman disebelah aku mulai mengkritik tempat ini.

Tampaknya romo pembimbing menyadari akan situasi yang tidak mengenakan ini. Maka dia mengatakan agar kami jangan memperhatikan lampu melainkan mulai berusaha menyimak apa yang diuraikannya. Dia mengatakan semakin kami memperhatikan lampu maka kami akan semakin jengkel. Semakin kami jengkel semakin kami tidak bisa memahami apa yang dikatakan olehnya. Perkataan romo mendorongku untuk berusaha konsentrasi pada materi yang sedang dibahas. Aku berusaha melupakan lampu dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh romo pembimbing. Tidak terasa waktu konfrensi sudah selesai.

Di tengah dinginnya udara Pacet aku berusaha merenungkan apa yang baru aku alami tadi. Dalam hidup tidak ada yang sempurna. Hal yang sudah direncanakan matang pun kadang kala masih menimbulkan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana. Beberapa kali aku mengalami kegagalan. Padahal aku sudah mempersiapkan dengan serius. Kegagalan ini membuatku merasa gagal dalam aneka hal. Aku selama beberapa hari bisa tenggelam dalam rasa kecewa, gelisah, ingin berontak dan sebagainya. Jika sudah demikian maka aku enggan melakukan segala sesuatu, sebab seluruh diriku terpusat dalam rasa gagal itu.

Dalam komunitas pun ada saja orang yang kuanggap kurang sesuai dengan yang kuharapkan. Aku ingin menyingkirkannya. Namun aku tidak mampu, sebab dia pun berhak tinggal dalam komunitas. Aku pun tidak bisa melarikan diri dari realita komunitas seperti ini. Aku dipaksa menerima teman-teman sekomunitas apa adanya.

Dalam hal ini hanya dibutuhkan kesiapan untuk menerima apa adanya. Ini butuh kebesaran hati, sebab tidak mudah menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang aku kehendaki. Sering kali aku memimpikan semuanya orang bisa hidup sesuai dengan apa yang kukehendaki. Namun ini mustahil. Setiap orang mempunya gaya hidup sendiri-sendiri. Mereka mempunyai penampilan yang berbeda. Mereka mempunyai karakter dan kepribadian yang unik, sehingga tidak sama dengan kepribadian dan karakterku. Bahkan mungkin bertentangan.

Sebetulnya jika aku tidak suka dengan orang, belum tentu aku tidak suka keseluruhan dirinya. Aku bisa tidak suka akan kepribadiannya atau sikapnya atau gaya hidupnya atau yang lain. Hanya sebagian dari dirinya saja yang tidak kusukai, tapi akibatnya aku tidak menyukai dirinya secara keseluruhan. Sama seperti kejadian tadi. Gara-gara hanya sebuah lampu aku menjadi jengkel. Padahal masih ada 3 lampu lain yang menyala dengan bagus. Aku menjadi tidak suka pada semua pegawai dan pengurus rumah retret ini yang kuanggap tidak tanggap. Aku mengkritik pegawai yang malas, managemen yang tidak profesional sampai pemilik rumah yang pelit dan sebagainya. Dari persoalan lampu yang kecil menjadi melebar kemana-mana. Seolah-olah dalam rumah ini tidak ada yang baik.

Untung romo pembimbing memberikan pencerahan, bahwa jangan memusatkan diri pada sesuatu yang menjengkelkan, melainkan alihkan pandangan ke hal lain. Memang memusatkan diri pada hal negatif jauh lebih mudah. Pernah aku juga menguji sekelompok anak muda. Aku mengambil selembar kertas putih dan memberikan titik hitam. Ketika kutanya apa yang mereka lihat, hampir semua mengatakan sebuah titik hitam dalam sebidang kertas putih. Mengapa jawaban tidak dibalik yaitu sebidang kertas putih yang mempunyai titik hitam? Sebab memang titik hitam itu menarik perhatian. Semua orang memusatkan pada titik itu. Hal hitam dan negatif sangat mudah dilihat dan diingat oleh orang.

Demikian pula dalam hidup. Titik hitam seseorang sering kali diingat dan menjadi pusat perhatian. Akibatnya semua lembaran hidup putih lain yang dimilikinya seolah tidak pernah ada, kalau toh ada dianggap sebagai sebuah hal yang biasa atau bahkan dilupakan. Seorang teman pernah tertangkap mencuri barang. Dia harus menjalani hidup selama beberapa bulan didalam penjara. Ketika keluar dari penjara sedikit sekali orang yang berani memberikan kepercayaan padanya. Semua orang melihatnya sebagai bekas pencuri. Padahal sebelum mencuri banyak orang percaya padanya. Dia mencuri pun akibat terdesak tuntutan keluarga sebab orang tuanya sakit dan membutuhkan banyak biaya. Barang yang dicuri pun bukanlah barang mahal, hanya beberapa peralatan dapur dan makan. Dia menjualnya hanya laku Rp 150.000. tapi akibat semua itu dia sudah dianggap sebagai orang yang penuh dengan dosa. Seluruh hidupnya hitam kelam.

Kupandang langit yang hitam. Seandainya tidak hitam pasti bintang tidak akan tampak indah seperti malam ini. Gelap pun dibutuhkan dalam dunia. Gelap pun bisa menambah keindahan alam. Mengapa aku selalu ingin semuanya putih dan terang? Hidupku pun tersusun dari hitam dan putih. Gelap dan terang. Keberhasilan dan kegagalan. Sikap buruk dan baikku. Semua membentukku menjadi diriku saat ini. Aku tidak akan berkembang bila hanya memusatkan diri pada hal buruk atau kegagalan dalam hidupku. Aku tidak bisa bersyukur pada Allah bila hanya memusatkan pandangan pada hal negatif dan menjengkelkan yang melekat pada diriku.

Syukur romo tadi menyadarkan aku akan hal itu. Keberanian untuk tidak lari dari kekurangan yang ada namun tidak memusatkan diri padanya. Tidak berusaha berontak akan kekurangan yang ada, melainkan menerimanya. Sebab semakin berontak akan semakin menjengkelkan dan membuatku tidak berkembang.

silakan baca selanjutnya "LAMPU" ...

Minggu, 06 September 2009

SELAMAT JALAN NOK

1 komentar


Hanya inilah yang bisa aku katakan ketika Mas Yoga menegaskan bahwa kamu adalah salah satu kurban di TimTim. Penegasan berita dari Mas Yoga dan Rm. Hari membuatku bersimpuh. Hatiku berkecamuk. Tidak tahu aku harus teriakan pada siapa. Pedih. Marah. Geram. Kecewa. Tidak percaya. Berkecamuk menjadi satu. Mengapa orang TimTim yang memandang pastur begitu tinggi dibandingkan di Jawa sini bisa membunuh pasturnya? Benarkan penembakmu adalah orang TimTim? Tuhan akan membukanya, entah kapan. Aku tidak tahu.

Aku masih ingat pertemuan kita di Dili beberapa waktu lalu. Kau mengejekku sebab terlalu cepat menjadi imam. Aku pun mengejekmu yang betah menjadi frater. Kita saling ejek setelah sekian lama tidak jumpa. Ya, sejak kita pisah di Garum dulu. Kau masuk Jesuit sedang aku masuk CM.

Nok, Painok, begitu kau disebut. Entah ini nama ejekan atau nama kesukaanmu, tapi banyak teman memanggilmu demikian dan kamu tidak sakit hati. Aku lihat lagi foto foto kita ketika kita keluyuran di girli untuk menemui Rm. Mangun. Ketika kita di Rowoseneng untuk meneguhkan panggilan kita masing masing. Ketika di rumahmu. Gara gara kamu hanya memberi alamat dekat lampu bangjo, aku kesasar sampai jauh sekali, sebab lampu itu mati dan hari sudah malam sehingga tidak tampak kalau ada lampu bangjo. Aku pun harus kembali naik angkutan dan bertanya sana sini untuk menemukan daerahmu. Sampai daerahmupun aku lupa nomor rumahmu. Untung aku masih ingat nama ayahmu, sehingga agak mudah menemukan rumahmu. Kitapun saling ejek atas kekeliruan ini. Syukurlah kamu punya ibu yang sangat baik, sehingga beliau repot membuatkan minuman hangat dan air hangat untuk mandiku.

Nok, mengenang semua ini aku jadi sedih. Dua tahun kita satu kamar tidur. Banyak kisah lucu ala seminaris kita alami. Tapi kini semua tinggal kenangan. Kau sudah tidak bisa ketemui lagi. Untuk mengunjungi kuburmu pun aku tidak bisa, sebab tubuhmu belum ditemukan. Ah Nok,...masih terbayang kecerianmu di Dili. Kau bersemangat sekali sebab sebentar lagi akan ditahbiskan. Aku pun mengejekmu akan datang ke tahbisanmu, hanya untuk menumpangkan tanganku di atas rambutmu yang sering diejek mambu kloso. Tapi, aku tahu kau hanya bergurau, tidak akan mengundangku. Tidak ingin aku menumpangi tangan. Ah...jahat sekali kamu Nok. Sungguh Nok, aku sedih.


Tapi aku bangga padamu. Sungguh! Aku kagum padamu! Kagum pada pilihanmu. Mati diantara umatmu. Kemarin aku sedikit ngobrol dengan beberapa teman cerita soal cara matimu. Ada yang berkomentar bahwa itu konyol, sebab berani menantang maut. Harusnya kau mengungsi keluar kota bersama para seminaris. Tapi kau memilih bertahan di parokimu. Berani menghadapi para perusuh bersenjata. Berani tanpa berpikir adalah konyol. Kali ini kau kubela, Nok. Menurutku kita memang harus konyol. Yesus pun tahu bahwa Dia akan ditangkap dan disalibkan. Dia ketakutan di taman Getsmani. Tapi Dia tidak lari dari Yerusalem. Apakah Dia tidak konyol? Konyol! Yesus juga konyol. Dia menyongsong kematianNya.

Aku kagum kau tidak lari. Kau bertahan bersama umatmu. Aku yakin bahwa saat itu umatmu membutuhkan kau berada di tengah tengah mereka. Umatmu penuh ketakutan dan kau berada di tengah tengahnya. Ini peneguhan yang tidak ternilai, meski kau harus merelakan tubuhmu dihilangkan. Bukan hanya nyawamu saja. Memang ada yang berpendapat bahwa dengan pergi kau bisa meneruskan perjuangan mereka. Kau bisa memberikan laporan pandangan mata tentang kekejaman mereka. Kau bisa mengorganisir perjuangan dari luar. Tapi, Nok, kau pilih mati bersama mereka.

Aku bersyukur atas pilihanmu, sehingga Yesus tidak perlu lagi datang dan menemuimu di tengah jalan dengan memikul salib. Dan kau tidak perlu lagi bertanya Quo vadis Domine? Kau hebat Nok! Mau tetap memikul salibmu, sehingga Yesus tidak perlu menggantikanmu ditembak di tengah umatmu. Ada yang komentar, bahwa kau akan lebih berguna jika masih hidup dari pada mati dengan cara seperti ini. Tapi sekali lagi aku membelamu Nok. Mungkin saat Petrus meninggalkan Roma, umatpun senang, sebab Petrus bisa mengembangkan kekristenan di luar Roma. Tapi Yesus berjalan menuju Roma. Petrus pun malu dan kembali ke Roma untuk mati disalib. Ternyata kematian Petrus tidak memusnahkan Gereja. Darah Petrus terus mengalir dan menjadi rabuk tempat bersemainya Gereja baru. Aku yakin Nok, darahmu pun akan membuat Gereja Timor Timur khususnya, dan Indonesia pada umumnya, akan tumbuh subur dan berkembang.

Nok, sekali lagi aku kagum padamu. Kau dalam diam membuka mataku tentang keberanian, tentang kecintaan pada umat, tentang hakekat panggilan hidup kita, yaitu mengikuti Yesus yang berjalan menuju bukit Golgota, tentang salib yang harus kita pikul. Aku yakin Nok, pilihanmu ini tidak akan mengangkatmu menjadi orang terkenal di seluruh dunia. Kau tidak akan dilirik oleh panitya Nobel untuk diberi nobel perdamaian. Kau tidak akan mendapat tepukan dimana mana. Kau tidak akan jadi orang terkenal. Kau akan tetap menjadi Rm. T. Dewanto SJ yang mati ditembak di TimTim. Kau hanya diingat dan dicatat sebagai kurban.


Tapi Nok, aku percaya bahwa kematianmu tidak sia sia. Kau bukan kurban yang memang harus jatuh, konsekwensi logis, akibat revolusi. Kau tidak salah dengan pilihanmu. Aku bahkan iri padamu. Sebab kau bertemu Yesus dan bisa menunjukan luka tembakmu. Sedang aku Nok. Apa yang bisa aku tunjukan pada Yesus? Luka luka aku belum punya. Apakah Yesus akan memperhitungkan aku, sebab beberapa kali nulis di p net? Apakah aku bisa membanggakan diri dihadapan Yesus dengan menunjukan kedudukanku sebagai ketua komisi? Apakah Yesus akan menerimaku di surga jika kutunjukan bahwa aku direktur sebuah yayasan? Seandainya aku jadi uskuppun, apakah bisa Yesus langsung mempersilahkan diriku masuk surga? Bahkan seandainya semua orang di dunia tahu bahwa aku penerima nobel perdamaian dan dicatat oleh para tokoh politik sebagai pejuang, apakah Yesus lalu mengagumiku dan menerimaku dengan penuh suka cita? Ah, Nok....kau telah diterima di surga. Bukan dengan gelar atau prestasi yang hebat, tapi dengan keberanian pilihanmu untuk bersama Yesus di TimTim.

Akhirnya Nok, aku ucapkan SELAMAT JALAN KAWAN. Aku bangga padamu. Aku akan berdoa khusus bagimu dengan hati yang merintih pedih. Hanya ini yang bisa kulakukan. Maaf!

silakan baca selanjutnya "SELAMAT JALAN NOK" ...

AKU HANYALAH ANAK KOPRAL ANUMERTA

0 komentar

Saya adalah anak seorang kopral anumerta. Ya! Benar! Bapak adalah seorang anggota ABRI yang berpangkat kopral. Dia sudah tewas tertembak dalam suatu pertempuran maka dibelakangnya diberi tambahan anumerta.

Bapak bagi saya adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Disetiap kesempatan luang, dia mengajak ibu, dua adik dan saya jalan jalan. Kami hanya jalan jalan menikmati keindahan kota. Sebelum jalan jalan bapak atau ibu senantiasa berpesan agar kami tidak boleh meminta apa apa. Kalau bapak atau ibu punya uang, maka kami akan dibelikan sesuatu, entah mainan yang dijual di emper toko atau kue kue di pedagang kaki lima. Kata ibu gaji bapak sangat kecil, sehingga tidak mungkin kami beli mainan di toko atau makan di restoran. Bapak hanyalah seorang prajurit. Tapi meski hidup susah, saya bangga pada bapak. Apalagi kalau melihat bapak dengan seragam lengkap. Dia tampak gagah dan tampan.

Kedekatan saya dengan bapak tidaklah lama. Saya masih kelas tiga SD ketika bapak mendapat tugas ke Timor Timur. Saya sendiri tidak tahu dimana tempat itu. Ibu hanya bilang bahwa Timor Timur itu jauh di timur negara Indonesia. Malam sebelum berangkat bapak mengambil peta Indonesia dan menunjukan dimana tempat yang namanya Timor Timur. Suatu daerah kecil yang diberi warna lain, sebab tidak termasuk negara Indonesia. Bapak menjelaskan bahwa dia bersama teman temanya harus naik kapal laut selama beberapa hari baru bisa mencapai tempat tersebut.

Kata ibu bapak kesana akan berjuang. Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit yaitu siap diperintah kemana saja dan berjuang melawan musuh. Saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak disana. Saya juga tidak tahu pasti siapa musuh bapak di sana. Apakah berjuang melawan penjajah seperti cerita kakek yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Atau berjuang melawan pemberontak seperti cerita kakek tentang pemberontakan Kahar Muzakar, RMS, DI/TII atau yang lain. Saya tidak tahu, ibu pun tidak tahu. Maklum ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi. Kami juga kekurangan informasi, sebab tidak berlangganan surat kabar. Kami tidak mempunyai uang untuk berlangganan surat kabar. Beberapa kali saya melihat bapak membaca surat kabar yang dibeli eceran atau hasil dari pinjam ke tetangga. Kami juga tidak mempunyai TV. Ini suatu barang yang sangat mewah. Yang kami punya hanya radio kecil dan hanya bisa menangkap siaran radio amatir. Atasan bapak juga tidak menjelaskan dengan rinci untuk apa dia harus mengirim bapak kesana. Menurut bapak, dia hanya mengatakan bahwa sebagai prajurit yang menjalankan sapta marga, dia harus siap untuk diutus kemana saja. Maka ibu tidak bisa menjelaskan mengapa bapak harus berjuang di Timor Timur.

Bapak sendiri tidak tahu apa yang terjadi di Timor Timur. Dia hanya mengatakan bahwa di sana terjadi kerusuhan dan sebagai prajurit, dia harus mengamankan negara dari kerusuhan. Ini perintah dan harus ditaati. Sampai bapak berangkat saya tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak. Apa yang menyebabkan kerusuhan. Siapa yang dianggap perusuh. Saya sendiri tidak tahu apa arti kata berjuang bagi seorang prajurit ABRI. Yang saya tahu pasti ialah bahwa bapak mendapat tugas pergi ke Timor Timur bersama teman temannya. Kedua, hal itu berarti bahwa saya akan lama untuk tidak bertemu dengan bapak. Saya hanya akan memandang foto bapak yang gagah dalam seragam prajurit marinir.

Sebulan bapak tidak terdengar kabar beritanya. Bagi ibu ini hal biasa. Ibu sudah tahu konsekwensi istri prajurit. Dia akan sering ditinggal pergi oleh suaminya. Tapi saya tidak senang bapak pergi terlalu lama. Saya kangen dengan bapak. Saya kangen belaian tangannya yang kasar. Saya kangen digendong belakang. Saya kangen diajak jalan jalan. Saya kangen untuk menunjukan pada teman teman bahwa bapak saya adalah seorang ABRI yang sangat gagah dalam pakaian seragamnya. Saya kangen bapak. Saya yakin ibu juga kangen, tapi tidak ditunjukan pada kami. Saya juga yakin bahwa adik adik kangen pada bapak, tapi mereka tidak bisa mengungkapkan, sebab mereka masih umur 3 th dan 4 bulan. Saya yang sudah besar, sudah klas 3 SD, dapat merasakan rasa kangen itu dan mengungkapkannya.

Hampir menginjak bulan kedua bapak belum juga pulang. Beberapa kali saya tanya ibu, kapan bapak kembali. Ibu selalu mengatakan tidak tahu atau kalau keadaan sudah aman. Kata ibu situasi di Timor Timur sangat berat dan gawat. Beberapa teman bapak tewas di sana. Ada yang pulang tapi mengalami gangguan jiwa. Dia sering teriak teriak pada malam hari dan sangat ketakutan dalam gelap. Padahal dulu dia pemberani. Kalau tidak pasti dia tidak akan jadi prajurit. Tapi kini dia menjadi penakut dan sikapnya aneh. Pernah dia menangkap cicak di rumah kami, langsung dimakan. Tentu saja saya jadi jijik. Kata ibu teman bapak itu mengira bahwa dia masih di Timor Timur. Ada juga teman bapak yang pulang dengan menyandang cacat tubuh. Ada yang kakinya hilang satu ada yang tangannya hilang. Melihat teman bapak itu, saya jadi takut. Jangan jangan bapak pulang nanti menjadi seperti itu. Tapi bapak belum pulang, maka saya hanya bisa berdoa semoga bapak bisa cepat pulang dan tidak berubah. Masih seperti bapak yang dulu.

Menginjak beberapa hari setelah bulan kedua, seorang tentara datang ke rumah kami. Saya tidak tahu apa yang dia ceritakan. Yang saya tahu tiba tiba ibu menjerit dan menangis histeris, sampai beberapa tetangga berusaha menenangkannya. Melihat ibu menangis semua adik juga ikut menangis. Tapi saya tidak, sebab tidak tahu mengapa ibu menangis. Banyak tetangga yang berkumpul di rumah kami sampai tentara itu pergi. Saya melihat ibu beberapa kali pingsan. Jika sadar dia berteriak teriak memanggil nama bapak. Saya mengira ibu bertengkar dengan tetantara itu dan memanggil bapak untuk membelanya. Akhirnya saya bertanya pada ibu apa yang terjadi. Dengan sedih tetangga sebelah menceritakan bahwa bapak saya tewas ditembak. Ya bapak saya tewas dalam berjuang, meski saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan. Bapak juga tidak menjelaskan apa yang diperjuangkan.

Bapak tewas. Saya tidak berani mengatakan bapak gugur. Kata itu hanya untuk para pahlawan dan para tentara yang mempunyai pangkat. Bapak bukan pahlawan. Dia juga bukan perwira. Dia hanya seorang prajurit yang mati ditembak. Saya kehilangan bapak. Padahal saya masih membutuhkan bapak. Apalagi adik adik. Tentu si bungsu tidak akan pernah tahu siapa bapaknya. Dia hanya akan tahu dari sebuah foto di ruang tamu. Saya sedih sekali. Bapak telah ditembak. Saya tidak tahu siapa yang menembak bapak. Saya tidak tahu apakah yang menembak bapak bisa disebut musuh atau bapaklah yang dianggap sebagai musuh. Saya tidak tahu siapa yang benar, siapa yang dibela, siapa yang diperjuangkan. Yang saya tahu dengan pasti ialah bahwa bapak diperintahkan untuk pergi ke Timor Timur dan mati ditembak orang di sana.

Beberapa minggu kemudian peti mati bapak datang. Ibu histeris di depan peti mati. Tapi bapak tetap mati. Sebetulnya saya ingin sekali melihat wajah bapak yang gagah untuk terakhir kalinya. Tapi ada larangan untuk membuka peti mati. Saya tidak kuasa dengan perintah itu. Ibu pun tidak kuasa menolak perintah atasan bapak. Ibu harus percaya bahwa yang ada dalam peti mati itu adalah jenasah bapak. Betapa sedihnya hati saya. Untuk melihat wajah bapak yang terakhir saja tidak bisa. Dengan berderai air mata, saya mengatar bapak ke pemakaman. Dalam pemakaman ada beberapa sambutan yang saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh atasan bapak. Hanya yang saya tahu dia menyerahkan sebuah amplop berisi uang dan sebuah tanda penghargaan. Ganti nyawa bapak adalah uang yang ada dalam amplop dan selembar kertas yang katanya berisi tanda penghargaan atas keberanian bapak dalam membela negara. Saya nangis saat itu. Saya tidak mau nyawa bapak diganti oleh lembaran itu. Saya lebih memilih bapak tidak mendapat tanda jasa dan kenaikan pangkat, dari pada harus kehilangan bapak yang saya cintai.

Ternyata bapak bukanlah satu satunya dan yang terakhir. Masih banyak teman teman bapak yang tewas atau pulang dengan cacat. Mereka pada umumnya adalah prajurit dengan pankat rendah. Saya belum mendengar seorang jendral yang tewas atau pulang dengan cacat tubuh. Tapi hal ini semakin membanggakan saya bahwa bapak jauh lebih berani berjuang dari pada para jendral, sebab buktinya bapak berani tewas ditembak, sedangkan para jendral pulang dengan selamat. Tapi merekalah yang terkenal, sedangkan bapak tetap sebagai kopral anumerta, yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Bapak hanyalah seorang prajurit yang harus taat pada perintah atasan bahkan siap mati demi membela bangsa dan negara.

Sampai kini kesedihan terus berlanjut. Kehilangan bapak dan kemiskinan akibat pensiun bapak yang kecil tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup. Ibu dan saya harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Tapi hal yang sangat menyedihkan saya saat ini ialah bapak dan teman teman dicaci maki sebagai biang kerusuhan saat ini. Bapak menjadi tentara bukan untuk menindas, tapi punya tujuan mulia yaitu mempertahankan negara dan bangsa dari serangan musuh, seperti kakek dulu mempertahankan negara dari serangan Belanda. Saya yakin kalau boleh memilih bapak pasti menolak untuk pergi ke Timor Timur. Dia berangkat kesana karena taat pada perintah atasan. Disana dia pasti pernah menembak dan dia mati terkena tembakan. Oleh siapa? Musuh bangsa? Pejuang bangsa? Saya tidak tahu.

Saat ini banyak orang mengkritik bapak dan teman teman bahwa dia melakukan kekerasan di Timor Timur. Bapak bukan orang yang suka kekerasan. Dia pasti menembak supaya tidak mati ditembak. Tapi toh akhirnya dia ditembak. Pengurbanan nyawa bapak tidak ada gunanya, bahkan saya saat ini malu jika ingin mengatakan bahwa bapak adalah ABRI yang berangkat ke Timor Timur pada tahun 1976. Bukan saya tidak bangga dengan bapak, tapi saya tidak tahan dengan ejekan sebagai anak ABRI yang mendapat nilai jelek sekali dihdapan teman teman. Seolah apa yang dilakukan bapak adalah kesalahan besar, padahal bapak hanya seorang prajurit yang harus taat pada pimpinan.

Di depan kuburan bapak saya hanya bisa mengeluh pada sebuah batu nisan. Saya ingin protes mengapa bapak dulu memilih sebagai tentara, mengapa bukan sebagai pekerja pabrik, kantor, bahkan tukang becak atau pemulung sekalipun. Mengapa bapak memilih menjadi tentara? Mengapa bapak mau dikirim ke Timor Timur? Apakah itu dosa bapak, sehingga banyak orang sekarang sinis pada saya yang mengatakan bahwa bapak adalah salah satu tentara yang dikirim ke Timor Timur pada tahun 1976? Pernah ibu meneguhkan saya, ketika saya digelisahkan oleh persoalan ini. Ibu mengutip dari Injil Yohanes, "Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang melemparkan batu yang pertama pada perempuan itu." Saya hanya berdoa semoga bapak hanyalah sebagai perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Dai harus diadili sedang yang lelaki tidak diadili oleh masa. Bapak dan teman teman harus diadili sedangkan yang berkepentingan tidak diadili. Dan yang mengadili bapak adalah masa yang sebenarnya juga penuh dengan dosa, sering berbuat kekerasan, tidak adil, penindas. Ini meneguhkan saya agar saya tidak melihat nyawa bapak sebagai sebuah kesia siaan.

Tapi bagaimanapun juga salib masih harus kami pikul. Kemiskinan, status kami sebagai anak piatu, kerinduan kami pada bapak yang tidak mungkin dipenuhi dan terlebih nama jelek bapak karena dia adalah tentara. Ya, saya hanyalah anak seorang kopral anumerta. Seorang kopral yang katanya membela nusa dan bangsa sehingga harus menyerahkannya nyawanya.

silakan baca selanjutnya "AKU HANYALAH ANAK KOPRAL ANUMERTA" ...

SEBOTOL MINYAK GORENG

0 komentar

Suatu hari ibu menyuruhku untuk membeli minyak goreng. Aku mengajak adikku untuk pergi ke warung yang tidak seberapa jauh dari rumah. Dalam perjalanan pulang kami berkejaran di pematang sawah. Namun sial, aku terjatuh dan terperosok masuk ke sawah. Akibatnya botol minyak pecah dan minyak tumpah di sawah. Sejenak kami termangu. Kami sudah membayangkan wajah ibu yang akan marah dan ngomel lama sekali. Kami tahu bahwa uang ibu tidak banyak, sehingga setiap pengeluaran sangat diperhitungkan.

Kami duduk tanpa bicara. Ada perasaan takut, sedih, menyesal dalam hati. Kami hampir menangis, bukan karena hanya takut dimarahi, namun menyesal telah memecahkan botol minyak. Kami menyesali tindakan kami yang tidak hati-hati. Kami sedih mengingat bahwa ibu harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli minyak, padahal kami sangat miskin. Namun semua sudah terjadi. Dengan perasaan yang bercampur aduk kami berjalan pulang.

Dengan langkah berat kami menyusuri jalan pulang. Kami tidak bicara sesuatu pun. Semakin mendekati rumah, hati kami semakin takut dan galau. Kami melihat ibu duduk di teras rumah dengan seorang tamu. Semakin dekat dengan teras, kakiku semakin berat. Ingin rasanya menangis. Di teras kulihat ibu tersenyum. Dengan lembut dia tanya mana minyak yang harus kami beli? Sejenak aku hanya bisa tertunduk takut menatap wajah ibu. Dengan suara bergetar aku katakan bahwa minyaknya tumpah di sawah. Aku sempat melirik wajah ibu. Ibu tetap tersenyum. Lalu dengan lembut dia menyodorkan uang dan menyuruhku untuk membeli minyak lagi dengan peringatan agar aku tidak lari-lari lagi di sawah.

Perkataan ibu itu bagiku sebagai suatu berkat. Aku sangat bahagia sekali. Sepertinya ada beban besar yang terlepas dari diriku. Ingin rasanya aku melonjak kegirangan dan memeluk ibu saat itu juga. Aku merasakan kebahagiaan yang tidak terkirakan. Aku yang bersalah dan ketakutan akibat kesalahanku, ternyata tidak dipersoalkan oleh ibu. Meski sedih ibu memberiku uang lagi. Ibu mempercayaiku lagi tanpa kemarahan yang aku bayangkan selama perjalanan ke rumah. Tanpa komando untuk kedua kali aku langsung berlari ke warung lagi dengan penuh suka cita.

Pengalaman ini membuatku bisa merasakan betapa bahagianya si anak bungsu yang diterima lagi oleh bapanya (Luk 15:11-32). Dia tidak hanya diterima bahkan dibuat spesial dengan perhiasan dan pesta. Dia yang telah berdosa dan takut akan bapanya, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi bahkan sebaliknya menjadi suka cita. Aku yakin meski tanpa pesta pun anak itu sudah menjadi bahagia, sebab bapanya menerima dia kembali. Dia pun sudah menetapkan sejak mau berangkat pulang bahwa dia akan menjadi pegawai bapaknya. Dia sadar akan ketidakpantasannya dan akan dosa-dosanya yang seharusnya mendapatkan hukuman. Namun bapanya memberikan jauh lebih besar dari apa yang dia harapkan. Bapanya tidak saja mengatakan bahwa dia mengampuni, namun memberikan hal yang sangat spesial. Kebahagiaan anak bungsu ini menjadi berlipat dan tidak terkatakan.

Salah satu pesan Yesus dalam Injil hari ini adalah aku mewartakan berita tentang pertobatan dan pengamunan dosa (Luk 24:46-53). Kamu adalah saksi akan semua itu. Yesus datang dan mengampuni dosaku. Dosa-dosaku yang tidak terhitung diampuniNya. Aku yang penuh dosa Dia terima tanpa memberikan hukuman. Aku tetap diangkatNya sebagai anak bukan budak atau hamba. Bahkan Dia menjanjikan akan kebahagiaan surgawi. Inilah suka cita yang tidak terperikan. Suka cita bukan karena Tuhan memberikan kelimpahan harta, namun suka cita pengampunan dosa. Aku yang berdosa dan selalu berbuat dosa diampuni dan selalu diampuniNya. Aku selalu diterima dan ditunggu kapan aku akan kembali padanya. Inilah kebahagiaan akan kasih Allah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Aku bersuka cita, sebab aku yang penuh dengan dosa diampuni Allah. Namun mengapa aku sulit untuk mengampuni sesama? Aku tidak ubahnya seperti perumpamaan yang ditulis dalam Mat 18:21-35. Aku seperti hamba yang memohon belas kasih pada Allah untuk melepaskan hutang-hutangku, namun aku tidak mau melepaskan hutang orang yang berhutang padaku. Aku memohon agar Allah mengampuni dosaku, namun aku tidak mau mengampuni dosa sesamaku. Aku ingin mendapatkan suka cita pengampunan, namun aku tidak mau memberikan suka cita itu pada sesama. Aku merasa Allah wajib mengampuniku, namun aku tidak wajib mengampuni sesamaku. Aku bebas menyakiti hati Allah, namun aku tidak boleh disakiti. Bagaimana seandainya aku menjadi Allah yang harus senantiasa mengampuni sedang orang yang aku ampuni tidak mau mengampuni? Aku akan sakit hati sekali bagai raja dalam perumpamaan itu. Maka pantaslah raja itu menghukum hamba itu.

Disinilah butuh kesadaran diri. Kesadaran akan dosa-dosaku yang besar dihadapan Allah, namun Dia tetap mau menerimaku. Kesadaran bahwa aku sebenarnya tidak pantas menerima tubuh Kristus karena dosa-dosaku, namun aku tetap memberanikan diri untuk menerimanya. Dan aku merasa suka cita atas peristiwa ini. Kesadaran pengalaman inilah menjadi titik tolakku untuk mengampuni sesamaku yang dosanya tidak sebesar dosaku pada Allah. Jika aku tidak memiliki pengalaman diampuni Allah, maka aku juga sulit mengampuni, sebab aku tidak pernah merasakan betapa bahagianya diampuni itu. Seandainya aku tidak pernah memiliki pengalaman diampuni ibuku sebab memecahkan botol minyak, maka aku juga tidak pernah merasakan betapa bahagianya pengampunan itu. Seandainya banyak orang mengalami dan menyadari semua ini, maka dunia akan lebih membahagiakan....

silakan baca selanjutnya "SEBOTOL MINYAK GORENG" ...
 
langkah peziarah - Template By Blogger Clicks